Ah sial! lagi-lagi aku tertangkap. Ah aku tak tahu apalagi yang akan mereka perbuat kepadaku sedang rasa sakit dan lubangku yang semakin membesar akibat kemarin mereka memperkosaku belum kunjung sembuh. Seharusnya aku sudah lolos dari dua mahluk homo ini yang ingin memperkosaku, namun mereka berdua mengikatku sehingga aku tak bisa kemana-mana sedang mereka berdua terus berdebat tentang siapa dulu yang akan menusukku . Apakah si raksasa yang akan membuat lubangku semakin membesar atau si mahluk yang besarnya sedikit lebih besar daripadaku.
Akhirnya mereka setuju untuk langsung menusukku secara sekaligus. Ketika alat-alat mereka sudah berhasil bersarang didalam lubangku rasanya sangat menyakitkan sampai-sampai aku hampir mati rasanya. Aku terus berteriak-teriak kesakitan, namun mungkin teriakanku yag sepertinya terlihat agak menikmati membuat mereka makin nafsu dan liar untuk memompanya dan menusuk lebih dalam. Aku semakin kesakitan.
Mungkin karena teriakanku yang semakin membesar atau tugas mereka yang selesai akhirnya mereka datang untuk menyelamatkanku dari kedua homo ini. mereka membawaku yang tengah telanjang bulat tanpa sehelai benangpun ini ke dalam markas. Ketika didalam mobil, beberapa dari mereka iseng bermain-main dengan penisku. Namun kubiarkan saja karena aku sangat lemas untuk meladeni mereka.
Ketika kami sudah berada di dalam markas, mereka langsung membuatku mengangkang lalu mengikat kaki dan tanganku ke ujung-ujung tempat tidur lalu mereka membuka lubangku sebesar mungkin dan secara bergilir memasukkan tangannya kedalam lubangku. Aku berteriak keras-keras karena sakit sekali namun percuma karena markas ini kedap suara dan teman-temanku terus memperhatikan proses pemasukan tangan itu dan menunggu secara tidak sabar.
Setelah mereka berhasil memastikan bahwa di dalam lubangku tidak terdapat apa-apa, mereka tidak langsung melepaskan ikatanku dan pergi meninggalkanku di dalam markas. Namun mereka melakukan sex party dan aku adalah objeknya. Akhirnya pesta yang berlangsung selama hampir dua jam itu selesai dan ikatanku pun dilepaskan. Mereka meninggalkanku yang sangat lemas ini dan markas ini dengan meninggalkan satu stel pakaian dan sepertinya mereka memang tahu cara berpakaianku dan beberapa lembar uang. Sepertinya sebagai tanda minta maaf atas keterlambatan mereka. Ah aku hampir lupa kalau besok aku ada kelas dan kembali bertemu dengan gadis itu...Yah gadis itu.
Setelah aku meninggalkan markas itu, aku tak langsung kembali ke kostanku tetapi aku malah ke toko dan membeli sebotol bir. Untuk melupakan kejadian itu sejenak dan gadis itu. Aku terus menengguk minuman itu hingga akhirnya aku mabuk dan tertidur disebuah bangku taman. Dan entah mengapa aku tetap memimpikan gadis itu.
Ketika terbangun, hari sudah siang dan aku sepertinya terlambat ke kampus. Aku kembali ke kostanku dan menyiapkan semuanya namun aku tak sempat mandi. Ketika tengah berlari mengejar waktu aku berpapasan dengan gadis itu. Ditengah itu entah mengapa dia tetap dapat tersenyum denganku? dan ah senyumnya... seketika membuatku damai? namun aku harus tetap tidak menyukai gadis itu dan membuat dia membenciku karena aku tak pantas untuk dia!dia itu adalah gadis yang sangat taat beragama dan anti kekerasan. Beda denganku yang sudah ternoda ini.
Namun semakin aku masa bodoh dengannya semakin ia mendekatiku. Aku suka caranya mendekatiku karena caranya sangat lembut dan penuh kasih. Aku merasa damai. Yah memang dia mempunyai banyak saingan karena dikampus ini aku sangat populer karena prestasiku, ketampananku, keseksianku dan kekereanku. Hanya gadis iu gadis terjelek yang terus mengejarku sehingga aku takkan segan-segan untuk mengasarinya namun ia sepertinya terus berusaha hanya untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan kecil dariku.
Pernah satu kali aku membuat penghinaan terbesar kepadanya yang mungkin saja apabila aku melakukannya pada orang lain, dia akan membenciku selamanya. Aku tahu selama ini diam-diam dia selalu memfotoku . aku tahu ia melakukannya itu selama bertahun-tahun. Dan ketika ia telah berhasil membuatkanku album tentang diriku aku langsung membakarnya didepan mata dia. Dia menangis pelan-pelan namun aku tertawa keras-kersa tepat dikupingnya dia. Lalu aku mengerjai dia dan membaiarkan dia kedinginan dengan pakaiannya yang robek2. Aku tak peduli dengan apa yang akan dia hadapi di kota keras ini nantinya sedangkan ia terus memanggilku dengan tangisannya itu.
Hari ini pun, di kelas, ia telah membuatkanku sarapan kalau-kalau aku kelaparan karena tak sempat sarapan. Aku tak langsung memakan sarapannya seperti yang biasanya kulakukan didepannya dan membuatnya tersenyum. Namun, aku menatap matanya dalam-dalam dan iapun sedikit ketakutan.
"Apa maumu?" tanyaku tajam.
Gadis itu diam membisu.
"Jangan memaksaku" gertaku pelan.
"Aku mengidolakanmu. Aku hanya ingin berada didekatmu dan selalu bersama-sama denganmu. Disini dingin dan aku tak mau sendiri karena aku takut kesepian. Aku tahu aku sangat mengganggumu dan berharap aku tak ada disini dan tak memikirkanmu. Namun, setiap malam aku berdoa supaya Tuhan mau membuatku melupakanmu, Ia malah semakin menumbuhkan perasaanku kepadamu" jawabnya hampir menangis.
"Lebih baik kita berbicara di tempat sepi" Lalu aku membawanya keluar kelas dan langsung menuju ketempat sepi.
"Makanannya?" tanyanya
"Aku tak nafsu" jawabku "Kamu tak tahu siapa diriku. Dan kuharap kamu tak tahu siapa diriku. Maka itu aku terus mengasarimu. Namun dari semua gadis itu, hanya kamu yang selalu aku pikirkan."
"Aku tak akan pernah lupa akan semua yang telah kamu perbuat kepadaku, karena itu akan menjadi kenangan berharga buatku. Aku memang tak tahu siapa dirimu karena kamu sangat sulit untuk kuraih" Lalu ia menghapus air matanya "Maaf " katanya malu.
"Kau adalah gadis yang paling taat beragama yang pernah kulihat. Dan kau adalah gadis terbaik dan tersabar yang pernah singgah dikehidupanku. Senyummu yang selalu datang di setiap pagi saat kita terus mengejar waktu supaya tidak telat terus mendamaikanku dan melupakan kejadian yang menimpaku semalam. Kuyakin kau tak akan mau tahu apa yang telah kuperbuat semalam."
"Seburuk apapun aku mau tahu!" jawabnya tegas
"Baiklah, aku hanyalah seorang yang harus menyelamatkan dunia ini dari kegelapan. Namun, karena nafsu yang telah bersarang dari dalam diri teman-temanku dan musuh-musuhku, aku telah beberapa kali dipakai di dalam misi. Kau yakin kau masih mau didekatku?" tanyaku. Kulihat air mukanya berubah
"Aku tetap ingin didekatmu" jawabnya mantap.
"Lupakan mimpimu" kataku
" Tak mau" tegasnya
"Aku tak mau kamu kenapa-kenapa. kamu itu gadis" kataku "Aku mohon lupakan"pintaku."Sudah cukup akan perhatianmu, aku sangat berterima kasih akan kasihmu, namun aku tak bisa bersamamu. Duniaku terlalu bahaya untukmu, lebih baik kau terus saja berjalan di dalam imanmu karena itulah yang selalu menyelamatkanmu dan membuatku terlalu sayang kepadamu" Lalu aku meninggalkannya yang tengah menangis terisak-isak.
Aku terus saja memandangi kotak makan yang berada di atas mejaku. Sesaat kemudian gadis itu masuk kekelas dangan wajahnya yang basah, namun aku dapat melihat matanya yang sembab. Aku melihatnya yang berusaha supaya tidak melihatku. Lalu aku memakan bekal itu sedikit demi sedikit tidak seperti biasanya. Itu karena aku sangat menyayangi makanan itu dan pembuat makanan itu.
Minggu, 20 Mei 2012
Senin, 07 Mei 2012
Aku hidup? bodohnya aku ini
Perkenalkan, namaku adalah A. Di dalam dunia Hukum aku memang terkenal sangat menakutkan sehingga aku dikenal dengan malaikat maut karena aku takkan segan-segan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada hampir setiap pelaku setiap perkara yang kutangani. Hal itulah yang membuat masyarakat di negara ini sangat takut padaku dan berharap semoga aku tak ikut mengadili tentang kasus mereka. Padahal aku hanya mengikuti semua undang-undang yang ada. Aku tak peduli seberapa banyaknya sesuatu yang mereka curi, seberapa banyaknya atau seberapa sadiskah mereka membunuh orang. Toh, buatku itu semua sama saja.
Aku seperti ini bukan karena aku memang psikopat yang kebetulan bekerja dalam dunia hukum. Aku hanya ingin tahu apakah mereka mengerti seperti apakah keadaanku dan perasaanku ketika memang sampai kini pun aku tak tahu aku ini hidup untuk siapa, hidup untuk apa. Toh, aku akhirnya hanya menghabiskan waktuku di dunia hukum yang sangat mewah tanpa sertifikat sama sekali. Setiap gajiku pun selalu kuhabiskan untuk hal-hal yang sama sekali tiada guna.
Didalam laptop ini, secara tak sengaja telah kutumpahkan kejadian naas itu. Saat aku masih belia, keluargaku entah menghilang kemana, rumahku dibakar oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Entah mengapa mereka tega melakukan itu namun mereka telah berhasil membuatku seperti ini. Yah aku awalnya memang sangat takut sendirian dan untunglah anjingku masih hidup.
Kubawa temanku itu satu-satunya ketempat yang setidaknya aku masih dapat bernaung. Yah, disebuah gang kecil yang kotor dan sepertinya tak layak huni, namun aku bersikeras untuk tetap tinggal disana.
Sudah beberapa minggu bahkan beberapa bulan kami tidak makan sama sekali karena memang pada saat itu kebutuhan pokok terutama bahan makanan sedang melambung sangat tinggi sehingga tak seorang pun kasihan pada kami dan mereka bahkan takkan rela memberikan sesuap nasi pada kami. Walaupun temanku ini sama sekali tak bergerak namun aku tetap optimis bahwa temanku ini masih hidup sebab akupun masih hidup. Namun aku sangat kelaparan dan sepotong roti yang dijual didepan jalan raya itu kelihatannya sangat lezat. Aku ingin sekali memakannya, hanya segigit saja supaya aku masih tetap hidup. Saat itu aku masih ingin hidup.
Bahkan pada saat salah seorang teman sekelasku secara tidak sengaja bertemu denganku di gang itu, ia melihatku dengan sejenak lalu menembaki kepala temanku berkali-kali. Aku berusaha melindungi temanku namun ia mendorongku sehingga aku tak dapat melindunginya. Aku terus memohon-mohon kepadanya untuk berhenti menembakinya. Setelah puas ia menembaki temanku itu ia dengan marah berkata kepadaku kalau sebenarnya temanku itu sudah tak ada. Namun aku tetap optimis kalau temanku itu masih hidup dan ia dengan gusar pergi meninggalkanku.
Hal terbodoh pun akhirnya telah kulakukan. Aku menjual temanku sendiri demi sepotong roti itu. Pemilik toko Roti itu marah dan tak mau menerima temanku itu. Ia juga tak rela aku mengambil roti itu. Namun dengan nekat aku mengambil roti itu dan kabur dari toko roti itu. Pemilik toko roti itu meneriakiku maling dan hampir semua orang mengejarku sehingga ketika aku terpojok aku dihakimi oleh mereka semua namun aku tetap berusaha untuk melindungi roti itu.
Setelah puas menghakimiku mereka meningalkanku begitu saja dalam keadaan sekarat. Namun aku bersyukur kalau rotiku tidak apa-apa. Aku sudah tak dapat menahan rasa lapar ini. Kalau aku tidak makan saat itu juga mungkin aku tak dapat melihat matahari terbit lagi. Akhirnya dengan air mata yang terus berlinang, dengan lahap aku menghabiskan rotiku.
Sudah berapa lama semenjak kejadian itu aku sudah tak mau menghitungnya lagi. Dengan pistol yang telah kutodongkan dikepalaku aku ingin mengakhiri hidupku. Namun, entah berapa kali aku juga tak ingin menghitungnya aku selalu kembali gagal bunuh diri karena teman sekelasku yang dulu menembaki anjingku itu selalu datang disaat aku ingin bunuh diri dan terus berusaha menggagalkannya.
Aku seperti ini bukan karena aku memang psikopat yang kebetulan bekerja dalam dunia hukum. Aku hanya ingin tahu apakah mereka mengerti seperti apakah keadaanku dan perasaanku ketika memang sampai kini pun aku tak tahu aku ini hidup untuk siapa, hidup untuk apa. Toh, aku akhirnya hanya menghabiskan waktuku di dunia hukum yang sangat mewah tanpa sertifikat sama sekali. Setiap gajiku pun selalu kuhabiskan untuk hal-hal yang sama sekali tiada guna.
Didalam laptop ini, secara tak sengaja telah kutumpahkan kejadian naas itu. Saat aku masih belia, keluargaku entah menghilang kemana, rumahku dibakar oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Entah mengapa mereka tega melakukan itu namun mereka telah berhasil membuatku seperti ini. Yah aku awalnya memang sangat takut sendirian dan untunglah anjingku masih hidup.
Kubawa temanku itu satu-satunya ketempat yang setidaknya aku masih dapat bernaung. Yah, disebuah gang kecil yang kotor dan sepertinya tak layak huni, namun aku bersikeras untuk tetap tinggal disana.
Sudah beberapa minggu bahkan beberapa bulan kami tidak makan sama sekali karena memang pada saat itu kebutuhan pokok terutama bahan makanan sedang melambung sangat tinggi sehingga tak seorang pun kasihan pada kami dan mereka bahkan takkan rela memberikan sesuap nasi pada kami. Walaupun temanku ini sama sekali tak bergerak namun aku tetap optimis bahwa temanku ini masih hidup sebab akupun masih hidup. Namun aku sangat kelaparan dan sepotong roti yang dijual didepan jalan raya itu kelihatannya sangat lezat. Aku ingin sekali memakannya, hanya segigit saja supaya aku masih tetap hidup. Saat itu aku masih ingin hidup.
Bahkan pada saat salah seorang teman sekelasku secara tidak sengaja bertemu denganku di gang itu, ia melihatku dengan sejenak lalu menembaki kepala temanku berkali-kali. Aku berusaha melindungi temanku namun ia mendorongku sehingga aku tak dapat melindunginya. Aku terus memohon-mohon kepadanya untuk berhenti menembakinya. Setelah puas ia menembaki temanku itu ia dengan marah berkata kepadaku kalau sebenarnya temanku itu sudah tak ada. Namun aku tetap optimis kalau temanku itu masih hidup dan ia dengan gusar pergi meninggalkanku.
Hal terbodoh pun akhirnya telah kulakukan. Aku menjual temanku sendiri demi sepotong roti itu. Pemilik toko Roti itu marah dan tak mau menerima temanku itu. Ia juga tak rela aku mengambil roti itu. Namun dengan nekat aku mengambil roti itu dan kabur dari toko roti itu. Pemilik toko roti itu meneriakiku maling dan hampir semua orang mengejarku sehingga ketika aku terpojok aku dihakimi oleh mereka semua namun aku tetap berusaha untuk melindungi roti itu.
Setelah puas menghakimiku mereka meningalkanku begitu saja dalam keadaan sekarat. Namun aku bersyukur kalau rotiku tidak apa-apa. Aku sudah tak dapat menahan rasa lapar ini. Kalau aku tidak makan saat itu juga mungkin aku tak dapat melihat matahari terbit lagi. Akhirnya dengan air mata yang terus berlinang, dengan lahap aku menghabiskan rotiku.
Sudah berapa lama semenjak kejadian itu aku sudah tak mau menghitungnya lagi. Dengan pistol yang telah kutodongkan dikepalaku aku ingin mengakhiri hidupku. Namun, entah berapa kali aku juga tak ingin menghitungnya aku selalu kembali gagal bunuh diri karena teman sekelasku yang dulu menembaki anjingku itu selalu datang disaat aku ingin bunuh diri dan terus berusaha menggagalkannya.
Kamis, 26 April 2012
Untukmu yang tak mungkin aku dapatkan
Aku hanyalah seorang anak baru yang dapat bersekolah gratis di suatu sekolah karena kata orang prestasiku disalah satu bidang seni beladiri sungguh mengerikan. Semula ku terima begitu saja tanpa mengetahui sama sekali nasib buruk yang akan menimpaku nantinya. Aku sekolah disana dengan mereka-mereka yang terus saja memandangku dengan takjub dan kagum sampai akhirnya aku bertemu dan sebangku dengan gadis buta dan bisu dan hanya dialah yang membuatku hangat.
senyumnya yang tulus menyambutku ketika aku hendak duduk disampingnya. Wajahnya yang terus mencari-cariku membuatku terhibur. Semakin hari aku semakin nyaman berada didekatnya dan perasaan pun makin menjadi. Namun sayang, mereka-mereka yang mengagumiku merasa gerah akan kedekatanku padanya. Tiap hari mereka semua makin sakit untuk terus mengerjai gadis ini namun aku akan terus berada disampingnya dan tetap berusaha untuk membuatnya tidak kesepian.
Sampai akhirnya penindasan yang membuatku tidak lagi merasa hangat itupun terjadi. Ketika aku dan ia bersama-sama pulang belakangan kami dipisahkan oleh mereka-mereka. Aku dibawa ke lapangan dan aku berhadapan dengan beberapa orang pendekar, seandainya mereka setingkat denganku mungkin aku dapat mengalahkan mereka, namun mereka itu sangat mengerikan dan aku kalah telak. Namun, masih terlihat dimataku wajah kepuasan mereka yang telah berhasil menghabisiku.
Saat mereka telah pergi, aku segera mencari dia. Aku tak peduli seberapa parah sakitku ini yang penting aku harus menemukan dan menyelamatkannya dari mahluk-mahluk mengerikan itu. Alangkah terkejutnya diriku ketika melihat keadaannya yang terikat dan sangat berantakan dimulut kecilnya tersumpal softex yang terdapat banyak darah. Kubuang rasa jijik ini untuk membuang sumpalannya itu, kulepas ikatannya, dan aku langsung memeluknya untuk menenangkan perasaannya kalau sampai kini pun aku tetap ada bersamanya. Dan di dalam peluk aku menangis bersamanya.
Akhirnya dia meninggalkanku dan sekolah ini. Dan aku cukup mengakui akan kesadisan mereka tentang suatu ketidaksukaan. Sudah tak ada lagi yang dapat kucintai dari sekolah ini, namun mereka takkan pernah mengijinkanku untuk terlepas dari sekolah ini. Aku tetap menghormati para petinggi disini dan semua orang yang berhubungan dengan sekolah ini. Aku hanya menghormatinya namun aku takkan sudi untuk menghargainya. Aku tetap menekuni seni yang membuatku berada di dalam neraka dingin ini hanya untuk membalas dendam kepada para pendekar-pendekar laknat itu dan aku akan mennjadi orang terkuat di dunia.
Sudah satu dekade ini aku merasa didalam kedinginan ini. Sudah satu dekade ini juga aku dinobatkan menjadi seorang pendekar beladiri yang paling ditakuti di dunia. Banyak orang yang mengagumiku namun tak sedikit orang yang takut padaku. Namun aku tak peduli, aku harus menjadi orang terkuat didunia ini. Mentari sudah tak bersinar untukku, untuk apa aku tetap memperjuangkannya?
Namun semua kekokohan dan kedinginanku hancur dan mencair ketika aku melihatnya kembali saat pertandingan final. Aku memenangkan pertandingan itu namun aku tak merayakannya dan terus mengejarnya. Ketika aku bertandang kerumahnya alangkah hancur hatiku melihatnya telah berkeluarga. Aku melihatnya yang terus bersembunyi dibelakang suaminya namun matanya memperlihatkan kerinduan yang amat mendalam. Suaminya pun baru pertama kali ini melihatnya seperti itu segera menurunkan senapannya yang diarahkan kepadaku dan membiarkan kami berdua. Aku sakit hati melihat semua ini, namun aku merasa bahagia melihat dia sudah bersama orang yang sangat mencintainya dan ingin melindunginya dari siapapun bahkan dariku.
"Aku rindu kehangatan yang dulu..."
Dia yang mendengarkanku langsung memelukku dan kami pun berpelukan untuk terakhir kalinya sama seperti hari terakhir saat kami hendak dipisahkan. Dan kami pun menangis di dalam peluk itu.
senyumnya yang tulus menyambutku ketika aku hendak duduk disampingnya. Wajahnya yang terus mencari-cariku membuatku terhibur. Semakin hari aku semakin nyaman berada didekatnya dan perasaan pun makin menjadi. Namun sayang, mereka-mereka yang mengagumiku merasa gerah akan kedekatanku padanya. Tiap hari mereka semua makin sakit untuk terus mengerjai gadis ini namun aku akan terus berada disampingnya dan tetap berusaha untuk membuatnya tidak kesepian.
Sampai akhirnya penindasan yang membuatku tidak lagi merasa hangat itupun terjadi. Ketika aku dan ia bersama-sama pulang belakangan kami dipisahkan oleh mereka-mereka. Aku dibawa ke lapangan dan aku berhadapan dengan beberapa orang pendekar, seandainya mereka setingkat denganku mungkin aku dapat mengalahkan mereka, namun mereka itu sangat mengerikan dan aku kalah telak. Namun, masih terlihat dimataku wajah kepuasan mereka yang telah berhasil menghabisiku.
Saat mereka telah pergi, aku segera mencari dia. Aku tak peduli seberapa parah sakitku ini yang penting aku harus menemukan dan menyelamatkannya dari mahluk-mahluk mengerikan itu. Alangkah terkejutnya diriku ketika melihat keadaannya yang terikat dan sangat berantakan dimulut kecilnya tersumpal softex yang terdapat banyak darah. Kubuang rasa jijik ini untuk membuang sumpalannya itu, kulepas ikatannya, dan aku langsung memeluknya untuk menenangkan perasaannya kalau sampai kini pun aku tetap ada bersamanya. Dan di dalam peluk aku menangis bersamanya.
Akhirnya dia meninggalkanku dan sekolah ini. Dan aku cukup mengakui akan kesadisan mereka tentang suatu ketidaksukaan. Sudah tak ada lagi yang dapat kucintai dari sekolah ini, namun mereka takkan pernah mengijinkanku untuk terlepas dari sekolah ini. Aku tetap menghormati para petinggi disini dan semua orang yang berhubungan dengan sekolah ini. Aku hanya menghormatinya namun aku takkan sudi untuk menghargainya. Aku tetap menekuni seni yang membuatku berada di dalam neraka dingin ini hanya untuk membalas dendam kepada para pendekar-pendekar laknat itu dan aku akan mennjadi orang terkuat di dunia.
Sudah satu dekade ini aku merasa didalam kedinginan ini. Sudah satu dekade ini juga aku dinobatkan menjadi seorang pendekar beladiri yang paling ditakuti di dunia. Banyak orang yang mengagumiku namun tak sedikit orang yang takut padaku. Namun aku tak peduli, aku harus menjadi orang terkuat didunia ini. Mentari sudah tak bersinar untukku, untuk apa aku tetap memperjuangkannya?
Namun semua kekokohan dan kedinginanku hancur dan mencair ketika aku melihatnya kembali saat pertandingan final. Aku memenangkan pertandingan itu namun aku tak merayakannya dan terus mengejarnya. Ketika aku bertandang kerumahnya alangkah hancur hatiku melihatnya telah berkeluarga. Aku melihatnya yang terus bersembunyi dibelakang suaminya namun matanya memperlihatkan kerinduan yang amat mendalam. Suaminya pun baru pertama kali ini melihatnya seperti itu segera menurunkan senapannya yang diarahkan kepadaku dan membiarkan kami berdua. Aku sakit hati melihat semua ini, namun aku merasa bahagia melihat dia sudah bersama orang yang sangat mencintainya dan ingin melindunginya dari siapapun bahkan dariku.
"Aku rindu kehangatan yang dulu..."
Dia yang mendengarkanku langsung memelukku dan kami pun berpelukan untuk terakhir kalinya sama seperti hari terakhir saat kami hendak dipisahkan. Dan kami pun menangis di dalam peluk itu.
Selasa, 07 Februari 2012
Malaikat Pelindung
(Cuman buat soundtrack gk resmi)
Malam ini, malam yang dingin ini aku telah berhasil mengalahkan dia. Rintik-rintik hujan yang mengenai tanganku lambat laun mulai membersihkan bercak-bercak darah yang menempel di tanganku. aku membiarkan saja tangan ini membasah dan bersih sedang kepalaku terus menengok ke bawah.
Di bawah guyuran hujan ini, di sebuah gang buntu yang terbengkalai ini, seorang gadis yang kelihatannya sudah tak terurus lagi mengadahkan kepalanya keatas, tatapannya terus menantang hujan yang terus-menerus mengeroyokinya dan aku. Dan beberapa saat kemudian aku melihat dia menangis. Yah, mungkin agak konyol bagaimana aku dapat meihat orang menangis dibawah guyuran hujan, apalagi hujan ini begitu deras. Tapi percayalah, aku benar-benar melihat dia sedang menangis. Lalu ia kembali membenamkan kepalanya di antara lutut itu. Aku akan pergi sebentar untuk mengawasi sekitar, mungkin saat aku kembali lagi kemari ia sudah tak ada.
Aku sudah kembali, saat aku menengok kembali kebawah, gadis itu masih dibawah. Haruskah aku mendatanginya? mungkin aku akan menemukan sesuatu disana, mengenai gadis malang itu.
Dia terlihat sangat ketakutan ketika dia melihatku tepat di depannya, aku ingin memeluknya. aku ingin melindunginya. Tatapannya beralih ke lain arah, aku ikuti arahnya dan aku melihat mayat seekor anak anjing tergeletak begitu saja disana. Aku kembali melihat wajahnya yang penuh tangis dan ketakutan. lalu ia memelukku sambil menangis.
Tak lama setelah itu, datanglah segerombol orang yang datang. Mereka kelihatan sangat sangar namun aku tidak takut untuk melindungi dia. Gadis itu kelihatan sangat ketakutan namun ia pasrah saja dan maju ke depan. Lalu kulihat pria itu mulai mengeluarkan pedangnya dan ingin menyayat gadis itu. Sentak aku mencegahnya dan berkelahi dengan semua pria itu .
Aku telah berhasil mengalahkan mereka semuanya, dan mereka pergi tunggang langgang. Namun gadis itu bukannya senang tetapi tangisnya makin menjadi. Ada apa dengan gadis itu? apakah karena ia telah kehilangan anjing itu yang telah bersama-sama dengannya selama 5 tahun terakhir ini sehingga ia telah merasa kehilangan dan kesepian? aku memeluknya dengan pelan dan melindunginya dari hujan namun gadis itu malah menyuruhku pergi.
Aku pergi meninggalkan dia seperti seekor anjing yang kabur setelah diomeli majikannya. Di sebuah taman mengahadap sebuah danau kecil. Di bawah pohon, aku terus beristirahat sambil melihat bintang yang bertebaran di angkasa. Aku terus memikirkan gadis itu, mungkinkah ini sudah waktunya untukku meninggalkan dunia ini, meninggalkan jasad ini? gadis itu, ya gadis itu. Dia telah membuatku hangat. Mata indahnya yang telah menantang hujan telah memberiku keberanian untuk menghadapi semua ini. Mungkin memang umurku tak akan lama. Tapi kumohon biarkan ia tidak sedih, tidak lagi merasakan kesepian, biarkan aku saja yang merasakan peneritaannya, jangan dia. Mungkin sebentar lagi aku tak akan berwujud di dunia ini. Tetapi biarkanlah ia merasakan apa itu kehangatan. Biarkanlah ia merasa bagaimana indahnya hidup bersama-sama orang yang hidup untuknya. Biarkanlah aku tak akan selamanya bahagia asalkan dia bahagia. Sungguh karena aku sangat mencintai dan ingin melindunginya.
Aku memberanikan diri untuk menghadapnya. Aku tak peduli apakah ia akan marah lagi padaku atau tidak. Aku ingin melihatnya.
Di gang itu, orang-orang yang sama ada lagi. Aku segera berlari untuk melindunginya. Lalu, setelah aku sampai disana dan ia berada dibelakangku, pria pemegang pedang itu dengan sekali ayunan telah memotong tangan kiriku. Rasanya sangat perih dan darah keluar dengan sangat deras dari potongan itu. Namun, aku tak akan pergi sebelum mereka pergi dan tak akan mengganggu gadis itu lagi. Aku akan terus melindunginya! Satu persatu bagian tubuhku terpisah dari tubuhku. Sekarang hanya tinggal kepalaku saja yang masih menyatu dan mungkin tak lama lagi juga akan terpisah. Namun, akan kuberikan senyuman pertama dan terakhirku untuknya. Saat aku telah berhasil memberinya senyuman dan hei! ia melhatnya! dengan rasa bahagia aku telah berani meninggalkan dunia ini dan si pemegang pedang itu telah memancung kepalaku.
Mugkin jasadku sudah tak memungkinkan lagi untuk kutinggali. Maka kini aku telah menjadi malaikat. Aku melihat mereka sudah pergi dengan rasa sesal, sedang gadis itu ia memegang kepalaku dan melihat kepalaku dengan penuh tangis haru dan ia mengucapkan "terima kasih".
Aku akan pergi sebentar untuk membersihkan noda-nodaku dan aku bertekad untuk terus melindunginya. Aku meminta ijin kepada tuanku supaya aku menjadi malaikat pelindung bagi gadis itu dan tuanku mengijinkannya.
Malam pertama ketika aku menjadi malaikat pelindungnya. Ia tidur di tempat itu dalam keadaan menggigil. Disamping mayat anak anjing itu, sambil memeluk jasad kepalaku ia tidur. Dengan kedua sayapku, aku menghangatkan dia supaya ia tidak kedinginan.
Sudah beberapa minggu setelah kejadian itu, kehidupannya telah membaik, dia telah merasakan bahagianya dicintai. Ternyata doaku terkabul dan aku tetap menjadi malaikat pelindung yg selalu berada disampingnya dan gadis itu dijuluki sebagai gadis penyembuh.
soundtrack lagi nih:
Kamis, 04 Agustus 2011
Sekilas tentang Rangkaian Bebas...
Aku hanyalah satu dari sekian banyaknya ciptaan Tuhan. Ciptaan yang hanya berada dari sekian mahluk hidup... . Namun, aku ingin merangkai segala sesuatu dengan kemauanku sendiri. Begitu bebas bagaikan burung-burung yang dengan bebasnya beterbangan dimana-mana sampai pada akhirnya waktulah yang memberhentikan mereka untuk terbang. Menjadi serangga-serangga hutan dan taman yang tiba-tiba muncul di hutan-hutan belantara dan pekarangan rumah-rumah .
Aku ingin hidup dengan tanpa adanya aturan-aturan yang tak lazim yang mungkin tidak ataupun dengan sengaja mengekang betapa bebasnya hidup ini. Hidup yang telah dianugrahkan oleh Tuhan untuk kita, semua mahluk yang dicintainya sehingga munculah kehidupan yang tak membaik bagi umat-umatnya yang taat pada-Nya. Namun, ketidakteraturan itulah yang ternyata membuat hidup ini indah dan membuat kita bersyukur dan memahami arti hidup yang sesungguhnya .
Aku tak ingin menjadi beban pada siapapun maka aku memilih untuk menjadi liar. Tapi tak hanya sekedar liar yang cukup merepotkan bagi mereka yag tak tahu bagaimana caranya menjaga segala sesuatu yang liar. Karena aku ingin menjadi sesuatu yang berarti (walau mungkin tak akan seorangpun yang menyadarinya karna aku adalah salah satu dari mereka).
Dari beberapa alinea yang telah kutulis , maka kuambil kesimpulan bahwa aku lah
Aku ingin hidup dengan tanpa adanya aturan-aturan yang tak lazim yang mungkin tidak ataupun dengan sengaja mengekang betapa bebasnya hidup ini. Hidup yang telah dianugrahkan oleh Tuhan untuk kita, semua mahluk yang dicintainya sehingga munculah kehidupan yang tak membaik bagi umat-umatnya yang taat pada-Nya. Namun, ketidakteraturan itulah yang ternyata membuat hidup ini indah dan membuat kita bersyukur dan memahami arti hidup yang sesungguhnya .
Aku tak ingin menjadi beban pada siapapun maka aku memilih untuk menjadi liar. Tapi tak hanya sekedar liar yang cukup merepotkan bagi mereka yag tak tahu bagaimana caranya menjaga segala sesuatu yang liar. Karena aku ingin menjadi sesuatu yang berarti (walau mungkin tak akan seorangpun yang menyadarinya karna aku adalah salah satu dari mereka).
Dari beberapa alinea yang telah kutulis , maka kuambil kesimpulan bahwa aku lah
Rangkaian Bebas
Merangkai bebas
Tanpa aturan namun indah
Liar namun bermakna
Langganan:
Postingan (Atom)