Minggu, 23 Juli 2017

Balada Matahari dan Bulan



"Kata mereka, aku adalah bintang. Tapi, kenapa bintang itu ada juga pada siang hari?" Ternyata matahari sedang melamun ketika sedang mengerjakan tugasnya.

"Ya, karena memang sekarang saatnya kamu harus bekerja. Kamu, kan matahari" sahut awan kumulus yang seharian ini terus berdiam diri menemani sang bintang. "beruntunglah kamu. karena aku ada disini. Jadi para mahluk hidup yang ada di bawah kita tidak terlalu merasakan panas." ucap sang awan beberapa saat kemudian.

"Ya, memang. tapi tahukah kamu bahwa kamulah yang menyebabkan para pesawat mengalami turbulensi." Ucap matahari yang mulai tidak suka akan kecongkakan rekan kerjanya itu.


                                                                                    ***

"Kata mereka, aku ini bintang. Bintang itu, kan harusnya berwarna putih bersinar dan ukurannya kecil, tapi kenapa aku bentuknya malah lebih besar daripada kalian dan berwarna kuning?" Tanya sang bulan kepada para bintang yang ada disekitarnya.

"Dan lihatlah lagi. kami ini jumlahnya banyak daripadamu." Ucap bintang. "lagipula, kamu berwarna kuning karena para mahluk hidup yang ada di planet bumi melihat kamu yang berwarna kuning. mungkin akan beda cerita kalau dilihat dari sisi planet lain. merkuri misalnya? yang letaknya paling dekat denganmu."

"Atau coba saja kalau kamu tanyakan ke mahluk yang ada di planet Jupiter. mungkin kamu akan dianggap bintang?" Ucap sang bintang lainnya.

"Benar juga, ya." Lalu bulan, pun berhenti melamun. dan ia pun tersadar bahwa sebenarnya jaraknya tak terlalu dekat dengan para bintang itu.

                                                                    ***

                                             Sebenarnya bulan dan matahari itu sama, 
                                            hanya saja  ia berada di waktu yang berbeda
                                                              

Selasa, 24 Januari 2017

Satu tahun sudah berlalu semenjak terakhir kulihat dia. Wajahnya yang berantakan, wajahnya yang sudah berpura-pura tegar padahal kutahu dia sudah banyak menderita. Sambil menangis perlahan-lahan ia memasangkan wrap hand ke kedua kepalan tanganku. Tetesan air mata yang membasahi kedua kepalan tanganku membuatku semakin membenci mereka, membenci hidupku, membenci semuanya yang dulu pernah berlalu. Dengan sangat geram dan sangat mendalamnya, kutatap para petarung lainnya yang telah menendang, menginjak, juga telah melecehkan gadis yang sangat kucintai ini masih tertawa dengan lantangnya. Gadisku tercinta sudah selesai memasang wrap hand dan kini ia bertopang di lututku sambil menangis sesegukan. Kubelai kepalanya dengan sangat lembut. Bersyukur ia tidak melihat wajahku saat ini.

Akhirnya suara dari pengeras suara itu memanggil kami, para petarung. Satu persatu para pria bertelanjang dada yang sedari tadi satu ruangan denganku keluar melalui sebuah lorong yang mengantarkan kami ke arena pertarungan. Suara hingar bingar para penonton dari arena itu semakin kencang dan para petarung pun terlihat semakin angkuh, membayangkan bahwa dirinya akan menjadi juara di malam ini dan para penonton pun semakin mengeluk-elukan dirinya. Hanya diriku seorang petarung yang masih berada di ruang kosong, remang, dan sangat tercium suasana kekerasan dan ketakutannya. Sang gadis pergi meninggalkanku sendiri entah kemana, dan diriku telah melangkah menuju arena tersebut.

Arena kandang yang telah diisi oleh para petarung termasuk diriku akan menjadi saksi bisu tentang perjuanganku untuk memberikan kebebasan sang gadis dari perbudakan. Apabila aku menang dari mereka, walaupun harus sampai mati setelah pertarungan akhir ini, maka gadis itu akan terbebas dari perbudakannya dari dunia yang laknat ini. Itu adalah hadiah yang kuminta. Babak ini adalah eliminasi, dan siapapun yang kalah, ia harus mati. Wajar saja, ini adalah pertarungan ilegal, dan manusia senang melihat darah. Pertarungan pun berjalan dengan penuh darah.

***
Tiga tahun telah berlalu semenjak pertarungan mengerikan itu. Ya, akulah pemenangnya dan harusnya gadis itu telah terbebas. Namun, aku sama sekali tidak berhasil menemukan dimanakah dirinya sekarang ini. Bagaimana kah kabarnya, tinggal dimana, apa kesibukannya, atau apapun itu mengenai dirinya. Namun, aku tak tahu mengapa, walau tak pasti, ia pasti masih hidup. Walaupun kini kehidupaku sudah sangat mapan, dan banyak wanita yang sangat menginginkanku, namun aku masih melajang karena sangat mengharapkan supaya sang gadis yang sudah kucintai saat SMA itu dapat bertemu denganku dan hidup bahagia bersama selamanya.

Namun, malam itu, sebuah artikel di laman website telah mengatakan bahwa beberapa orang pecinta alam telah menemukan tulang kerangka manusia berpakaian lusuh ketika sedang menjelajahi sebuah hutan. Hutan itu terletak tak jauh dari arena pertarungan, usia kerangka itu adalah tiga tahun semenjak pertarungan tersebut, dan pakaian lusuh itu adalah yang terakhir kulihat melekat di tubuh gadisku, tiga tahun yang lalu. Lalu sambil menangis aku tertidur, berharap di mimpi aku masih dapat melihat dirinya, hanya untuk mengucapkan salam perpisahan. 

Rabu, 24 Agustus 2016

Tapak Suci. Salah Satu Keindahan Dari Jogjakarta


Tapak Suci Putera Muhammadiyah atau yang biasa disingkat dan kita tahu bernama Tapak Suci adalah salah satu jenis beladiri pencak silat yang berasal dari kota berbudaya yang bernama Jogjakarta. berawal dari suatu acara besar yang diadakan dari Tantungan Project yang bernama Pencak 4 Jam yang saat itu diadakan pada sabtu sore di Malioboro, lagi-lagi aku mendapatkan kesempatan untuk menikmati atraksi dari beberapa aliran pencak silat yang tersebar di nusantara dan beberapa aliran beladiri yang berasal dari luar Indonesia. dan salah satu aliran pencak silat yang ditampilkan saat itu adalah Tapak Suci. Saat itu, aku memang sengaja untuk memutuskan pergi kesana dari Ciledug bersama kedua temanku yang salah satunya adalah teman gerejaku. Ya, memang. Kami saat itu begitu berniat untuk pergi dan menyaksikan acara tersebut untuk menambah wawasan mengenai dunia beladiri walaupun kami bertiga rela untuk menghabiskan waktu lebih dari stengah hari untuk berdiam di dalam bus yang saat itu sedang mengantarkan kita menuju Jogjakarta dan menurunkan kami di Stasiun Jombor pada pukul 5 pagi (saat itu aku benar-benar tidak bisa tidur di dalam bus).
akhirnya saat istirahat itu tiba. Setelah aku dan kedua temanku selesai menikmati angkringan yang telah disediakan oleh pihak penyelenggara, berkat dukungan dari kedua temanku, akhirnya aku memberanikan diri untuk mewawancara beberapa gadis beladiri Pencak Silat Tapak Suci yang saat itu  juga sedang beristirahat setelah tampil di atas panggung. Mereka bertiga bernama Azura, Isna, dan Yunir. Dan dari mereka bertiga akhirnya wawasanku tentang Pencak Silat Tapak Suci semakin bertambah.

Tapak Suci didirikan pada tanggal 1 Juli oleh seorang pendekar yang bernama Barrie Irsyad yang datang dari Banjarnegara. Ia membentuk perguruan Tapak Suci dari 3 perguruan besar dari Kauman yaitu perguran Cikauman, Seranoman, dan Kasegu. Kauman adalah nama salah satu kampung yang terletak di pusat Kota Jogjakarta tepatnya terletak di belakang Masjid Agung.
Pencak silat yang seragamnya berwarna merah ini menamakan teknik dan gerakan-gerakan jurusnya dengan nama-nama yang mudah diingat seperti Gerakan Mawar karena bentuknya menyerupai mawar ketika sedang menangkis dan Sambaran Naga ketika menyerang ke depan. Karena pada jaman itu, mereka memang menamakan gerakan-gerakan tersebut karena pada saat berperang, mereka tidak mungkin harus mengingat nama-nama gerakan yang sulit untuk diingat. Jadi, mereka menamakan gerakan-gerakan tersebut berdasarkan apa yang mudah diingat dan yang mudah dilihat.
Beladiri ini adalah otonom dari Muhammadiyah. Dan memang mereka menggunakan rumpun Muhammadiyah karena memang perguruan pencak silat itu berdiri sendiri. Walaupun kini jaman sudah jauh lebih modern dan sudah pasti berbeda dari waktu lahirnya Pencak silat Tapak Suci, mereka masih menggunakan dasar yang sama tetapi cara pengaplikasiannya lebih disesuaikan dengan kehidupan masyarakat luas sehingga masyarakat modern pun bisa menangkap maksud dari beladiri ini.
Kini Tapak Suci sudah terkenal sampai kalangan internasional seperti Austria, Jerman, dan Mesir. Dan Mereka berharap supaya Tapak Suci dan semua aliran pencak silat di Indonesia ini tetap dilestarikan karena Tapak Suci pun adalah salah satu aliran pencak silat dan pencak silat itu berasal dari Indonesia, jadi mereka dan aku pun berharap supaya pencak silat ini tetap dipertahankan dan dikembangkan.

Tapak suci berasal dari kota yang kaya budaya yang bernama Jogjakarta, dan aku hanyalah salah satu orang biasa yang sangat menyukai seni dan budaya sehingga dengan menggunkan Lion Air aku ingin sekali untuk mengunjungi kota itu lagi untuk sekali lagi menikmati keindahan seni dan budayanya. apalagi karena letak Bandara Adi Sucipto yang bisa diakses dengan menggunakan Trans Jogja apalagi kalau Airpaz.com selalu menyediakan  tiket pesawat murah. apalagi kalau ternyata aku mendapatkan tiket itu gratis dari Airpaz.com. 

Selasa, 21 Juni 2016

Dua Sisi

Tiang pancung berdiri kokoh di atas tebing batu. sinar tajam pisaunya memantulkan cahaya yang telah terpantulkan oleh sinar matahari yang berdiri tepat di atasnya. tali tebal yang telah menahannya siap untuk dipotong dan langsung memotong apapun yang ertengger di atas bukit itu dan dibawahnya si pisau tajam yang sangat besar dan terlihat berat menggantung di atas kayu sangat tinggi dan berat. Sedangkan, di sebelah benda kayu itu, terdapat sebilah kapak besar tergeletak begitu saja.

Aku tak mau mati. sungguh.
lewat jendela kecil di dalam penjara yang kumuh ini, masih kulihat si papan pancung itu berdiri kokoh. aku masih ingin terus hidup, namun tubhku sudah tak tahan lagi. tubuhku sudah rusak karena pertarungan bertubi-tubi yang harus kulakukan hanya demi terus dapat melihat dia. dia yang sudah lampau kusia-siakan karena kesibukanku supaya dapat menghadapi mereka yang memburuku tanpa harus kehilangan dia ternyata berakibat seperti ini.

hanya tinggal beberapa saat, sebelum para penjaga dan algojo datang ke ruangan ini, membawakan permintaan terakhirku, lalu mengeksekusiku untuk terakhir kalinya di bawah tiang pancung.

***
Tiang letaknya sangat kecil, begitu yang kulihat dari kejauhan. mungil seperti pajangan kecil, tapi itulah benda mematikannya. sepertinya siang ini sangat terik sehingga pisau pancungnya trlihat begitu mengkilap di atas benda kayu yang kecil itu. 

Hari ini ada satu orang yang akan dieksekusi dengan menggunakan benda itu. Seorang pria yang telah lama tak mau bersamaku dan memilih mereka yang jahanam yang membuat hidupku sengsara. hingga pada bebeapa saat kemudian akhirnya dia kembali melihatku namun aku sudah tidak mau tinggal di dunia itu. 

Bukan hanya sekali ia membujukku supaya aku mau pulang bersamanya. akus udah berkali-kali mengusirnya supaya dia tidak kenapa-kenapa. Toh, dia sudah bukan milikku lagi. aku sudah menjual dia, demi keselamatanku dan teman-temanku yang pada akhirnya mereka juga menjauhiku.

Tapi kenapa dia kembali? bukan tanpa pengorbanan dan perjuangan, sudah tak terhitung berapa banyak musuh yang harus dihadapinya yang memang kuutus untuk mengakhiri hidupnya. setidaknya membuat dia pergi meninggalkan tempat ini. Tapi dia begitu kuat dan sampai sekarang dia masih hidup dengan keadaanya yang begitu tragis.

Kutinggalkan jendela kamarku setelah sedari tadi melamun memandangi tiang pancung yang tetap berdiri kokoh.

***

Pesananku datang. mereka telah membawakanku selembar kertas dan bolpoin, serta sebuah coklat. dengan sekuat tenaga dan tetap berusaha menahan rasa sakit yang amat sangat aku menghampiri sebuah meja dimana mereka meletakkan benda-benda itu. lalu dengan sangat perlahan aku duduk di bangku tersebut. 

aku ingat coklat ini. coklat murahan yang adalah makanan terakhir yang ia berikan padaku sebelum aku benar-benar mengacuhkannya. rasanya tidka begitu enak, namun coklat itu membuatku terus bertahan. aku benar-benar tidak mau mati.

Aku menuliskan sesuatu, berharap nanti dia datang dan membacanya. semakin kusantap coklat itu, aku semakin bertekad untuk bertahan hidup dan menghindari tiang pancung itu.

Dan entah mengapa aku mempunyai tenaga dan akhirnya membunuh para penjaga dan algojo itu. lalu bersembunyi di salahs atu ruangan tersebut.

Aku telah bebas, saatnya aku menculik dia untuk kembali ke rumahnya yang sesungguhnya. dan membuat keadaannya jauh lebih baik.

***
Acara eksekusi itu harusnya sudah selesai. mungkin para pelayan sudah membuang jasadnya. 
Lalu aku mendatangi penjara tempat ia ditahan. namun ada sesuatu yang aneh dari meja di dalam ruangan itu. sebuah bungkus coklat yang isinya telah dimakan, selembar kertas, dan sebuah pena.

Itu bukan bungkus coklat biasa. itu adalah coklat terakhir sebelum akhirnya dia mengacuhkanku. dan beberapa kalimat dalam kertas itu membuatku menangis.

Aku tidak berubah
masih sama seperti yang dulu
masih mencintaimu seperti dulu
kembalilah pulang
aku yang terus mencintaimu 
akan tetap berusaha membuat segalanya menjadi lebih baik

Tapi dia telah berubah. aku sangat benci dia. harusnya dia mati saja.
Air mataku meleleh, lututku melemas dan akhirnya terjatuh ke bawah. air mata terus mengalir. aku tahu, pasti dia masih hidup.

***
Saat itu harapanku untuk hidup sudah tidak ada lagi. Ia yang adalah alasanku untuk tetap bertahan ternyata sangat menginginkanku untuk mati. Ia yang begitu meraung-raung, tubuhnya yang jatuh bertelut di bawah tanah itu telah membuatnya kotor.
Tapi bukan bajunya yang membuatku menangis.
Tapi dia yang begitu menginginkanku untuk menjadi korban eksekusi itu.

Tiang pancung masih berdiri dengan kokoh disana
sedangkan aku yang tidak ingin jauh darinya tidak berani untuk memandangnya, jadi aku hanya bisa menangis di persembunyianku.

Selasa, 13 Oktober 2015

Siluet cahaya masuk ke dalam kamar yang remang-remang. Aku terbangun di pagi hari yang anehnya bahkan semangat pun tak menyambutku. Mimpi semalam masih sama seperti malam-malam yang lalu. Apakah mungkin malam ini bunga tidur tetap melantunkan nyanyian yang sama?
Kupalangkan kepalaku ke samping. di sebelah tempat tidurku terdapat sebuah foto seorang gadis yang terbingkai manis. senyum lebarnya tertampang jelas disana. Wajah yang terdapoat di bingkai itu, selalu menjadi tokoh sentral di bunga tiduirku akhir-akhir ini. bukan, tetapi seminggu setelah kehadirannya sudah tak disekitarku. aku segera beranjak duduk di samping tempat tidurku dan memandangnya.
"Kenapa?"
Jujur saja. aku tak tahu dia ada dimana sekarang. semenjak kejadian itu ia sudah tidak memunculkan batang hidungnya di hadapanku. ia... seolah-olah menghilang dimakan bumi. namun anehnya, semenjak kepergiannya itu, hal-hal mistis itu selalu menghiasi kamarku. Awalnya. Aku, sebagai seorang pria yang berfikir logis tidak percaya sedikitpun akan dunia mistis atau spuranatural atau apapun itu. namun, semakin kutangkis semua hal yang tak masuk akal itu, hal-hal itu semakin nyata terlihat di mataku sehingga kepercayaanku itu semakin memudar.
***
Si gadis. aku tak tahu nama aslinya maupun nama panggilannya. Dia mengumpat-umpat mencari kesempatan untuk memandangku. aku yang sellau dikelilingi oleh orang-orang yang menyukaiku. Anehnya, justru gadis yang seperti itu yang aku sukai. Ia tidak agresif, penyayang, dan kalem. 
Namun sayangnya, sepandai-pandainya tupai melopmpat, pasti ia terjatuh pula. Orang-orang mulai curiga padanya hingga menganggap gadis itu adalah seorang penguntit membuatnya semakin jauh daripadaku. namun, bukan hanya itu. ternyata kecurigaan, kebencian dan mungkin rasa mereka yang terlalu melindungi idola mereka yang terlalu tinggi hingga pada saat itu membuat si gadis menghilang.
Aku tak tahu apa yang telah mereka perbuat. Yang kulihat terakhir kali saat itu hanyalah senyum akhirnya yang terus terbayang sampai sekarang. seolah-olah gadis itu mengatakan "selamat tinggal".
***
Foto yang sedari tadi kupegang kini kuletakkan kembali ke tempatnya yang semula. ketika kulayangkan pandanganku dari foto tersebut, terdengar suara sesuatu yang jatuh dan terpecah. ternyata yang jautuh itu adalah bingkai foto Si Gadis. Cukup sudah semua bukti yang kulihat. 
"Siapapun kamu, tunjukkan wujudmu!" Lalu sebuah hantu menunjukkan wujudnya. wujudnya sama seperti yang di foto -- Si Gadis.
Aku tak mau kehilangan dia. Dengan cepat aku menutup semua celah ke luar sehingga ia tidak dapat keluar dari ruanganku. Ia marah dan mulai memasuki tubuhku. Dan ia berusaha menghancurkan tubuhku.
Setelah puas, ia kini keluar dari tubuhku. Tubuhku penuh darah namun aku tidak marah. 
"Apa yang telah mereka perbuat?" Ia tidak berkata, namun ia menulis sesuatu di tembok.
Aku ingin bebas
"Tak akan kubebaskan. tidakkah kamu menyadari betapa aku merindukanmu? kamu telah membuatku seperti ini"
Mengapa?
"Aku ingin selamanya bersamamu"
Kita ini berbeda. aku ada selamanya sedangkan kamu adalah manusia yang tua dan akhirnya berkeluarga. Tua. banyak yang akan menangisimu ketika pergi.
"Aku tak mau bersamanya. aku sungguh-sungguh ingin bersamamu. beritahukan aku bagaimana caranya untuk bisa selamanya bersamamu"
Gadis itu berpaling dari tembok dan dengan cepat ia merasukiku lagi. Aku keluar dari tubuhku dan menyaksikan sendiri bagaimana gadis itu membuka jendela, membawa tubuhku melompat dari jendela di lantai 12. Tubuhku hancur dan tak mungkin diselamatkan. 

Kamis, 16 Oktober 2014

Nenek di sebuah gubuk

"Dasar Kerbau! ayo cepat diangkut barang itu sebelum mereka berhasil menangkap kita!" Maki bapak-bapak yang terus mengomandoi kumpulan orang-orang yang sedang mengangkut beberapa barang curiannya sambil menendang-nendang pundak salah seorang anak buahnya. Masa itu semakin mendekat. Dengan beberapa obor yang beberapa dari mereka pegang, mereka menjadi begitu bercahaya dan lebih menyeramkan. Mungkin karena beberapa senjata tajam yang terlihat berkarat. Seorang komando yang daritadi terus berteriak itu kelihatan semakin panik dan akhirnya dirinya pun juga membantu anak-anak buahnya.
"Akhirnya terangkut semua. ayo kita segera pergi!" Perintah bapak-bapak itu dan mereka pun akhirnya dengan sekuat tenaga mendorong gerobak itu. selagi beberapa langkah kemudian mereka berhasil menghilang dari pandangan orang-orang yang mengejar mereka.
"Sial! aku tidak kuat lagi!" ucap salah seorang anak buah yang badannya lebih kecil dibanding yang lainnya.
"Dasar pemalas! untuk yang beratnya segini ringan saja kamu tak sanggup? percuma aku membayar mahal untukmu!" Maki bapak-bapak itu lagi.
"Hah! dasar orang tua! kamu hanya mau membayar 10% dari semua barang-barang jarahan ini kepada kami saja gayamu sok berkuasa! asal bapak tahu saja. Kami bisa mencari seorang bos yang mau berbagi lebih kepada kami. Mulai saat ini kami tak mau bekerja sama dengan bapak lagi!" ucap anak buah yang lainnya. Lalu mereka mengambil barang-barang hasil curian itu sesuka hati mereka dan menginggalkan bapak-bapak tua itu sendirian dengan beberapa bagian yang masih tersisa dengan gerobaknya. Bapak-bapak itu masih bersikeras dapat mengangkut barang-barang itu sendirian. Namun ternyata benar apa kata mereka; gerobak bawaan ini terlalu berat karena isinya. karena keserakahannya sendiri. "Sial! aku tidak mau sendirian menjadi korban amukan mereka. Aku harus mencari cara!" untung bagi bapak itu ketika ia melihatku yang sedang berjalan sendirian di jalan itu karena sepulang bekerja dari toserba yang letaknya tak jauh dari sana.
"Hei kamu yang disana!" seru bapak itu kepadaku "Ya! aku mau berbagi sesuatu kepadamu. Kujamin kamu tak akan meyesal" lalu, aku yang saat itu belum mengerti apa yang terjadi segera menurut dan datang kepadanya. Aku sama sekali tidak curiga dengan apa yang ada di dalam gerobak yang berada di dekatnya itu. Lagipula tawarannya cukup menarik.
"Memangnya apa yang ingin bapak bagikan kepadaku?" setibaku disana
"Kamu lihat apa yang ada di dalam geobak itu? kulihat hidupmu cukup sulit, jadi aku ingin berbagi apa yang ada di dalam gerobak ini, tentu setelah aku mengambil beberapa bagianku. Sisanya terserah padamu"
" Tapi, pak? aku tidak mengerti. apakah ini barang curian?" tanyaku curiga setelah kulihat berbagai macam barang mewah yang tergeletak begitu saja di dalam gerobak itu. Bapak-bapak itu segera mengambil beberapa barang dari gerobak itu.
"Tenang saja, ini bukan barang curian" lalu bapak-bapak itu pun berlari dan pergi menjauhiku dan sosoknya yang semakin lama semakin mengecil akhirnya hilang ditelan gelapnya malam. Aku yang masih kebingunan dan sama sekali tak tahu apa yang saat itu tengah terjadi akhirnya hanya dapat melihat isi di dalam gerobak itu.
Selang beberapa saat kemudian terdapat sebuah sinar api yang semakin lama semakin besar menghampiriku. Ketika cahaya itu mendekat dan menyinari siapakah pemilik api itu, ternyata mereka adalah segerombol orang yang penuh emosi dan memburu  berlari mendatangiku. wajah mereka begitu bringas dengan berbagai senjata tajam dan obor yang menemani mereka.
"Itu dia malingnya!" seru salah seorang yang berdiri paling depan sambil memegangi obor. mungkin dialah pemimpin gerombolan itu.
"Dasar tidak tahu diuntung! sudah bagus diberi pekerjan oleh Pak Haji pemilik toserba itu, tak tahunya ia masih mau memalingi tetangganya!?" Seru yang lainnya. Baru kusadari bahwa benar perasaanku bahwa bapak-bapak itu tadi adalah seorang pencuri. Wajahku semakin lama semakin pucat dengan seiring mendekatnya mereka kepadaku.
"Iya benar! dia pencurinya. lihat barang-barang yang berada di gerobak ini. ini semua barang-barang curiannya!" seru salah seorang yang lainnya setelah ia melihat isi gerobak yang berada disebelahku. Beberapa dari mereka kemudian melihat gerobak itu untuk membuktikannya. Dan dengan raut wajah mereka membuktikan bahwa benar bahwa barang-barang itu adalah hasil curian.
"Tunggu dulu. aku benar-benar tidak tahu apa-apa!" ucapku membela diri. namun mereka semua tidak mau tahu dan akhirnya mengeroyokiku dengan membabi buta "Ayo kita bawa dia ke kantor polisi! biar dia tahu apa akibatnya kalau mencoba mencuri di desa kami" ahirnya mereka pun berbondong-bondong mengiringiku yang sudah babak belur ini ke kantor polisi. Sumpah serapah tak berhenti mereka ucapkan selagi di dalam perjalanan.
"Pak! dia telah mencuri barang-barang berharga di kampung kami! mohon dihukum seberat-beratnya dan setimpal-timpalnya" ucap salah seorang gerombolan itu sesampainya kami di kantor polisi terdekat. Lalu mereka pun pergi meninggalkanku yang diintrogasi oleh polisi dengan cara yang sangat kasar.

***

Beberapa bulan setelah kejadian penangkapan itu. Polisi sudah membuktikan bahwa memang sesungguhnya aku tidak bersalah. dan betapa mengejutkan bahwa bapak-bapak di malam itu menyerehkan gerobak itu sehingga mengantarkanku ke tahanan ini adalah seorang saudagar kaya di kampung kami yang kata orang adalah seorang pengusaha sukses. Beberapa anak buah yang membantunya di malam itu pun juga sudah tertangkap semua dan aku dibebaskan dari tuduhan ini dan dibiarkan bebas meninggalkan penjara.
Walaupun memang aku tidak berasalah, namun bukan berarati aku terbebas dari tatapan sinis mereka, orang-orang kampung itu. Namun aku tidak peduli. aku tetap berjalan menuju rumahku yang berada di sudut kampung itu.
Rumah reyot yang sepertinya sudah lama tidak diurus. Bukan salah mereka yang tidak tahu apa-apa yang telah terjadi. bukan salah nenekku pula yang sudah sangat renta bahkan untuk membantuku membereskan rumah saja dia takkan sanggup. Pintu rumah itu berdenyit ketika kubuka. Dan ketika kumasuki rumah itu sebuah suara seorang nenek-nenek memanggilku.
"Cah bagus, kamu sudah pulang?"
"Ya, nek. aku sudah pulang. nenek ada dimana? aku membawa sedikit makanan untuk kita"
"Nenek ada di kamar. Segeralah kemari. Nenek rindu sama kamu"
"Ya, nek. Aku segera kesana" setibanya disana, kulihat dia sedang terbaring lemah di atas sebuah tempat tidur berbahan kapuk. Tubuhnya semakin mengurus sehingga denyut jantungnya pun terlihat jelas olehku. wajahnya pucat dan kerputnya semakin menjadi.
"Nenek sakit? nenek sudah minum obat?" tanyaku setelah aku menghampiri tempat tidur nenek. Nenek hanya menggeleng lemah "Kenapa nenek belum minum obat? nenek kan lagi sakit" tanyaku prihatin.
"Cah bagus, nenek hanya keletihan, mungkin setelah nenek tertidur nenek akan sembuh. cah bagus tak usah kuatir"
"Tapi benar, ya. Nenek harus sembuh. Semenjak ayah ibuku meninggal dan kakak-kakak sudah pergi meninggalkan kampung ini dan merantau ke jakarta, hanya nenek yang kupunya"
"Iya, cah bagus. nenek pasti sembuh"
"Nah, sekarang nek, nenek harus makan yang banyak biar cepat sembuh" setelah itu aku bergegas ke dapur untuk mengambil peralatan makan dan segelas air. Setelah menghidangkan makanan, aku menyuapinya makan dan dia segera tidur.
***
Nenek bohong padaku! katanya dia akan cepat sembuh、 tapi mengapa penyakitnya menjadi semakin parah? bahkan untuk berdiri dan pergi ke ruang makan hanya untuk sekedar makan saja tak sanggup. Aku tidak boleh begini terus. Aku harus segera mencari pekerjaan untuk biaya berobat nenekku. tak bisa ditunda lagi.
Tanpa membuang waktu lagi aku segera meninggalkan nenek di rumah ini sendirian. Aku kembali melamar kerja di toserba milik pak haji itu namun beliau tak mau menerimaku karna predikatku sebagai bekas tahanan. Namun tak mungkin beliau langsung menolak permohonanku begitu saja. Pasti warga itu yang telah menghasutnya. Mereka memang keji! padahal mereka tidak tahu apa yang telah mereka perbuat.
Aku tak boleh menyerah dengan keadaan. Pasti masih banyak lapangan pekerjaan yang lainnya yang masih membutuhkan tenagaku. Walaupun kutahu dari begitu banyaknya lapangan kerja itu, pasti sedikit yang mau menerimaku. aku tak boleh menyerah! aku pasti bisa.
sayangnya memang tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Jangankan pekerjaan. Bahkan warga di kampungku ini tak ada yang mau meminjamkan uangnya kepadaku. Padahal kalau mereka memang tahu mengapa aku melakukan semua ini, mungkin hati mereka akan sedikit tergerak untuk membantuku. Keadaan nenek semakin parah. Dan aku semakin keras untuk mencari sebuah pekerjaan yang halal. Nenek pernah berpesan kepadaku; walaupun dunia ini memang kejam kepada kita, sebisa mungkin jangan melakukan kejahatan kepada sesama kita. karna kita tidak tahu apa masalah mereka.
akhirnya selama seminggu ini berjuang keras, akhirnya kudapatkan pekerjaan itu. Aku langsung bekerja di saat itu juga dan meminta sedikit gaji dari mandor pertambangan itu untuk makan dan berobat nenek. Aku beruntung mempunyai mandor yang baik hati seperti itu dan segera setelah membeli makanan yang layak makan dan membeli sedikit obat untuk nenek aku pulang kerumah.
***
sesampainya di rumah yang reot itu, entah mengapa tak kudengar suara nenek yang biasanya langsung tahu kalau aku telah sampai di rumah melalui derat pintu ini. Dan biasanya beliau langsung menyambutku dengan panggilan cah bagus. Namun mengapa suara itu tak ada? apakah warga sekitar yang memang sudah mengetahui keadaan nenek langsung membawa nenek untuk berobat ke puskesmas?
aku langsung mencari setiap sudut rumah kalau-kalau ternayata nenek masih ada di rumah ini. Dan ternyata dugaanku benar. Nenek masih tertidur di kamarnya dengan nyenyak. Nafasnya tidak ada dan jantungnya tidak berdetak. Namun aku masih berpikir positif kalau mungkin nenek memang sedang tertidur pulas. Langsung kusiapkan makan untuknya lalu membangunkan beliau untuk makan sebentar lalu minum obat setelah itu tidur kembali. 
setelah selesai menyiapkan makan. Aku langsung menggoyang-goyangkan tubuh nenek.
"Nek, ayo bangun. makan dulu”panggilku ambil menggoyang-goyangkan tubuh nenek yang sangat lemas dan ringan namun entah mengapa nenek sama sekali tidak bergeming. "Nek! ayo bangun, Nek. Nenek jangan bercanda!" aku semakin keras menggoyang-goyangkan tubuhnya. firasatku semakin memburuk karena nenek sama sekali tidak bergeming. Sekeras apapun usahaku untuk membangunkan nenek tetap saja tak ada hasil. Aku putus asa. mungkin nenek sudah tak ada. 
***
Hari ini, setelah seminggu aku bersikeras untuk tidak menguburkan jasad nenek, aku masih ingin tetap bersamanya. Hari ini sudah kuputuskan untuk menguburkan jasadnya supaya arwahnya bisa tenang.
Hari ini, sore ini di belakang pekarangan ruamhku, aku menguburkannya secara layak. hanya diriku dan beberapa tumbuhan liar serta matahari temaram, yang menyaksikan acara pelepasan ini. Sekarang aku tak punya apa-apa. mungkin sudah saatnya aku berjalan tanpa tujuan dan hanya menanti ajal

Kamis, 03 Juli 2014

Kancing seragam

     Suasana lorong itu masih sepi setelah beberapa menit ditinggal pergi oleh para siswanya. Cahaya matahari sore yang tersinar itu terpampang jelas di balik sebuah jendela besar dan akhirnya sinarnya menyinari kumpulan loker itu. suasana lorong itu sepi sampai-sampai yang terdengar hanya suara kumpulan burung yang kebetulan terbang melintasi bagian luar lorong itu.
     Perlahan-lahan sorang siswa datang menghampiri kumpulan loker itu. Matanya terus mengendap-endap kalau-kalau ia terpergok oleh seseorang yang tidak sengaja melihatnya. Ketika ia sampai di sebuah loker yang ditujunya, matanya masih terus mengendap-endap. Masih sama, tak ada seorangpun yang ada kecuali dirinya dan tak ada suara manusia sedikitpun kecuali suara dirinya. Dengan cepat ia mengeluarkan sebuah kunci kecil untuk membuka loker itu setelah itu ia memasukkan sebuah kotak kecil yang sedari tadi ia simpan di sakunya.
     "Tenang saja, kamu tidak akan menyadari bahwa kuncimu sempat kupinjam" gumamnya. Setelah ia menyelesaikan pekerjaannya dan mengantungi kunci kecil itu. Segera ia meninggalkan tempat itu dengan senyum yang sangat lebar.

 ***
     "Hei, kamu tahu Nino? si siwa populer itu. Aku mau kamu mencari tahu siapa saja siswi-siswi beruntung itu yang mendapatkan kancing seragamnya" perintah Nina kepada Nani.
     "Tapi buat apa? Memangnya kamu juga sama seperti mereka yang mengharapkan kancing itu? Itu, kan hanya benda mati..." ucap Nani
     "Itu lebih dari sekedar benda mati! haduh! kamu ini bagaimana, sih? Memangnya kamu gak tau apa mitos tentang si kancing itu? Makanya jangan kebanyakan baca buku-buku fiksi yang gak mutu gitu. Lihat, kan jadinya gimana? Sekarang cepat ikuti dia!"
     "Tapi nanti kalau ketahuan, gimana?"
     "Aku gak mau tahu! pokoknya ikutin dia dan kalau sampai kepergok jangan bawa-bawa nama aku"
     "Tapi kan..."
    "Cepat sebelum kotak pensil ini melayang!" lalu Nani pun segera menuruti perintah Nina.

***
Keadaan luar kelas begitu ramai. Mereka semua begitu antusias merayakan hari terakhirnya di dalam sekolah ini. Sebagian besar siswi berusaha mendapatkan kancing seragam dari siswa-siswa yang telah lama ditaksirnya. Nani yang  seumur hidupnya belum pernah merasakan jatuh cinta sampai kini masih belum mengerti untuk apa mereka semua melakukan hal seperti itu. Lagipula, kalaupun ia sedang merasakan jatuh cinta, memangnya ada yang peduli?
     Nani berjalan-jalan menyisiri setiap sudut sekolah. Kepalanya tidak mau berhenti melihat-lihat sekelilingnya untuk mencari sosok yang ditugaskan Nina. Sampai pada akhirnya ia melihat kerumunan siswi yang sangat banyak. Nani yang penasaran dengan apa yang menjadi objek kerumunan itu segera berbaur dengan mereka. Dan akhirnya ia menemukan objek pengawasannya.
     Sosok pria itu tinggi dan berisi dan juga berbentuk. Rambut pendeknya yang hitam berkilau, wajahnya yang sangat maskulin dengan rahangnya yang tegas dan warna kulitnya yang sawo matang itu membuat hampir semua siswi di sekolah ini tergila-gila padanya.
     "Berikan aku kancing seragammu, Nino" pinta seorang siswi yang berdiri di samping Nani dan disambut dengan suara siswi yang lainnya yang ada di dalam kerumunan itu. Nani tetap fokus untuk tidak kehilangan pandangannya terhadap Nino di dalam keadaan sesak seperti itu, dan ia melihat pria itu memutuskan salah satu kancing seragamnya dan memberikannya kepada salah seorang siswi yang berada tepat didepannya. Keadaan kerumunan itu makin menyesakkan karena mereka semakin agresif.
     "Fuah! akhirnya aku keluar juga dari kerumunan itu! dasar para gadis.... mengerikan sekali!" omel Nani sambil mengumpulkan nafasnya sebentar. Ketika ia sadar, ia kehilangan Nino dari pandangannya "Aduh! kemana dia?" dengan langkah cepat ia mencari sosok itu dan beberapa langkah kemudian ia menemukannya. Sambil terus mengawasi Nino, Nani mulai berfikir kali ini ia sedang memberikan kancing ketiga miliknya kepada gadis beruntung yang lainnya. Dua kancing yang diberikannya sejauh ini hanya kepada gadis-gadis idola. Mungkinkah ia juga sama seperti para siswa lainnya? Kira-kira Nina juga termasuk siswi popluler, tidak, ya? dan juga, kemanakah hilangnya kancing keduanya?
     Ternyata dugaan Nani mengenai gadis yang beruntung itu salah. Tidak semua gadis idola yang mendapatkan kancing itu. Buktinya siswi-siswi yang kurang populer juga beruntung mendapatkan kancing itu. Tapi dari keempat kancing itu tidak ada yang diberikan kepada Nina. Kepalanya tertunduk dan langkahnya pelan menuju tempat pertemuannya dengan Nina. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
      "Nino!" kejut Nani. Nino segera berdiri di depan Nani.
     "Kaget, ya? hahaha. Memangnya tidak capek, apa ngikutin aku terus? seperti tidak ada kerjaan lain saja"
     "Aku disuruh Nina. Oh iya, kamu kenapa tidak memberikan kancing seragammu kepadanya? Dan juga, kancing seragammu yang kedua itu kamu berikan ke siapa?"
     "Memanganya untuk apa aku memberikan kancingku kepadanya? Aku tidak suka padanya.  Dan kancing kedua itu, nanti kamu juga akan tahu siapa siswi itu. Bukan siswi itu yang beruntung mendapatkan kancing kedua milikku. Tapi, aku yang beruntung" lalu Nino pergi meninggalkan Nani yang keadaannya masih bingung. Nani yang tersadar dari lamunannya segera melanjutkan perjalanannya ke tempat pertemuan.

***
     "Kancingnya sudah habis" lapor Nani sesampainya di tempat pertemuan
     "Dan aku tidak mendapatkan kancing itu? Menyebalkan!" dan Nina pun terus menggerutu. Setelah berjalan mondar-mandir beberapa putaran, ia melihat Nani yang terus duduk memperhatikannya "kamu mendapatkan kancingnya?"
     "Tidak" jawab Nani polos
     "Siapa saja siswi yang beruntung itu" tanya Nina
     "Rani, Rina, Ina dan Ani" jawab Nani.
     "Huh! ya sudah. Sekarang pergi tinggalkan aku sendiri!" usir Nina dan Nani pergi meninggalkan tempat itu.

***
     Sekolah sudah jadi sepi. Semua siswa dan siswi sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Nani mengeluarkan sebuah kunci dari dalam tasnya dan membuka lokernya dengan kunci itu untuk mengosongkan tempat itu karena mulai besok sudah bukan lagi miliknya. Ketika pintunya terbuka, ia melihat sebuah kotak kecil misterius. Kotak dari kertas itu berwarna hijau muda, warna favoritnya dan dihiasi oleh pita berwarna merah muda. Dengan takut-takut penasaran  ia membuka kotak itu dan isinya adalah sebuah kancing seragam siswa dan sebuah surat kecil yang wangi. Bau itu adalah bau bunga favoritnya. Ketika ia  membaca surat itu, terkejutlah ia.

Aku sudah tahu kalau kamu pasti akan mengikutiku karena Nina
Dan kamu pasti penasaran kemanakah kancing kedua milikku telah kuberikan
kancing yang berada di genggamanmu itu adalah kancing kedua milikku.
Dijaga, ya...
(Dari Nino)

ps: aku cinta kamu



Rabu, 06 Februari 2013

Lilin

     "Dasar menyebalkan! mengapa malam ini listrik harus mati? ditambah lagi udara malam diluar sana luar biasa dinginnya. Sampai-sampai selimut setebal apapun yang membalut diriku ini tak sanggup menghangatkanku. Ah, untuk apa aku terus bersungut-sungut? lebih baik aku segera membeli sekotak lilin di warung terdekat." Lalu seorang pengembala kuda yang sedari tadi duduk dikursi malasnya dengan berbalut pakaian yang kelihatannya sangat tebal itu pun segera pergi meninggalkan kursi malasnya dan hendak keluar dari pondoknya yang tak begitu besar untuk ke sebuah warung terdekat demi mencari sekotak lilin untuk menerangi malamnya dipondok itu dan disebuah kandang kuda yang letaknya tidak jauh dari sana.


...
     "Uh, ada apa ini? mengapa ada seseorang yang menggoncang-goncang kotak ini?" ucap serbatang lilin yang terpaksa terbangun dari tidurnya didalam kotak itu. Yah memang ia tidak sendirian didalam kotak itu melainkan ia bersama dengan beberapa kawannya yang juga adalah beberapa batang lilin. Mereka semua berasal dari bahan baku yang sama, dan mereka semua juga mempunyai manfaat yang sama yaitu menjadi penerang didalam kegelapan. Menjadi penerang bagi orang yang tersesat, dan menjadi penerang bagi orang yang takut akan kegelapan. 
     walaupun kami sama sekali tidak dapat menyala lebih lama lagi karena tubuh kami yang kecil ini, namun kami selalu merasa bersyukur karena setidaknya kami telah berguna bagi banyak orang. Mungkin disaat terang kami sama sekali tidak berguna dan dihempaskan beitu saja, dan bahkan harga kami tidak begitu mahal mungkin karena bukan kalangan atas saja yang membutuhkan kami melainkan kalangan bawah pun juga mau tidak mau harus rela membuang uangnya hanya untuk membeli kami. Namun justru pada saat gelap seperti inilah mereka semua berlomba-lomba untuk mendapatkan kami. Yah, walaupun mungkin malam ini terlalu panjang untuk dapat kami lalui karena mungkin kami sudah habis meleleh sebelum kami semua dapat melihat lampu menyala ataupun matahari telah hadir menggantikan posisis bulan yang sinarnya tidak terlalu terang meskipun bintang-bintang telah rela bersusah payah untuk membantunya menerangkan malam itu.

     Jadi disinikah tempatku akan melelehkan diriku? di sebuah kandang kuda yang tidak terlalu luas dan disini hanya terdapat seekor kuda yang terbaring lemah sedangkan salah satu kaki depannya telah terbalut sebuah perban? dan hey! mengapa hanya aku saja yang harus bersinar disini? dimana kawan-kawanku? dimanakah mereka semua akan bersinar?
     "Huh! dasar kuda yang tidak berguna. Sudah tahu akan dijemput ajal masih saja menyusahkan orang! mengapa kamu tidak segera mati saja!?" Dengan bersungut-sungut ia meletakkanku di atas sebuah tempat lilin dan membakar sumbuku yang mungil lalu diletakkannya begitu saja diatas sebuah laci kecil disamping kuda yang terus saja memandangku dengan tatapan rapuhnya. Penggembala itu memang kejam! namun sesungguhnya ia telah mengatakan hal apa adanya. Bagi kuda, kaki yang kuat adalah hal yang sangat penting. Dan apabila kakinya telah terluka seperti itu dan ia sudah lanjut usia seperti itu, untuk apa ia harus tetap berjuang untuk hidup? namun apalah dayaku? disinilah tempatku harus bekerja. untuk memenuhi kewajibanku sebagai sebuah lilin.
     Malam ini anginnya bertiup dengan semakin kencang. Ah sial! mengapa ia harus datang? tak tahukah ia bahwa tingkahnya itu akan membuatku cepat meleleh? setidaknya aku masih ingin bergabung dengan teman-temanku yang juga adalah lilin. Huh! kuda ini juga sedang mendengkur. Tidak tahukah ia bahwa dengkurannya itu sangat mengganggu? wajar saja jika ia tidak mempunyai teman dan terpaksa harus hidup bersama penggembala yang sombong itu.
     Malam ini berjalan dengan semakin dingin. Hembusan angin yang memuakkan itu pun juga semakin lama semakin kencang sehingga aku pun menjadi semakin cepat meleleh. Mungkinkah kini akan mendekati pagi? ataukah kini sudah pagi buta? kudengar suara yang sangat keras berkumandang di luar sana. Dan kudengar juga derap langkah yang semakin mendekat yang arahnya berasal dari dekat pintu kandang sana. Namun semuanya berhenti dan suara langkah itu berubah menjadi suara orang bercakap-cakap. Didengar dari suaranya, sepertinya mereka hanya berdua saja. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi ini sepertinya sebuah perbincangan bisnis dimana sepertinya si penggembala itu merasakan suatu keuntungan. Entahlah, kurasakan dari pembicaraan itu kalau nantinya pasti akan terjadi sesuatu. Sesuatu yang akan menyangkut nasib kuda tua yang cacat ini. Sesuatu yang menyedihkan namun memang harus begini adanya.
     "Jadi disinikah kuda itu sekarang berada? aku ingin lihat sebesar apakah kuda itu" ucap seorang yang tengah berjalan bersama seorang penggembala itu sambil terus saja memandangi seisi kandang kuda yang bau anyir ini. Terbukti kalau penggembala kuda ini tidak peduli dengan keadaan kandang ini dan kuda ini.
     "Kudanya cukup besar tuan, saya yakin dagingnya pun juga sangat lezat. Mungkin dagingnya akan membuat bisnis anda semakin lancar" ucap penggembala itu yang terus saja berjalan bersebelahan dengan tuan yang akan membeli kuda yang masih saja tertidur disebelahku.
     Aku tidak tahu apakah kuda ini sesungguhnya mengerti akan bahasa manusia atau tidak, kuda ini hanya tertidur pulas. Kulihat didalam tidurnya yang lelap ia tersenyum. mungkin ia sudah pasrah akan apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi akan dirinya. yah, mungkin ia akan terus berguna bagi siapa pun nantinya walaupun nantinya ia tidak akan hidup lagi untuk menyaksikan semuanya.
      Akhirnya kedua orang itu sampailah pada si kuda tua ini. Ternyata si tuan itu cukup berbaik hati untuk membiarkan kuda itu untuk tidur selama-lamanya tanpa mengenal rasa sakit lagi. Ia memberikan suntikan yang bersisi racun kematian dan membiarkannya meninggal untuk dibawanya pergi meninggalkan kandang ini dengan mudahnya. Dan akhirnya terlihat segumpalan busa kecil keluar dari mulutnya. Tanpa perlawanan sekecil apapun. Penggembala itu terlihat cukup puas akan yang terjadi karena akhirnya tugasnya sebagai seorang penggembala yang harus mengurusi kuda tua ini sudah selesai. Kejadian itu cukup singkat sesingkat hidupku  ini. Tubuhku semakin pendek dan cahaya yang kuberikan semakin redup.
     Akhirnya kuda yang mati itu telah diangkut oleh penggembala sedangkan tuan pembeli itu hanya berjalan dengan anggunnya meninggalkan kandang ini. Aku tidak tahu kapan penggembala itu akan kembali lagi. Sumbuku ini semakin mengecil dan tubuhku semakin lama semakin pendek. Mungkin aku tidak akan lagi melihat teman-temanku yang tidak tahu dimanakah mereka berada. Dimanakah mereka semua disimpan dan aku bahkan tidak tahu apakah mereka masih ada ataukah telah mati karena telah dipakai semalaman penuh. Namun, aku merasa sangat puas karena telah tahu apakah tujuanku dibuat. Menemani hari akhir kuda itu dan menghangatkan malam dinginnya untuk hari terakhirnya.
     

Rabu, 23 Januari 2013

     Hari ini hujan. Hari ini mendung dan hari ini tidak panas. Apakah ini mewakili keadaanku atau tidak aku tidak tahu. kemarin mendung, kemarin hujan dan kemarin tidak panas. Apakah kemarin juga mewakili perasaanku? aku tidak tahu.
     Hahaha. Apakah benar bahkan cuaca pun mengerti perasaanku? mungkin itu hanya bohong. Mungkin Tuhan tengah mengejekku dengan cuaca-cuaca yang diberikan kepadaku. Saat itu, saat itulah ini semua dimulai.
     Saat itu aku sangat bahagia, karena akhirnya ia mau berbagi kebahagiaannya bersamaku. Yah,  sebenarnya sudah lama aku ingin ia merasa seperti itu dan di saat itu aku ada bersamanya. Saat itu aku sama sekali tidak tahu apa yang tengah terjadi namun kulihat ia sangat indah ketika ia sedang tertawa, ia sangat cantik ketika ia sedang bahagia. Dan mungkin karena itulah banyak orang yang ingin mendekatinya dan banyak orang yang ingin bersamanya. Namun tidak kusangka akan begini jadinya. searusnya aku sadar bahwa jangan pernah melihat orang dari wajahnya karena itu akan menjadi kenyataan yang sangat menyakitkan.
     Namun aku sungguh tidak peduli dengan pepatah tua seperti itu dan aku tetap memilih untuk berasamanya. Sungguh, sesungguhnya aku bukanlah seorang abnormal, namun perasaan sayangku sebagai seorang sahabat inilah yang membutakanku sampai-sampai pepatah itupun akhirnya membuka mataku.
     Saat itu,  hari berjalan seperti biasanya. matahari yang begitu panas. Aula yang begitu pengap dan suara gemuruh dari orang-orang yang berada disekitarku dan disekitarnya. Aku secara terang-terangan membuka aibku kepadanya sebagai seorang yang bodoh yang berusaha untuk menjadi orang terbaik. Namun apa?, ternyata hal itu membuatnya jijik kepadaku dan memtuskan untuk pergi menjauh dariku.
     Ditambah lagi, setelah kutelusuri ia lebih dalam lagi, ada kemungkinan yang membuatnya iri padaku (dan sampai kini akupun bingung apa yang membuatnya iri padaku). Aku mempunyai seorang kawan yang sangat rupawan sehingga wantia yang melihatnya mungkin ingin segera memilikinya. Dan apakah kedekatannya kepadakukah yang membuatnya menjauh dariku? ditambah lagi ia memang sedang dekat dengan seseorang yang sangat senang merebut semua teman-temanku.
     Kini, mungkin mereka semua tidak akan menyadari akan sakitnya perasaanku. Namun, pasti suatu saat nanti di suatu tempat mereka akan menyadari akan hilangnya diriku. Hilang dimakan waktu tanpa akan pernah melihat diriku. Aku akan hilang seperti debu yang ditiup angin. Hilang melebur dan tidak tahu dimanakah lagi ia akan singgah. Atau mungkin, mereka selamanya akan menganggapku sebagai angin lalu saja. Aku datang hanya untuk menimbulkan masalah karena yang mereka lihat adalah aku si pembuat masalah.
     Kawanku yang rupawan itu pasti juga akan termakan oleh rayuan busuknya dan menjadi membenciku. tapi... ah, untuk apa aku mengharapkan sesuatu dari dunia yang hina ini? toh, mereka semua tidak akan pernah kubawa mati karena mereka semua hanyalah fatamorgana. Sesuatu yang indah itu sangat menyakitkan. Namun sesuatu yang sangat pahit itu akan selamanya membekas.
     Langitnya masih mendung, udaranya semakin lama semakin menghilang, langitnya akan hilang digantikan oleh si putri bulan dan dayang-dayang bintang. Waktu cepat sekali berlalu, mungkin apabila aku terbangun kembali, aku akan melihat si pangeran matahari bersama prajurit-prajurit awan, dan seterusnya. Aku berharap suapaya waktu itu akan segera datang dan aku akan pergi meninggalkan mereka semua dan mendapatkan kehidupanku yang baru yang lebih indah namun yang pasti akan lebih berbahaya dan lebih menyakitkan karena keindahan itu adalah fatamorgana. Ataukah, apakah mungkin yang saat akan datang itu adalah sesuatu yang sangat indah dan benar-benar indah karena bukan fatamorgana dan aku akan menetap disana. Karena mungkin segala sesuatunya yang berada disana akan mengubah cara pandangku yang penuh dengan rasa pesimis ini.

Jumat, 14 September 2012

     Pada jaman dahulu, pada zaman kerajaan, yang namanya pendidikan itu bukanlah sesuatu yang mahal. Pendidikan itu gratis adanya. Para pemerintah itu sangat baik. Mereka tidak peduli akan betapa mahalnya biaya yang harus mereka keluarkan. Mereka hanya memikirkan bagaimana supaya rakyatmya bisa maju dan damai sentosa.
     Namun apa yang ada pada jaman dahulu dengan apa yang ada dijaman sekarang ini bedalah adanya. Pendidikan semakin mahal dan orang kaya-lah yang berkuasa. Namun apalah peduli masyarakat? tidak, mereka tidak ada pedulinya. Hanya orang-orang yang mempunya sifat dermawan-lah yang bisa mengabulkan permintaan si masyarakat kurang mampu.
     Dia, gadis itu, kulihat ia memang rajin. Sangat rajin. Aku tahu ia luar dalam. Bahkan lebih daripada apa yang ada diotak mereka yang hidup disekitarnya. Namun, apa yang mereka lihat bedalah dengan apa yang aku lihat. Mereka hanya melihat hasilnya yang sangat kurang memuaskan. Bahkan tidak memuaskan sama sekali. Yah, sesungguhnya keberuntungan ia dalam hal pendidikan itu sangatlah buruk. Toh, semua orang mempunyai keberuntungan yang buruk, kan? bukan hanya dalam pendidikan?
     Namun apapun yang ada dipikiran kehidupan sosial, orang pintar-lah yang berkuasa. Mereka tidak peduli betapa baiknya orang itu (hei, gadis ini sangat baik lho). Hanya orang-orang berhati sangat lembutlah yang dapat merasakan (berarti aku orang yang lembut). Pendidikannya sangat pas-pasan namun ia mempunyai sesuatu kepandaian yang lain yang tidak mungkin ada didalam akademi. Namun apa yang dilihat pada akademi itulah yang dilihat oleh dunia.
     Akademi hanya akan melihat dari hasil akhir. Tak usah jauh-jauh. Akademi adalah kacamata dunia dalam melihat prestasi setiap individu. Padahal, sesungguhnya akademi  belum trentu otaknya lebih encer daripada otak si individu. Namun bagaimana lagi? toh mereka hanyalah MELAKUKAN TUGAS-nya.
     Kulihat gadis itu masuk kedalam suatu ruangan kelas. Gadis itu dengan gontainya masuk kedalam. Seakan-akan ia berfikir kembali ia tidak akan lulus. Ternyata ia masuk keruangan yang sama dengan ruanganku dan kufikir ia akan kembali menjadi teman sekelasku. Dan ternya benar. Ia sekarang kembali menjadi teman sekelasku.
     Kulihat ada sedikit harapan muncul dari wajahnya. harapan kalau kali ini ia akan lulus. Aku juga berharap kali ini ia akan lulus. Namun kembali seperti awal tadi, apa yang diharapkan oleh si gadis belum tentu menjadi keinginan si pemberi nilai. Ingat, apa yang mereka inginkan itulah yang harus menjadi kenyataan. Ia dengan tekun berusaha mengerti apa yang dikatakan oleh si dosen, ia menulis beberapa hal yang penting yang ia dapat dari kuliah itu dan ia membacanya ulang.
     Hal rutin itu menjadi pemandanganku setiap berada dikelas itu. Sudah 4 bulan ia melakukan itu. Di kelasku, di depanku, di jam yang sama. Kini tibalah ujian penentuan itu. Ujian yang sesungguhnya agak kurang penting karena itu hanyalah satu ujian. Yah, namun ujian itu adalah ujian penentu apakah kita pantas lulus, atau hanya beberapa dari kami sajalah yang diperbolehkan lulus? ujian itu, hanya diberi waktu selama 2 jam. Beberapa dari kami kelihatan sudah menyerah. Beberapa dari kami sudah mengumpulkan hasilnya. Bagiku, sesungguhnya 2 jam itu adalah waktu yang cukup lama untuk mengerjakan sekumpulan dari soal-soal ini sehingga bahkan dalam setengah dari waktu yang diberikan aku sudah menyelesaikannya terlebih dahulu.  Namun aku malas untuk keluar dan aku memilih untuk melihat gadis itu terlebih dahulu.
     Gadis itu, gadis yang sedikit memberi kekuatan pada kami yang lemah, tengah berduka. Pucat, dan hampir menangis melihat sekumpulan soalnya. Kuyakin, ia pasti kembali tidak dapat menjawab soal-soal itu. Pendidikan itu memanglah tidak adil. Namun ia adil. Walaupun ia tidak bisa, namun ia tidak seperti sebagian dari kami yang melakukan kecurangan. ia tidak mencontek maupun bekerja sama. Pengawasan di kampus ini sangat payah. Sehingga semua orang diberikan kebebasan untuk mencontek tanpa sepengetahuan dari si pengawas.
     Tibalah saat yang memuakan itu. Hasil akhir telah diberitahukan. Yah, aku bilang inilah saat yang memuakkan karena tidak semua orang kelihatan berbahagia. Terutama gadis itu. Ia menangis dalam diam. Ia kembali tidak lulus.

   

Sabtu, 08 September 2012

Penantian panjang untuk tak yang pasti

     Penantian panjang untuk suatu yang pasti. Aku terus memandangi layar komputer ini. Aku terus memandanginya dengan wajah harap-harap cemas "kapan ya akan datang" lamunku. Namun sayangnya waktu tak mau menunggu dan sebentar lagi waktu itu akan habis.
     Kupandangi lagi keesokan harinya. Masih di depan layar komputer. Dengan komputer yang berbeda, waktu yang berbeda, dan tempat yang berbeda. Namun masih dengan website yang sama. Sungguh, sesungguhnya bagi sebagian orang (atau mungkin sebagian besar orang) Penantianku ini cukuplah konyol dan terlalu berlebihan untuk dikhawatirkan mengingat banyak hal yang menurut mereka lebih penting daripada ini. Namun, hei! semua orang itu mempunyai masalahnya masing-masing dan mereka tidak pantas untuk menyamakan masalah mereka kepada diriku.
     Namun semalam aku telah memikirkan apa yang membuat mereka seperti itu. Egokah? ingin sekali berkata bahwa bukan karena ego. Namun pada kenyataannya, memang egolah yang mewakili semua ini. Egolah yang membuat kita kurang puas akan apa yang telah kita peroleh. Egolah yang membuat sebagian orang menjadi serakah dan egolah yang membuat manusia menjadi bukan manusia. dan kalau dipikirkan kembali,  sepertinya mereka juga harus mempelajari arti seni yang sebenaranya.
     Kembali lagi dengan diriku yang masih menatap layar komputer ini. Yah, aku melihat sendiri kenyataan yang mengatakan bahwa orang kaya adalah orang yang berkuasa. Hal itu memang terjadi karena mereka dapat mengubah segala sesuatu, menyelenggarakan segala sesuatu dan melakukan sesuatu sesuai kehendaknya. Mereka takkan segan-segan untuk menginjak dibawahnya namun yang berada dibawahnya takkan sanggup untuk membantingnya.
     Kini sudah kelima harinya aku memandangi layar komputer ini. Tidak ada yang berbeda. Semuanya masih sama saja. Mata hatiku semakin nanar dibuatnya. Namun mereka tidaklah peduli. waktu terus berjalan dan saat itu hampir tiba. Tinggal saja menunggu hari yang semakin mendekat ini dan semuanya tentulah akan membuat penyesalan yang tak ada akhir. Hidup kembali dengan tekanan dan mereka tidak peduli. Kalaupun ada, mereka hanya ingin mendengar. Mereka hanya ingin melihat. Sebentar saja menatap miris namun sangat lama meninggalkan beban. Dan yah, mereka beberapa saat lagi akan tertawa puas

Rabu, 05 September 2012

Jeritan Yang tak terdengar

     Kembalikan kehidupan kami. Kembalikan keluarga kami. Namun mungkin memang sudah tak dapat kembali. Namun biarlah, mungkin sudah saatnya kami akan punah.
     Hidup kami. Hidup sebagai warga flora dan fauna. Semula sangat bahagia sebelum modernisasi itu datang. Manusia hidup sejahtera bersama kami dan mereka tidaklah serakah. Mereka menjaga kami dan terus mengembangbiakkan kami. Kami bahagia, mereka pun juga bahagia. Manusia mengagumi akan keindahan kami, mengagumi akan keasrian kami. Kami juga bersyukur kepada mereka yang terus merawat kami tanpa ada niatan untuk merusaknya. Saat itu, mereka belum tahu apa itu modernisasi. Mereka tidak tahu apa itu teknologi maupun alat-aat elektronik. Mereka menggunakan alat-alat tradisional yang sederhana dan tidak merusak.
     Namun, semua itu berubah. Yah, mereka berubah ketika watak asli para manusia itu datang. yah, sifat egois yang merupakan sifat dasar manusia itu mulai ditujukan pada kami. Kami semua sakit hati, sedikit sakit hati karena mereka masih menghargai kami yang merupakan penduduk asli di tempat ini. Mereka masih melakukan tanggung jawab mereka.
     Namun itu hanya sesaat. Manusia itu makin lama makin bertambah. Bangunan-bangunan itu makin lama makin banyak. Namun bagaimanakah dengan kami? bagaimanakah dengan kami yang makin lama makin berkurang. Bukan, bukan karna kami tidak mau berkembang biak. Kami tidak ingin punah. Kami masih ingin menyertai manusia-manusia itu. Kami masih ingin menjadi makanan untuk mereka, menjadi pelindung mreka dikala mereka kepanasan, dan kami juga masih ingin menjadi pencegah banjir. Kami juga ingin mereka tahu akan siapa kami dan mreka dapat melihat langsung akan keberadaan kami. Tidak seperti pendahulu kami yang harus punah pada zaman purba itu. Kami masih ingin hidup.
    Namun apa yang telah mereka perbuat pada kami? mereka ketakutan melihat kami yang senang berkeliaran di tempat mereka. Padahal, hei! mereka itu mengungsi di tempat kami. Namun apakah mereka tidak sadar dengan apa yang telah mereka perbuat? mereka coba untuk menghancurkan kami. Mereka membuat barang-barang bermerek dari kulit kami. Kami sakit kalau harus dikuliti, namun mengapa demi kekayaan kalian harus menguliti kami? dan kalau pun mereka membiarkan kami untuk berkembang-biak terlebih dahulu, biarlah asalkan anak-anak kami dapat hidup bahagia. Namun apa? apakah mereka mau menuruti permohonan terakhir kami?
     Tidak, jangan harap mereka mau menuruti. Kami kecewa akan mereka. Biarlah pada akhirnya kami akan habis dimakan zaman.

Minggu, 03 Juni 2012

India...India (Untukmu kawanku yang sangat kurindukan)

     Pada tanggal 31Mei lalu. Setelah aku menyelesaikan salah satu kegiatanku, sejenak aku datang ke workshop itu. Yah, workshop untuk memperkenalkan sebagian budaya di dunia itu. Walaupun acara itu akan selesai aku tetap berjalan-jalan kedalamnya.
     Didalam workshop itu kutemukan suatu stand yang sedikit menceritakan tentang India. India... seketika aku teringat akan kawanku saat SMP dahulu. Yah, lebih tepatnya dialah kawan karibku atas ketidakadilan yang kualami saat itu. Ah sudahlah lupakan! aku ingin mencoba salah satu alat musik India yang ditawarkan disana.
     Setelah aku puas bermain-main dengan alat musik itu dan setelah aku puas bermain-main dengan kawan-kawan karibku akhirnya aku berlatih kembali sampai malam. Saat malam itu aku berhasil terbuai oleh gerakan-gerakan Wushu yang indah yang secara tidak sadar telah mereka suguhkan padaku. Dan saat itu pula aku sejenak melupakan akan kawanku yang dahulu kalau tidak aku tak tahu kerinduan apalagi yang akan kubuat.
     Ah akhirnya latihan itu selesai. Sudah malam, aku harus bergegas pulang. yah, bergegas aku mencari kendaraan umum untuk menghantarkan aku pulang. Dan sialnya lagi suasana malam di kota metropolitan ini telah sukses membuatku teringat kembali akan dia.
     Aku teringat saat dia tengah bermain-main bersamaku setelah sekolah. Walaupun dia itu sangat besar dan aku begitu kecil bila berhadapan dengan dia. Namun aku terus berusaha untuk menangkap wajahnya dan itu telah sukses membuatnya tertawa. Pria India yang berimigrasi di Indonesia dan sekolah disini memang sangat berbeda dengan orang-orang Indonesia yang hidup disekitarku saat itu. Wajahnya dan tubuhnya yang menunjukkan kalau dia itu pria India asli dan sifatnya pun sangat berbeda dengan orang-orang Indonesia yang saat itu sedang sangat labil dan menomorsatukan diskriminasi kepada orang-orang culun dan berbeda dengan mereka. Mungkinkah karena aku sepintas sering dibilang orang India apalagi saat aku sedang tersenyum. Pantaskah aku dikira orang India? padahal sesungguhnya wanita-wanita India itu sangat indah dengan kulit sawo matangnya dan mata besarnya itu. Dan lagi orang-orang India itu sangat cerdas dalam dunia teknologi.
     Dan akhirnya setelah lulus SMP aku sudah tak bertemu lagi dengan dia. SMA kulanjutkan dengan hampa namun aku belum menyadari kehampaan itu sampai akhirnya aku kuliah dan kesepian itu datang kembali. Dan bodohnya aku itu disaat yang tak terduga aku bertemu kembali dengannya dan aku sama sekali tak membawa ponselku. Aku menyia-nyiakan kesempatan itu dan aku kembali rindu padanya.
    Untukmu kawanku yang kini aku tak tahu kau ada dimana, kau sedang apa,,, aku hanya ingin berkata kalau aku sangat merindukanmu dan ingin bermain-main seperti dahulu :')



Minggu, 20 Mei 2012

maaf

     Ah sial! lagi-lagi aku tertangkap. Ah aku tak tahu apalagi yang akan mereka perbuat kepadaku sedang rasa sakit dan lubangku yang semakin membesar akibat  kemarin mereka memperkosaku belum kunjung sembuh. Seharusnya aku sudah lolos dari dua mahluk homo ini yang ingin memperkosaku, namun mereka berdua mengikatku sehingga aku tak bisa kemana-mana sedang mereka berdua terus berdebat tentang siapa dulu yang akan menusukku . Apakah si raksasa yang akan membuat lubangku semakin membesar atau si mahluk yang besarnya sedikit lebih besar daripadaku.
     Akhirnya mereka setuju untuk langsung menusukku secara sekaligus. Ketika alat-alat mereka sudah berhasil bersarang didalam lubangku rasanya sangat menyakitkan sampai-sampai aku hampir mati rasanya. Aku terus berteriak-teriak kesakitan, namun mungkin teriakanku yag sepertinya terlihat agak menikmati membuat mereka makin nafsu dan liar untuk memompanya dan menusuk lebih dalam. Aku semakin kesakitan.
     Mungkin karena teriakanku yang semakin membesar atau tugas mereka yang selesai akhirnya mereka datang untuk menyelamatkanku dari kedua homo ini. mereka membawaku yang tengah telanjang bulat tanpa sehelai benangpun ini ke dalam markas. Ketika didalam mobil, beberapa dari mereka iseng bermain-main dengan penisku. Namun kubiarkan saja karena aku sangat lemas untuk meladeni mereka.
     Ketika kami sudah berada di dalam markas, mereka langsung membuatku mengangkang lalu mengikat kaki dan tanganku ke ujung-ujung tempat tidur lalu mereka membuka lubangku sebesar mungkin dan secara bergilir memasukkan tangannya kedalam lubangku. Aku berteriak keras-keras karena sakit sekali namun percuma karena markas ini kedap suara dan teman-temanku terus memperhatikan proses pemasukan tangan itu dan menunggu secara tidak sabar.
     Setelah mereka berhasil memastikan bahwa di dalam lubangku tidak terdapat apa-apa, mereka tidak langsung melepaskan ikatanku dan pergi meninggalkanku di dalam markas. Namun mereka melakukan sex party dan aku adalah objeknya. Akhirnya pesta yang berlangsung selama hampir dua jam itu selesai dan ikatanku pun dilepaskan. Mereka meninggalkanku yang sangat lemas ini dan markas ini dengan meninggalkan satu stel pakaian dan sepertinya mereka memang tahu cara berpakaianku dan beberapa lembar uang. Sepertinya sebagai tanda minta maaf atas keterlambatan mereka. Ah aku hampir lupa kalau besok aku ada kelas dan kembali bertemu dengan gadis itu...Yah gadis itu.
     Setelah aku meninggalkan markas itu, aku tak langsung kembali ke kostanku tetapi aku malah ke toko dan membeli sebotol bir. Untuk melupakan kejadian itu sejenak dan gadis itu. Aku terus menengguk minuman itu hingga akhirnya aku mabuk dan tertidur disebuah bangku taman. Dan entah mengapa aku tetap memimpikan gadis itu.
     Ketika terbangun, hari sudah siang dan aku sepertinya terlambat ke kampus. Aku kembali ke kostanku dan menyiapkan semuanya namun aku tak sempat mandi. Ketika tengah berlari mengejar waktu aku berpapasan dengan gadis itu. Ditengah itu entah mengapa dia tetap dapat tersenyum denganku? dan ah senyumnya... seketika membuatku damai? namun aku harus tetap tidak menyukai gadis itu dan membuat dia membenciku karena aku tak pantas untuk dia!dia itu adalah gadis yang sangat taat beragama dan anti kekerasan. Beda denganku yang sudah ternoda ini.
     Namun semakin aku masa bodoh dengannya semakin ia mendekatiku. Aku suka caranya mendekatiku karena caranya sangat lembut dan penuh kasih. Aku merasa damai. Yah memang dia mempunyai banyak saingan karena dikampus ini aku sangat populer karena prestasiku, ketampananku, keseksianku dan kekereanku. Hanya gadis iu gadis terjelek yang terus mengejarku sehingga aku takkan segan-segan untuk mengasarinya namun ia sepertinya terus berusaha hanya untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan kecil dariku.
     Pernah satu kali aku membuat penghinaan terbesar kepadanya yang mungkin saja apabila aku melakukannya pada orang lain, dia akan membenciku selamanya. Aku tahu selama ini diam-diam dia selalu memfotoku . aku tahu ia melakukannya itu selama bertahun-tahun. Dan ketika ia telah berhasil membuatkanku album tentang diriku aku langsung membakarnya didepan mata dia. Dia menangis pelan-pelan namun aku tertawa keras-kersa tepat dikupingnya dia. Lalu aku mengerjai dia dan membaiarkan dia kedinginan dengan pakaiannya yang robek2. Aku tak peduli dengan apa yang akan dia hadapi di kota keras ini nantinya sedangkan ia terus memanggilku dengan tangisannya itu.
     Hari ini pun, di kelas, ia telah membuatkanku sarapan kalau-kalau aku kelaparan karena tak sempat sarapan. Aku tak langsung memakan sarapannya seperti yang biasanya kulakukan didepannya dan membuatnya tersenyum. Namun, aku menatap matanya dalam-dalam dan iapun sedikit ketakutan.
     "Apa maumu?" tanyaku tajam.
    Gadis itu diam membisu.
     "Jangan memaksaku" gertaku pelan.
     "Aku mengidolakanmu. Aku hanya ingin berada didekatmu dan selalu bersama-sama denganmu. Disini dingin dan aku tak mau sendiri karena aku takut kesepian. Aku tahu aku sangat mengganggumu dan berharap aku tak ada disini dan tak memikirkanmu. Namun, setiap malam aku berdoa supaya Tuhan mau membuatku melupakanmu, Ia malah semakin menumbuhkan perasaanku kepadamu" jawabnya hampir menangis.
     "Lebih baik kita berbicara di tempat sepi" Lalu aku membawanya keluar kelas dan langsung menuju ketempat sepi.
     "Makanannya?" tanyanya
     "Aku tak nafsu" jawabku "Kamu tak tahu siapa diriku. Dan kuharap kamu tak tahu siapa diriku. Maka itu aku terus mengasarimu. Namun dari semua gadis itu, hanya kamu yang selalu aku pikirkan."
      "Aku tak akan pernah lupa akan semua yang telah kamu perbuat kepadaku, karena itu akan menjadi kenangan berharga buatku. Aku memang tak tahu siapa dirimu karena kamu sangat sulit untuk kuraih" Lalu ia menghapus air matanya "Maaf " katanya malu.
      "Kau adalah gadis yang paling taat beragama yang pernah kulihat. Dan kau adalah gadis terbaik dan tersabar yang pernah singgah dikehidupanku. Senyummu yang selalu datang di setiap pagi saat kita terus mengejar waktu supaya tidak telat terus mendamaikanku dan melupakan kejadian yang menimpaku semalam. Kuyakin kau tak akan mau tahu apa yang telah kuperbuat semalam."
     "Seburuk apapun aku mau tahu!" jawabnya tegas
    "Baiklah, aku hanyalah seorang yang harus menyelamatkan dunia ini dari kegelapan. Namun, karena nafsu yang telah bersarang dari dalam diri teman-temanku dan musuh-musuhku, aku telah beberapa kali dipakai di dalam misi. Kau yakin kau masih mau didekatku?" tanyaku. Kulihat air mukanya berubah
     "Aku tetap ingin didekatmu" jawabnya mantap.
     "Lupakan mimpimu" kataku
     " Tak mau" tegasnya
     "Aku tak mau kamu kenapa-kenapa. kamu itu gadis" kataku "Aku mohon lupakan"pintaku."Sudah cukup akan perhatianmu, aku sangat berterima kasih akan kasihmu, namun aku tak bisa bersamamu. Duniaku terlalu bahaya untukmu, lebih baik kau terus saja berjalan di dalam imanmu karena itulah yang selalu menyelamatkanmu dan membuatku terlalu sayang kepadamu" Lalu aku meninggalkannya yang tengah menangis terisak-isak.
     Aku terus saja memandangi kotak makan yang berada di atas mejaku. Sesaat kemudian gadis itu masuk kekelas dangan wajahnya yang basah, namun aku dapat melihat matanya yang sembab. Aku melihatnya yang berusaha supaya tidak melihatku. Lalu aku memakan bekal itu sedikit demi sedikit tidak seperti biasanya. Itu karena aku sangat menyayangi makanan itu dan pembuat makanan itu.

Senin, 07 Mei 2012

Aku hidup? bodohnya aku ini

   Perkenalkan, namaku adalah A. Di dalam dunia Hukum aku memang terkenal sangat menakutkan sehingga aku dikenal dengan malaikat maut karena aku takkan segan-segan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada hampir setiap pelaku setiap perkara yang kutangani. Hal itulah yang membuat masyarakat di negara ini sangat takut padaku dan berharap semoga aku tak ikut mengadili tentang kasus mereka. Padahal aku hanya mengikuti semua undang-undang yang ada. Aku tak peduli seberapa banyaknya sesuatu yang mereka curi, seberapa banyaknya atau seberapa sadiskah mereka membunuh orang. Toh, buatku itu semua sama saja.

     Aku seperti ini bukan karena aku memang psikopat yang kebetulan bekerja dalam dunia hukum. Aku hanya ingin tahu apakah mereka mengerti seperti apakah keadaanku dan perasaanku ketika memang sampai kini pun aku tak tahu aku ini hidup untuk siapa, hidup untuk apa. Toh, aku akhirnya hanya menghabiskan waktuku di dunia hukum yang sangat mewah tanpa sertifikat sama sekali. Setiap gajiku pun selalu kuhabiskan untuk hal-hal yang sama sekali tiada guna.

     Didalam laptop ini, secara tak sengaja telah kutumpahkan kejadian naas itu. Saat aku masih belia, keluargaku entah menghilang kemana, rumahku dibakar oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Entah mengapa mereka tega melakukan itu namun mereka telah berhasil membuatku seperti ini. Yah aku awalnya memang sangat takut sendirian dan untunglah anjingku masih hidup.

     Kubawa temanku itu satu-satunya ketempat yang setidaknya aku masih dapat bernaung. Yah, disebuah gang kecil yang kotor dan sepertinya tak layak huni, namun aku bersikeras untuk tetap tinggal disana.
     Sudah beberapa minggu bahkan beberapa bulan kami tidak makan sama sekali karena memang pada saat itu kebutuhan pokok terutama bahan makanan sedang melambung sangat tinggi sehingga tak seorang pun kasihan pada kami dan mereka bahkan takkan rela memberikan sesuap nasi pada kami. Walaupun temanku ini sama sekali tak bergerak namun aku tetap optimis bahwa temanku ini masih hidup sebab akupun masih hidup. Namun aku sangat kelaparan dan sepotong roti yang dijual didepan jalan raya itu kelihatannya sangat lezat. Aku ingin sekali memakannya, hanya segigit saja supaya aku masih tetap hidup. Saat itu aku masih ingin hidup.

     Bahkan pada saat salah seorang teman sekelasku secara tidak sengaja  bertemu denganku di gang itu, ia melihatku dengan sejenak lalu menembaki kepala temanku berkali-kali. Aku berusaha melindungi temanku namun ia mendorongku sehingga aku tak dapat melindunginya. Aku terus memohon-mohon kepadanya untuk berhenti menembakinya. Setelah puas ia menembaki temanku itu ia dengan marah berkata kepadaku kalau sebenarnya temanku itu sudah tak ada. Namun aku tetap optimis kalau temanku itu masih hidup dan ia dengan gusar pergi meninggalkanku.

     Hal terbodoh pun akhirnya telah kulakukan. Aku menjual temanku sendiri demi sepotong roti itu. Pemilik toko Roti itu marah dan tak mau menerima temanku itu. Ia juga tak rela aku mengambil roti itu. Namun dengan nekat aku mengambil roti itu dan kabur dari toko roti itu. Pemilik toko roti itu meneriakiku maling dan hampir semua orang mengejarku sehingga ketika aku terpojok aku dihakimi oleh mereka semua namun aku tetap berusaha untuk melindungi roti itu.

     Setelah puas menghakimiku mereka meningalkanku begitu saja dalam keadaan sekarat. Namun aku bersyukur kalau rotiku tidak apa-apa. Aku sudah tak dapat menahan rasa lapar ini. Kalau aku tidak makan saat itu juga mungkin aku tak dapat melihat matahari terbit lagi. Akhirnya dengan air mata yang terus berlinang, dengan lahap aku menghabiskan rotiku.

     Sudah berapa lama semenjak kejadian itu aku sudah tak mau menghitungnya lagi. Dengan pistol yang telah kutodongkan dikepalaku aku ingin mengakhiri hidupku. Namun, entah berapa kali aku juga tak ingin menghitungnya aku selalu kembali gagal bunuh diri karena teman sekelasku yang dulu menembaki anjingku itu selalu datang disaat aku ingin bunuh diri dan terus berusaha menggagalkannya.


Kamis, 26 April 2012

Untukmu yang tak mungkin aku dapatkan

     Aku hanyalah seorang anak baru yang dapat bersekolah gratis di suatu sekolah karena kata orang prestasiku disalah satu bidang seni beladiri sungguh mengerikan. Semula ku terima begitu saja tanpa mengetahui sama sekali nasib buruk yang akan menimpaku nantinya. Aku sekolah disana dengan mereka-mereka yang terus saja memandangku dengan takjub dan kagum sampai akhirnya aku bertemu dan sebangku dengan gadis buta dan bisu dan hanya dialah yang membuatku hangat.

     senyumnya yang tulus menyambutku ketika aku hendak duduk disampingnya. Wajahnya yang terus mencari-cariku membuatku terhibur. Semakin hari aku semakin nyaman berada didekatnya dan perasaan pun makin menjadi. Namun sayang, mereka-mereka yang mengagumiku merasa gerah akan kedekatanku padanya. Tiap hari mereka semua makin sakit untuk terus mengerjai gadis ini namun aku akan terus berada disampingnya dan tetap berusaha untuk membuatnya tidak kesepian.

     Sampai akhirnya penindasan yang membuatku tidak lagi merasa hangat itupun terjadi. Ketika aku dan ia bersama-sama pulang belakangan kami dipisahkan oleh mereka-mereka. Aku dibawa ke lapangan dan aku berhadapan dengan beberapa orang pendekar, seandainya  mereka setingkat denganku mungkin aku dapat mengalahkan mereka, namun mereka itu sangat mengerikan dan aku kalah telak. Namun, masih terlihat dimataku wajah kepuasan mereka yang telah berhasil menghabisiku.

     Saat mereka telah pergi, aku segera mencari dia. Aku tak peduli seberapa parah sakitku ini yang penting aku harus menemukan dan menyelamatkannya dari mahluk-mahluk mengerikan itu. Alangkah terkejutnya diriku ketika melihat keadaannya yang terikat dan sangat berantakan dimulut kecilnya tersumpal softex yang terdapat banyak darah. Kubuang rasa jijik ini untuk membuang sumpalannya itu, kulepas ikatannya, dan aku langsung memeluknya untuk menenangkan perasaannya kalau sampai kini pun aku tetap ada bersamanya. Dan di dalam peluk aku menangis bersamanya.

     Akhirnya dia meninggalkanku dan sekolah ini. Dan aku cukup mengakui akan kesadisan mereka tentang suatu ketidaksukaan. Sudah tak ada lagi yang dapat kucintai dari sekolah ini, namun mereka takkan pernah mengijinkanku untuk terlepas dari sekolah ini. Aku tetap menghormati para petinggi disini dan semua orang yang berhubungan dengan sekolah ini. Aku hanya menghormatinya namun aku takkan sudi untuk menghargainya. Aku tetap menekuni seni yang membuatku berada di dalam neraka dingin ini hanya untuk membalas dendam kepada para pendekar-pendekar laknat itu dan aku akan mennjadi orang terkuat di dunia.

     Sudah satu dekade ini aku merasa didalam kedinginan ini. Sudah satu dekade ini juga aku dinobatkan menjadi seorang pendekar beladiri yang paling ditakuti di dunia. Banyak orang yang mengagumiku namun tak sedikit orang yang takut padaku. Namun aku tak peduli, aku harus menjadi orang terkuat didunia ini. Mentari sudah tak bersinar untukku, untuk apa aku tetap memperjuangkannya?

     Namun semua kekokohan dan kedinginanku hancur dan mencair ketika aku melihatnya kembali saat pertandingan final. Aku memenangkan pertandingan itu namun aku tak merayakannya dan terus mengejarnya. Ketika aku bertandang kerumahnya alangkah hancur hatiku melihatnya telah berkeluarga. Aku melihatnya yang terus bersembunyi dibelakang suaminya namun matanya memperlihatkan kerinduan yang amat mendalam. Suaminya pun baru pertama kali ini melihatnya seperti itu segera menurunkan senapannya yang diarahkan kepadaku dan membiarkan kami berdua. Aku sakit hati melihat semua ini, namun aku merasa bahagia melihat dia sudah bersama orang yang sangat mencintainya dan ingin melindunginya dari siapapun bahkan dariku.

      "Aku rindu kehangatan yang dulu..."

     Dia yang mendengarkanku langsung memelukku dan kami pun berpelukan untuk terakhir kalinya sama seperti hari terakhir saat kami hendak dipisahkan. Dan kami pun menangis di dalam peluk itu.

Selasa, 07 Februari 2012

Malaikat Pelindung


(Cuman buat soundtrack gk resmi)

      Malam ini, malam yang dingin ini aku telah berhasil mengalahkan dia. Rintik-rintik hujan yang mengenai tanganku lambat laun mulai membersihkan bercak-bercak darah yang menempel di tanganku. aku membiarkan saja tangan ini membasah dan bersih sedang kepalaku terus menengok ke bawah.

     Di bawah guyuran hujan ini, di sebuah gang buntu yang terbengkalai ini, seorang gadis yang kelihatannya sudah tak terurus lagi mengadahkan kepalanya keatas, tatapannya terus menantang hujan yang terus-menerus mengeroyokinya dan aku. Dan beberapa saat kemudian aku melihat dia menangis. Yah, mungkin agak konyol bagaimana aku dapat meihat orang menangis dibawah guyuran hujan, apalagi hujan ini begitu deras. Tapi percayalah, aku benar-benar melihat dia sedang menangis. Lalu ia kembali membenamkan kepalanya di antara lutut itu. Aku akan pergi sebentar untuk mengawasi sekitar, mungkin saat aku kembali lagi kemari ia sudah tak ada.

     Aku sudah kembali, saat aku menengok kembali kebawah, gadis itu masih dibawah. Haruskah aku mendatanginya? mungkin aku akan menemukan sesuatu disana, mengenai gadis malang itu.

      Dia terlihat sangat ketakutan ketika dia melihatku tepat di depannya, aku ingin memeluknya. aku ingin melindunginya. Tatapannya beralih ke lain arah, aku ikuti arahnya dan aku melihat mayat seekor anak anjing tergeletak begitu saja disana. Aku kembali melihat wajahnya yang penuh tangis dan ketakutan. lalu ia memelukku sambil menangis.

     Tak lama setelah itu, datanglah segerombol orang yang datang. Mereka kelihatan sangat sangar namun aku tidak takut untuk melindungi dia. Gadis itu kelihatan sangat ketakutan namun ia pasrah saja dan maju ke depan. Lalu kulihat pria itu mulai mengeluarkan pedangnya dan ingin menyayat gadis itu. Sentak aku mencegahnya dan berkelahi dengan semua pria itu .

      Aku telah berhasil mengalahkan mereka semuanya, dan mereka pergi tunggang langgang. Namun gadis itu bukannya senang tetapi tangisnya makin menjadi. Ada apa dengan gadis itu? apakah karena ia telah kehilangan anjing itu yang telah bersama-sama dengannya selama 5 tahun terakhir ini sehingga ia telah merasa kehilangan dan kesepian? aku memeluknya dengan pelan dan melindunginya dari hujan namun gadis itu malah menyuruhku pergi.

     Aku pergi meninggalkan dia seperti seekor anjing yang kabur setelah diomeli majikannya. Di sebuah taman mengahadap sebuah danau kecil. Di bawah pohon, aku terus beristirahat sambil melihat bintang yang bertebaran di angkasa. Aku terus memikirkan gadis itu, mungkinkah ini sudah waktunya untukku meninggalkan dunia ini, meninggalkan jasad ini? gadis itu, ya gadis itu. Dia telah membuatku hangat. Mata indahnya yang telah menantang hujan telah memberiku keberanian untuk menghadapi semua ini. Mungkin memang umurku tak akan lama. Tapi kumohon biarkan ia tidak sedih, tidak lagi merasakan kesepian, biarkan aku saja yang merasakan peneritaannya, jangan dia. Mungkin sebentar lagi aku tak akan berwujud di dunia ini. Tetapi biarkanlah ia merasakan apa itu kehangatan. Biarkanlah ia merasa bagaimana indahnya hidup bersama-sama orang yang hidup untuknya. Biarkanlah aku tak akan selamanya bahagia asalkan dia bahagia. Sungguh karena aku sangat mencintai dan ingin melindunginya.

     Aku memberanikan diri untuk menghadapnya. Aku tak peduli apakah ia akan marah lagi padaku atau tidak. Aku ingin melihatnya.

     Di gang itu, orang-orang yang sama ada lagi. Aku segera berlari untuk melindunginya. Lalu, setelah aku sampai disana dan ia berada dibelakangku, pria pemegang pedang itu dengan sekali ayunan telah memotong tangan kiriku. Rasanya sangat perih dan darah keluar dengan sangat deras dari potongan itu. Namun, aku tak akan pergi sebelum mereka pergi dan tak akan mengganggu gadis itu lagi. Aku akan terus melindunginya! Satu persatu bagian tubuhku terpisah dari tubuhku. Sekarang hanya tinggal kepalaku saja yang masih menyatu dan mungkin tak lama lagi juga akan terpisah. Namun, akan kuberikan senyuman pertama dan terakhirku untuknya. Saat aku telah berhasil memberinya senyuman dan hei! ia melhatnya! dengan rasa bahagia aku telah berani meninggalkan dunia ini dan si pemegang pedang itu telah memancung kepalaku.

     Mugkin jasadku sudah tak memungkinkan lagi untuk kutinggali. Maka kini aku telah menjadi malaikat. Aku melihat mereka sudah pergi dengan rasa sesal, sedang gadis itu ia memegang kepalaku dan melihat kepalaku dengan penuh tangis haru dan ia mengucapkan "terima kasih".

     Aku akan pergi sebentar untuk membersihkan noda-nodaku dan aku bertekad untuk terus melindunginya. Aku meminta ijin kepada tuanku supaya aku menjadi malaikat pelindung bagi gadis itu dan tuanku mengijinkannya.

     Malam pertama ketika aku menjadi malaikat pelindungnya. Ia tidur di tempat itu dalam keadaan menggigil. Disamping mayat anak anjing itu, sambil memeluk jasad kepalaku ia tidur. Dengan kedua sayapku, aku menghangatkan dia supaya ia tidak kedinginan.

     Sudah beberapa minggu setelah kejadian itu, kehidupannya telah membaik, dia telah merasakan bahagianya dicintai. Ternyata doaku terkabul dan aku tetap menjadi malaikat pelindung yg selalu berada disampingnya dan gadis itu dijuluki  sebagai gadis penyembuh.


soundtrack lagi nih:







Kamis, 04 Agustus 2011

Sekilas tentang Rangkaian Bebas...

     Aku hanyalah satu dari sekian banyaknya ciptaan Tuhan. Ciptaan yang hanya berada dari sekian mahluk hidup... . Namun, aku ingin merangkai segala sesuatu dengan kemauanku sendiri. Begitu bebas bagaikan burung-burung yang dengan bebasnya beterbangan dimana-mana sampai pada akhirnya waktulah yang memberhentikan mereka untuk terbang. Menjadi serangga-serangga hutan dan taman yang tiba-tiba muncul di hutan-hutan belantara dan pekarangan rumah-rumah .
     Aku ingin hidup dengan tanpa adanya aturan-aturan yang tak lazim yang mungkin tidak ataupun dengan sengaja mengekang betapa bebasnya hidup ini. Hidup yang telah dianugrahkan oleh Tuhan untuk kita, semua mahluk yang dicintainya sehingga munculah kehidupan yang tak membaik bagi umat-umatnya yang taat pada-Nya. Namun, ketidakteraturan itulah yang ternyata membuat hidup ini indah dan membuat kita bersyukur dan memahami arti hidup yang sesungguhnya .
     Aku tak ingin menjadi beban pada siapapun maka aku memilih untuk menjadi liar. Tapi tak hanya sekedar liar yang cukup merepotkan bagi mereka yag tak tahu bagaimana caranya menjaga segala sesuatu yang liar. Karena aku ingin menjadi sesuatu yang berarti (walau mungkin tak akan seorangpun yang menyadarinya karna aku adalah salah satu dari mereka).
       Dari beberapa alinea yang telah kutulis , maka kuambil kesimpulan bahwa aku lah
Rangkaian Bebas
Merangkai bebas
Tanpa aturan namun indah
Liar namun bermakna