Hari ini hujan. Hari ini mendung dan hari ini tidak panas. Apakah ini mewakili keadaanku atau tidak aku tidak tahu. kemarin mendung, kemarin hujan dan kemarin tidak panas. Apakah kemarin juga mewakili perasaanku? aku tidak tahu.
Hahaha. Apakah benar bahkan cuaca pun mengerti perasaanku? mungkin itu hanya bohong. Mungkin Tuhan tengah mengejekku dengan cuaca-cuaca yang diberikan kepadaku. Saat itu, saat itulah ini semua dimulai.
Saat itu aku sangat bahagia, karena akhirnya ia mau berbagi kebahagiaannya bersamaku. Yah, sebenarnya sudah lama aku ingin ia merasa seperti itu dan di saat itu aku ada bersamanya. Saat itu aku sama sekali tidak tahu apa yang tengah terjadi namun kulihat ia sangat indah ketika ia sedang tertawa, ia sangat cantik ketika ia sedang bahagia. Dan mungkin karena itulah banyak orang yang ingin mendekatinya dan banyak orang yang ingin bersamanya. Namun tidak kusangka akan begini jadinya. searusnya aku sadar bahwa jangan pernah melihat orang dari wajahnya karena itu akan menjadi kenyataan yang sangat menyakitkan.
Namun aku sungguh tidak peduli dengan pepatah tua seperti itu dan aku tetap memilih untuk berasamanya. Sungguh, sesungguhnya aku bukanlah seorang abnormal, namun perasaan sayangku sebagai seorang sahabat inilah yang membutakanku sampai-sampai pepatah itupun akhirnya membuka mataku.
Saat itu, hari berjalan seperti biasanya. matahari yang begitu panas. Aula yang begitu pengap dan suara gemuruh dari orang-orang yang berada disekitarku dan disekitarnya. Aku secara terang-terangan membuka aibku kepadanya sebagai seorang yang bodoh yang berusaha untuk menjadi orang terbaik. Namun apa?, ternyata hal itu membuatnya jijik kepadaku dan memtuskan untuk pergi menjauh dariku.
Ditambah lagi, setelah kutelusuri ia lebih dalam lagi, ada kemungkinan yang membuatnya iri padaku (dan sampai kini akupun bingung apa yang membuatnya iri padaku). Aku mempunyai seorang kawan yang sangat rupawan sehingga wantia yang melihatnya mungkin ingin segera memilikinya. Dan apakah kedekatannya kepadakukah yang membuatnya menjauh dariku? ditambah lagi ia memang sedang dekat dengan seseorang yang sangat senang merebut semua teman-temanku.
Kini, mungkin mereka semua tidak akan menyadari akan sakitnya perasaanku. Namun, pasti suatu saat nanti di suatu tempat mereka akan menyadari akan hilangnya diriku. Hilang dimakan waktu tanpa akan pernah melihat diriku. Aku akan hilang seperti debu yang ditiup angin. Hilang melebur dan tidak tahu dimanakah lagi ia akan singgah. Atau mungkin, mereka selamanya akan menganggapku sebagai angin lalu saja. Aku datang hanya untuk menimbulkan masalah karena yang mereka lihat adalah aku si pembuat masalah.
Kawanku yang rupawan itu pasti juga akan termakan oleh rayuan busuknya dan menjadi membenciku. tapi... ah, untuk apa aku mengharapkan sesuatu dari dunia yang hina ini? toh, mereka semua tidak akan pernah kubawa mati karena mereka semua hanyalah fatamorgana. Sesuatu yang indah itu sangat menyakitkan. Namun sesuatu yang sangat pahit itu akan selamanya membekas.
Langitnya masih mendung, udaranya semakin lama semakin menghilang, langitnya akan hilang digantikan oleh si putri bulan dan dayang-dayang bintang. Waktu cepat sekali berlalu, mungkin apabila aku terbangun kembali, aku akan melihat si pangeran matahari bersama prajurit-prajurit awan, dan seterusnya. Aku berharap suapaya waktu itu akan segera datang dan aku akan pergi meninggalkan mereka semua dan mendapatkan kehidupanku yang baru yang lebih indah namun yang pasti akan lebih berbahaya dan lebih menyakitkan karena keindahan itu adalah fatamorgana. Ataukah, apakah mungkin yang saat akan datang itu adalah sesuatu yang sangat indah dan benar-benar indah karena bukan fatamorgana dan aku akan menetap disana. Karena mungkin segala sesuatunya yang berada disana akan mengubah cara pandangku yang penuh dengan rasa pesimis ini.
Rabu, 23 Januari 2013
Jumat, 14 September 2012
Pada jaman dahulu, pada zaman kerajaan, yang namanya pendidikan itu bukanlah sesuatu yang mahal. Pendidikan itu gratis adanya. Para pemerintah itu sangat baik. Mereka tidak peduli akan betapa mahalnya biaya yang harus mereka keluarkan. Mereka hanya memikirkan bagaimana supaya rakyatmya bisa maju dan damai sentosa.
Namun apa yang ada pada jaman dahulu dengan apa yang ada dijaman sekarang ini bedalah adanya. Pendidikan semakin mahal dan orang kaya-lah yang berkuasa. Namun apalah peduli masyarakat? tidak, mereka tidak ada pedulinya. Hanya orang-orang yang mempunya sifat dermawan-lah yang bisa mengabulkan permintaan si masyarakat kurang mampu.
Dia, gadis itu, kulihat ia memang rajin. Sangat rajin. Aku tahu ia luar dalam. Bahkan lebih daripada apa yang ada diotak mereka yang hidup disekitarnya. Namun, apa yang mereka lihat bedalah dengan apa yang aku lihat. Mereka hanya melihat hasilnya yang sangat kurang memuaskan. Bahkan tidak memuaskan sama sekali. Yah, sesungguhnya keberuntungan ia dalam hal pendidikan itu sangatlah buruk. Toh, semua orang mempunyai keberuntungan yang buruk, kan? bukan hanya dalam pendidikan?
Namun apapun yang ada dipikiran kehidupan sosial, orang pintar-lah yang berkuasa. Mereka tidak peduli betapa baiknya orang itu (hei, gadis ini sangat baik lho). Hanya orang-orang berhati sangat lembutlah yang dapat merasakan (berarti aku orang yang lembut). Pendidikannya sangat pas-pasan namun ia mempunyai sesuatu kepandaian yang lain yang tidak mungkin ada didalam akademi. Namun apa yang dilihat pada akademi itulah yang dilihat oleh dunia.
Akademi hanya akan melihat dari hasil akhir. Tak usah jauh-jauh. Akademi adalah kacamata dunia dalam melihat prestasi setiap individu. Padahal, sesungguhnya akademi belum trentu otaknya lebih encer daripada otak si individu. Namun bagaimana lagi? toh mereka hanyalah MELAKUKAN TUGAS-nya.
Kulihat gadis itu masuk kedalam suatu ruangan kelas. Gadis itu dengan gontainya masuk kedalam. Seakan-akan ia berfikir kembali ia tidak akan lulus. Ternyata ia masuk keruangan yang sama dengan ruanganku dan kufikir ia akan kembali menjadi teman sekelasku. Dan ternya benar. Ia sekarang kembali menjadi teman sekelasku.
Kulihat ada sedikit harapan muncul dari wajahnya. harapan kalau kali ini ia akan lulus. Aku juga berharap kali ini ia akan lulus. Namun kembali seperti awal tadi, apa yang diharapkan oleh si gadis belum tentu menjadi keinginan si pemberi nilai. Ingat, apa yang mereka inginkan itulah yang harus menjadi kenyataan. Ia dengan tekun berusaha mengerti apa yang dikatakan oleh si dosen, ia menulis beberapa hal yang penting yang ia dapat dari kuliah itu dan ia membacanya ulang.
Hal rutin itu menjadi pemandanganku setiap berada dikelas itu. Sudah 4 bulan ia melakukan itu. Di kelasku, di depanku, di jam yang sama. Kini tibalah ujian penentuan itu. Ujian yang sesungguhnya agak kurang penting karena itu hanyalah satu ujian. Yah, namun ujian itu adalah ujian penentu apakah kita pantas lulus, atau hanya beberapa dari kami sajalah yang diperbolehkan lulus? ujian itu, hanya diberi waktu selama 2 jam. Beberapa dari kami kelihatan sudah menyerah. Beberapa dari kami sudah mengumpulkan hasilnya. Bagiku, sesungguhnya 2 jam itu adalah waktu yang cukup lama untuk mengerjakan sekumpulan dari soal-soal ini sehingga bahkan dalam setengah dari waktu yang diberikan aku sudah menyelesaikannya terlebih dahulu. Namun aku malas untuk keluar dan aku memilih untuk melihat gadis itu terlebih dahulu.
Gadis itu, gadis yang sedikit memberi kekuatan pada kami yang lemah, tengah berduka. Pucat, dan hampir menangis melihat sekumpulan soalnya. Kuyakin, ia pasti kembali tidak dapat menjawab soal-soal itu. Pendidikan itu memanglah tidak adil. Namun ia adil. Walaupun ia tidak bisa, namun ia tidak seperti sebagian dari kami yang melakukan kecurangan. ia tidak mencontek maupun bekerja sama. Pengawasan di kampus ini sangat payah. Sehingga semua orang diberikan kebebasan untuk mencontek tanpa sepengetahuan dari si pengawas.
Tibalah saat yang memuakan itu. Hasil akhir telah diberitahukan. Yah, aku bilang inilah saat yang memuakkan karena tidak semua orang kelihatan berbahagia. Terutama gadis itu. Ia menangis dalam diam. Ia kembali tidak lulus.
Namun apa yang ada pada jaman dahulu dengan apa yang ada dijaman sekarang ini bedalah adanya. Pendidikan semakin mahal dan orang kaya-lah yang berkuasa. Namun apalah peduli masyarakat? tidak, mereka tidak ada pedulinya. Hanya orang-orang yang mempunya sifat dermawan-lah yang bisa mengabulkan permintaan si masyarakat kurang mampu.
Dia, gadis itu, kulihat ia memang rajin. Sangat rajin. Aku tahu ia luar dalam. Bahkan lebih daripada apa yang ada diotak mereka yang hidup disekitarnya. Namun, apa yang mereka lihat bedalah dengan apa yang aku lihat. Mereka hanya melihat hasilnya yang sangat kurang memuaskan. Bahkan tidak memuaskan sama sekali. Yah, sesungguhnya keberuntungan ia dalam hal pendidikan itu sangatlah buruk. Toh, semua orang mempunyai keberuntungan yang buruk, kan? bukan hanya dalam pendidikan?
Namun apapun yang ada dipikiran kehidupan sosial, orang pintar-lah yang berkuasa. Mereka tidak peduli betapa baiknya orang itu (hei, gadis ini sangat baik lho). Hanya orang-orang berhati sangat lembutlah yang dapat merasakan (berarti aku orang yang lembut). Pendidikannya sangat pas-pasan namun ia mempunyai sesuatu kepandaian yang lain yang tidak mungkin ada didalam akademi. Namun apa yang dilihat pada akademi itulah yang dilihat oleh dunia.
Akademi hanya akan melihat dari hasil akhir. Tak usah jauh-jauh. Akademi adalah kacamata dunia dalam melihat prestasi setiap individu. Padahal, sesungguhnya akademi belum trentu otaknya lebih encer daripada otak si individu. Namun bagaimana lagi? toh mereka hanyalah MELAKUKAN TUGAS-nya.
Kulihat gadis itu masuk kedalam suatu ruangan kelas. Gadis itu dengan gontainya masuk kedalam. Seakan-akan ia berfikir kembali ia tidak akan lulus. Ternyata ia masuk keruangan yang sama dengan ruanganku dan kufikir ia akan kembali menjadi teman sekelasku. Dan ternya benar. Ia sekarang kembali menjadi teman sekelasku.
Kulihat ada sedikit harapan muncul dari wajahnya. harapan kalau kali ini ia akan lulus. Aku juga berharap kali ini ia akan lulus. Namun kembali seperti awal tadi, apa yang diharapkan oleh si gadis belum tentu menjadi keinginan si pemberi nilai. Ingat, apa yang mereka inginkan itulah yang harus menjadi kenyataan. Ia dengan tekun berusaha mengerti apa yang dikatakan oleh si dosen, ia menulis beberapa hal yang penting yang ia dapat dari kuliah itu dan ia membacanya ulang.
Hal rutin itu menjadi pemandanganku setiap berada dikelas itu. Sudah 4 bulan ia melakukan itu. Di kelasku, di depanku, di jam yang sama. Kini tibalah ujian penentuan itu. Ujian yang sesungguhnya agak kurang penting karena itu hanyalah satu ujian. Yah, namun ujian itu adalah ujian penentu apakah kita pantas lulus, atau hanya beberapa dari kami sajalah yang diperbolehkan lulus? ujian itu, hanya diberi waktu selama 2 jam. Beberapa dari kami kelihatan sudah menyerah. Beberapa dari kami sudah mengumpulkan hasilnya. Bagiku, sesungguhnya 2 jam itu adalah waktu yang cukup lama untuk mengerjakan sekumpulan dari soal-soal ini sehingga bahkan dalam setengah dari waktu yang diberikan aku sudah menyelesaikannya terlebih dahulu. Namun aku malas untuk keluar dan aku memilih untuk melihat gadis itu terlebih dahulu.
Gadis itu, gadis yang sedikit memberi kekuatan pada kami yang lemah, tengah berduka. Pucat, dan hampir menangis melihat sekumpulan soalnya. Kuyakin, ia pasti kembali tidak dapat menjawab soal-soal itu. Pendidikan itu memanglah tidak adil. Namun ia adil. Walaupun ia tidak bisa, namun ia tidak seperti sebagian dari kami yang melakukan kecurangan. ia tidak mencontek maupun bekerja sama. Pengawasan di kampus ini sangat payah. Sehingga semua orang diberikan kebebasan untuk mencontek tanpa sepengetahuan dari si pengawas.
Tibalah saat yang memuakan itu. Hasil akhir telah diberitahukan. Yah, aku bilang inilah saat yang memuakkan karena tidak semua orang kelihatan berbahagia. Terutama gadis itu. Ia menangis dalam diam. Ia kembali tidak lulus.
Sabtu, 08 September 2012
Penantian panjang untuk tak yang pasti
Penantian panjang untuk suatu yang pasti. Aku terus memandangi layar komputer ini. Aku terus memandanginya dengan wajah harap-harap cemas "kapan ya akan datang" lamunku. Namun sayangnya waktu tak mau menunggu dan sebentar lagi waktu itu akan habis.
Kupandangi lagi keesokan harinya. Masih di depan layar komputer. Dengan komputer yang berbeda, waktu yang berbeda, dan tempat yang berbeda. Namun masih dengan website yang sama. Sungguh, sesungguhnya bagi sebagian orang (atau mungkin sebagian besar orang) Penantianku ini cukuplah konyol dan terlalu berlebihan untuk dikhawatirkan mengingat banyak hal yang menurut mereka lebih penting daripada ini. Namun, hei! semua orang itu mempunyai masalahnya masing-masing dan mereka tidak pantas untuk menyamakan masalah mereka kepada diriku.
Namun semalam aku telah memikirkan apa yang membuat mereka seperti itu. Egokah? ingin sekali berkata bahwa bukan karena ego. Namun pada kenyataannya, memang egolah yang mewakili semua ini. Egolah yang membuat kita kurang puas akan apa yang telah kita peroleh. Egolah yang membuat sebagian orang menjadi serakah dan egolah yang membuat manusia menjadi bukan manusia. dan kalau dipikirkan kembali, sepertinya mereka juga harus mempelajari arti seni yang sebenaranya.
Kembali lagi dengan diriku yang masih menatap layar komputer ini. Yah, aku melihat sendiri kenyataan yang mengatakan bahwa orang kaya adalah orang yang berkuasa. Hal itu memang terjadi karena mereka dapat mengubah segala sesuatu, menyelenggarakan segala sesuatu dan melakukan sesuatu sesuai kehendaknya. Mereka takkan segan-segan untuk menginjak dibawahnya namun yang berada dibawahnya takkan sanggup untuk membantingnya.
Kini sudah kelima harinya aku memandangi layar komputer ini. Tidak ada yang berbeda. Semuanya masih sama saja. Mata hatiku semakin nanar dibuatnya. Namun mereka tidaklah peduli. waktu terus berjalan dan saat itu hampir tiba. Tinggal saja menunggu hari yang semakin mendekat ini dan semuanya tentulah akan membuat penyesalan yang tak ada akhir. Hidup kembali dengan tekanan dan mereka tidak peduli. Kalaupun ada, mereka hanya ingin mendengar. Mereka hanya ingin melihat. Sebentar saja menatap miris namun sangat lama meninggalkan beban. Dan yah, mereka beberapa saat lagi akan tertawa puas
Kupandangi lagi keesokan harinya. Masih di depan layar komputer. Dengan komputer yang berbeda, waktu yang berbeda, dan tempat yang berbeda. Namun masih dengan website yang sama. Sungguh, sesungguhnya bagi sebagian orang (atau mungkin sebagian besar orang) Penantianku ini cukuplah konyol dan terlalu berlebihan untuk dikhawatirkan mengingat banyak hal yang menurut mereka lebih penting daripada ini. Namun, hei! semua orang itu mempunyai masalahnya masing-masing dan mereka tidak pantas untuk menyamakan masalah mereka kepada diriku.
Namun semalam aku telah memikirkan apa yang membuat mereka seperti itu. Egokah? ingin sekali berkata bahwa bukan karena ego. Namun pada kenyataannya, memang egolah yang mewakili semua ini. Egolah yang membuat kita kurang puas akan apa yang telah kita peroleh. Egolah yang membuat sebagian orang menjadi serakah dan egolah yang membuat manusia menjadi bukan manusia. dan kalau dipikirkan kembali, sepertinya mereka juga harus mempelajari arti seni yang sebenaranya.
Kembali lagi dengan diriku yang masih menatap layar komputer ini. Yah, aku melihat sendiri kenyataan yang mengatakan bahwa orang kaya adalah orang yang berkuasa. Hal itu memang terjadi karena mereka dapat mengubah segala sesuatu, menyelenggarakan segala sesuatu dan melakukan sesuatu sesuai kehendaknya. Mereka takkan segan-segan untuk menginjak dibawahnya namun yang berada dibawahnya takkan sanggup untuk membantingnya.
Kini sudah kelima harinya aku memandangi layar komputer ini. Tidak ada yang berbeda. Semuanya masih sama saja. Mata hatiku semakin nanar dibuatnya. Namun mereka tidaklah peduli. waktu terus berjalan dan saat itu hampir tiba. Tinggal saja menunggu hari yang semakin mendekat ini dan semuanya tentulah akan membuat penyesalan yang tak ada akhir. Hidup kembali dengan tekanan dan mereka tidak peduli. Kalaupun ada, mereka hanya ingin mendengar. Mereka hanya ingin melihat. Sebentar saja menatap miris namun sangat lama meninggalkan beban. Dan yah, mereka beberapa saat lagi akan tertawa puas
Rabu, 05 September 2012
Jeritan Yang tak terdengar
Kembalikan kehidupan kami. Kembalikan keluarga kami. Namun mungkin memang sudah tak dapat kembali. Namun biarlah, mungkin sudah saatnya kami akan punah.
Hidup kami. Hidup sebagai warga flora dan fauna. Semula sangat bahagia sebelum modernisasi itu datang. Manusia hidup sejahtera bersama kami dan mereka tidaklah serakah. Mereka menjaga kami dan terus mengembangbiakkan kami. Kami bahagia, mereka pun juga bahagia. Manusia mengagumi akan keindahan kami, mengagumi akan keasrian kami. Kami juga bersyukur kepada mereka yang terus merawat kami tanpa ada niatan untuk merusaknya. Saat itu, mereka belum tahu apa itu modernisasi. Mereka tidak tahu apa itu teknologi maupun alat-aat elektronik. Mereka menggunakan alat-alat tradisional yang sederhana dan tidak merusak.
Namun, semua itu berubah. Yah, mereka berubah ketika watak asli para manusia itu datang. yah, sifat egois yang merupakan sifat dasar manusia itu mulai ditujukan pada kami. Kami semua sakit hati, sedikit sakit hati karena mereka masih menghargai kami yang merupakan penduduk asli di tempat ini. Mereka masih melakukan tanggung jawab mereka.
Namun itu hanya sesaat. Manusia itu makin lama makin bertambah. Bangunan-bangunan itu makin lama makin banyak. Namun bagaimanakah dengan kami? bagaimanakah dengan kami yang makin lama makin berkurang. Bukan, bukan karna kami tidak mau berkembang biak. Kami tidak ingin punah. Kami masih ingin menyertai manusia-manusia itu. Kami masih ingin menjadi makanan untuk mereka, menjadi pelindung mreka dikala mereka kepanasan, dan kami juga masih ingin menjadi pencegah banjir. Kami juga ingin mereka tahu akan siapa kami dan mreka dapat melihat langsung akan keberadaan kami. Tidak seperti pendahulu kami yang harus punah pada zaman purba itu. Kami masih ingin hidup.
Namun apa yang telah mereka perbuat pada kami? mereka ketakutan melihat kami yang senang berkeliaran di tempat mereka. Padahal, hei! mereka itu mengungsi di tempat kami. Namun apakah mereka tidak sadar dengan apa yang telah mereka perbuat? mereka coba untuk menghancurkan kami. Mereka membuat barang-barang bermerek dari kulit kami. Kami sakit kalau harus dikuliti, namun mengapa demi kekayaan kalian harus menguliti kami? dan kalau pun mereka membiarkan kami untuk berkembang-biak terlebih dahulu, biarlah asalkan anak-anak kami dapat hidup bahagia. Namun apa? apakah mereka mau menuruti permohonan terakhir kami?
Tidak, jangan harap mereka mau menuruti. Kami kecewa akan mereka. Biarlah pada akhirnya kami akan habis dimakan zaman.
Hidup kami. Hidup sebagai warga flora dan fauna. Semula sangat bahagia sebelum modernisasi itu datang. Manusia hidup sejahtera bersama kami dan mereka tidaklah serakah. Mereka menjaga kami dan terus mengembangbiakkan kami. Kami bahagia, mereka pun juga bahagia. Manusia mengagumi akan keindahan kami, mengagumi akan keasrian kami. Kami juga bersyukur kepada mereka yang terus merawat kami tanpa ada niatan untuk merusaknya. Saat itu, mereka belum tahu apa itu modernisasi. Mereka tidak tahu apa itu teknologi maupun alat-aat elektronik. Mereka menggunakan alat-alat tradisional yang sederhana dan tidak merusak.
Namun, semua itu berubah. Yah, mereka berubah ketika watak asli para manusia itu datang. yah, sifat egois yang merupakan sifat dasar manusia itu mulai ditujukan pada kami. Kami semua sakit hati, sedikit sakit hati karena mereka masih menghargai kami yang merupakan penduduk asli di tempat ini. Mereka masih melakukan tanggung jawab mereka.
Namun itu hanya sesaat. Manusia itu makin lama makin bertambah. Bangunan-bangunan itu makin lama makin banyak. Namun bagaimanakah dengan kami? bagaimanakah dengan kami yang makin lama makin berkurang. Bukan, bukan karna kami tidak mau berkembang biak. Kami tidak ingin punah. Kami masih ingin menyertai manusia-manusia itu. Kami masih ingin menjadi makanan untuk mereka, menjadi pelindung mreka dikala mereka kepanasan, dan kami juga masih ingin menjadi pencegah banjir. Kami juga ingin mereka tahu akan siapa kami dan mreka dapat melihat langsung akan keberadaan kami. Tidak seperti pendahulu kami yang harus punah pada zaman purba itu. Kami masih ingin hidup.
Namun apa yang telah mereka perbuat pada kami? mereka ketakutan melihat kami yang senang berkeliaran di tempat mereka. Padahal, hei! mereka itu mengungsi di tempat kami. Namun apakah mereka tidak sadar dengan apa yang telah mereka perbuat? mereka coba untuk menghancurkan kami. Mereka membuat barang-barang bermerek dari kulit kami. Kami sakit kalau harus dikuliti, namun mengapa demi kekayaan kalian harus menguliti kami? dan kalau pun mereka membiarkan kami untuk berkembang-biak terlebih dahulu, biarlah asalkan anak-anak kami dapat hidup bahagia. Namun apa? apakah mereka mau menuruti permohonan terakhir kami?
Tidak, jangan harap mereka mau menuruti. Kami kecewa akan mereka. Biarlah pada akhirnya kami akan habis dimakan zaman.
Minggu, 03 Juni 2012
India...India (Untukmu kawanku yang sangat kurindukan)
Pada tanggal 31Mei lalu. Setelah aku menyelesaikan salah satu kegiatanku, sejenak aku datang ke workshop itu. Yah, workshop untuk memperkenalkan sebagian budaya di dunia itu. Walaupun acara itu akan selesai aku tetap berjalan-jalan kedalamnya.
Didalam workshop itu kutemukan suatu stand yang sedikit menceritakan tentang India. India... seketika aku teringat akan kawanku saat SMP dahulu. Yah, lebih tepatnya dialah kawan karibku atas ketidakadilan yang kualami saat itu. Ah sudahlah lupakan! aku ingin mencoba salah satu alat musik India yang ditawarkan disana.
Setelah aku puas bermain-main dengan alat musik itu dan setelah aku puas bermain-main dengan kawan-kawan karibku akhirnya aku berlatih kembali sampai malam. Saat malam itu aku berhasil terbuai oleh gerakan-gerakan Wushu yang indah yang secara tidak sadar telah mereka suguhkan padaku. Dan saat itu pula aku sejenak melupakan akan kawanku yang dahulu kalau tidak aku tak tahu kerinduan apalagi yang akan kubuat.
Ah akhirnya latihan itu selesai. Sudah malam, aku harus bergegas pulang. yah, bergegas aku mencari kendaraan umum untuk menghantarkan aku pulang. Dan sialnya lagi suasana malam di kota metropolitan ini telah sukses membuatku teringat kembali akan dia.
Aku teringat saat dia tengah bermain-main bersamaku setelah sekolah. Walaupun dia itu sangat besar dan aku begitu kecil bila berhadapan dengan dia. Namun aku terus berusaha untuk menangkap wajahnya dan itu telah sukses membuatnya tertawa. Pria India yang berimigrasi di Indonesia dan sekolah disini memang sangat berbeda dengan orang-orang Indonesia yang hidup disekitarku saat itu. Wajahnya dan tubuhnya yang menunjukkan kalau dia itu pria India asli dan sifatnya pun sangat berbeda dengan orang-orang Indonesia yang saat itu sedang sangat labil dan menomorsatukan diskriminasi kepada orang-orang culun dan berbeda dengan mereka. Mungkinkah karena aku sepintas sering dibilang orang India apalagi saat aku sedang tersenyum. Pantaskah aku dikira orang India? padahal sesungguhnya wanita-wanita India itu sangat indah dengan kulit sawo matangnya dan mata besarnya itu. Dan lagi orang-orang India itu sangat cerdas dalam dunia teknologi.
Dan akhirnya setelah lulus SMP aku sudah tak bertemu lagi dengan dia. SMA kulanjutkan dengan hampa namun aku belum menyadari kehampaan itu sampai akhirnya aku kuliah dan kesepian itu datang kembali. Dan bodohnya aku itu disaat yang tak terduga aku bertemu kembali dengannya dan aku sama sekali tak membawa ponselku. Aku menyia-nyiakan kesempatan itu dan aku kembali rindu padanya.
Untukmu kawanku yang kini aku tak tahu kau ada dimana, kau sedang apa,,, aku hanya ingin berkata kalau aku sangat merindukanmu dan ingin bermain-main seperti dahulu :')
Didalam workshop itu kutemukan suatu stand yang sedikit menceritakan tentang India. India... seketika aku teringat akan kawanku saat SMP dahulu. Yah, lebih tepatnya dialah kawan karibku atas ketidakadilan yang kualami saat itu. Ah sudahlah lupakan! aku ingin mencoba salah satu alat musik India yang ditawarkan disana.
Setelah aku puas bermain-main dengan alat musik itu dan setelah aku puas bermain-main dengan kawan-kawan karibku akhirnya aku berlatih kembali sampai malam. Saat malam itu aku berhasil terbuai oleh gerakan-gerakan Wushu yang indah yang secara tidak sadar telah mereka suguhkan padaku. Dan saat itu pula aku sejenak melupakan akan kawanku yang dahulu kalau tidak aku tak tahu kerinduan apalagi yang akan kubuat.
Ah akhirnya latihan itu selesai. Sudah malam, aku harus bergegas pulang. yah, bergegas aku mencari kendaraan umum untuk menghantarkan aku pulang. Dan sialnya lagi suasana malam di kota metropolitan ini telah sukses membuatku teringat kembali akan dia.
Aku teringat saat dia tengah bermain-main bersamaku setelah sekolah. Walaupun dia itu sangat besar dan aku begitu kecil bila berhadapan dengan dia. Namun aku terus berusaha untuk menangkap wajahnya dan itu telah sukses membuatnya tertawa. Pria India yang berimigrasi di Indonesia dan sekolah disini memang sangat berbeda dengan orang-orang Indonesia yang hidup disekitarku saat itu. Wajahnya dan tubuhnya yang menunjukkan kalau dia itu pria India asli dan sifatnya pun sangat berbeda dengan orang-orang Indonesia yang saat itu sedang sangat labil dan menomorsatukan diskriminasi kepada orang-orang culun dan berbeda dengan mereka. Mungkinkah karena aku sepintas sering dibilang orang India apalagi saat aku sedang tersenyum. Pantaskah aku dikira orang India? padahal sesungguhnya wanita-wanita India itu sangat indah dengan kulit sawo matangnya dan mata besarnya itu. Dan lagi orang-orang India itu sangat cerdas dalam dunia teknologi.
Dan akhirnya setelah lulus SMP aku sudah tak bertemu lagi dengan dia. SMA kulanjutkan dengan hampa namun aku belum menyadari kehampaan itu sampai akhirnya aku kuliah dan kesepian itu datang kembali. Dan bodohnya aku itu disaat yang tak terduga aku bertemu kembali dengannya dan aku sama sekali tak membawa ponselku. Aku menyia-nyiakan kesempatan itu dan aku kembali rindu padanya.
Untukmu kawanku yang kini aku tak tahu kau ada dimana, kau sedang apa,,, aku hanya ingin berkata kalau aku sangat merindukanmu dan ingin bermain-main seperti dahulu :')
Minggu, 20 Mei 2012
maaf
Ah sial! lagi-lagi aku tertangkap. Ah aku tak tahu apalagi yang akan mereka perbuat kepadaku sedang rasa sakit dan lubangku yang semakin membesar akibat kemarin mereka memperkosaku belum kunjung sembuh. Seharusnya aku sudah lolos dari dua mahluk homo ini yang ingin memperkosaku, namun mereka berdua mengikatku sehingga aku tak bisa kemana-mana sedang mereka berdua terus berdebat tentang siapa dulu yang akan menusukku . Apakah si raksasa yang akan membuat lubangku semakin membesar atau si mahluk yang besarnya sedikit lebih besar daripadaku.
Akhirnya mereka setuju untuk langsung menusukku secara sekaligus. Ketika alat-alat mereka sudah berhasil bersarang didalam lubangku rasanya sangat menyakitkan sampai-sampai aku hampir mati rasanya. Aku terus berteriak-teriak kesakitan, namun mungkin teriakanku yag sepertinya terlihat agak menikmati membuat mereka makin nafsu dan liar untuk memompanya dan menusuk lebih dalam. Aku semakin kesakitan.
Mungkin karena teriakanku yang semakin membesar atau tugas mereka yang selesai akhirnya mereka datang untuk menyelamatkanku dari kedua homo ini. mereka membawaku yang tengah telanjang bulat tanpa sehelai benangpun ini ke dalam markas. Ketika didalam mobil, beberapa dari mereka iseng bermain-main dengan penisku. Namun kubiarkan saja karena aku sangat lemas untuk meladeni mereka.
Ketika kami sudah berada di dalam markas, mereka langsung membuatku mengangkang lalu mengikat kaki dan tanganku ke ujung-ujung tempat tidur lalu mereka membuka lubangku sebesar mungkin dan secara bergilir memasukkan tangannya kedalam lubangku. Aku berteriak keras-keras karena sakit sekali namun percuma karena markas ini kedap suara dan teman-temanku terus memperhatikan proses pemasukan tangan itu dan menunggu secara tidak sabar.
Setelah mereka berhasil memastikan bahwa di dalam lubangku tidak terdapat apa-apa, mereka tidak langsung melepaskan ikatanku dan pergi meninggalkanku di dalam markas. Namun mereka melakukan sex party dan aku adalah objeknya. Akhirnya pesta yang berlangsung selama hampir dua jam itu selesai dan ikatanku pun dilepaskan. Mereka meninggalkanku yang sangat lemas ini dan markas ini dengan meninggalkan satu stel pakaian dan sepertinya mereka memang tahu cara berpakaianku dan beberapa lembar uang. Sepertinya sebagai tanda minta maaf atas keterlambatan mereka. Ah aku hampir lupa kalau besok aku ada kelas dan kembali bertemu dengan gadis itu...Yah gadis itu.
Setelah aku meninggalkan markas itu, aku tak langsung kembali ke kostanku tetapi aku malah ke toko dan membeli sebotol bir. Untuk melupakan kejadian itu sejenak dan gadis itu. Aku terus menengguk minuman itu hingga akhirnya aku mabuk dan tertidur disebuah bangku taman. Dan entah mengapa aku tetap memimpikan gadis itu.
Ketika terbangun, hari sudah siang dan aku sepertinya terlambat ke kampus. Aku kembali ke kostanku dan menyiapkan semuanya namun aku tak sempat mandi. Ketika tengah berlari mengejar waktu aku berpapasan dengan gadis itu. Ditengah itu entah mengapa dia tetap dapat tersenyum denganku? dan ah senyumnya... seketika membuatku damai? namun aku harus tetap tidak menyukai gadis itu dan membuat dia membenciku karena aku tak pantas untuk dia!dia itu adalah gadis yang sangat taat beragama dan anti kekerasan. Beda denganku yang sudah ternoda ini.
Namun semakin aku masa bodoh dengannya semakin ia mendekatiku. Aku suka caranya mendekatiku karena caranya sangat lembut dan penuh kasih. Aku merasa damai. Yah memang dia mempunyai banyak saingan karena dikampus ini aku sangat populer karena prestasiku, ketampananku, keseksianku dan kekereanku. Hanya gadis iu gadis terjelek yang terus mengejarku sehingga aku takkan segan-segan untuk mengasarinya namun ia sepertinya terus berusaha hanya untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan kecil dariku.
Pernah satu kali aku membuat penghinaan terbesar kepadanya yang mungkin saja apabila aku melakukannya pada orang lain, dia akan membenciku selamanya. Aku tahu selama ini diam-diam dia selalu memfotoku . aku tahu ia melakukannya itu selama bertahun-tahun. Dan ketika ia telah berhasil membuatkanku album tentang diriku aku langsung membakarnya didepan mata dia. Dia menangis pelan-pelan namun aku tertawa keras-kersa tepat dikupingnya dia. Lalu aku mengerjai dia dan membaiarkan dia kedinginan dengan pakaiannya yang robek2. Aku tak peduli dengan apa yang akan dia hadapi di kota keras ini nantinya sedangkan ia terus memanggilku dengan tangisannya itu.
Hari ini pun, di kelas, ia telah membuatkanku sarapan kalau-kalau aku kelaparan karena tak sempat sarapan. Aku tak langsung memakan sarapannya seperti yang biasanya kulakukan didepannya dan membuatnya tersenyum. Namun, aku menatap matanya dalam-dalam dan iapun sedikit ketakutan.
"Apa maumu?" tanyaku tajam.
Gadis itu diam membisu.
"Jangan memaksaku" gertaku pelan.
"Aku mengidolakanmu. Aku hanya ingin berada didekatmu dan selalu bersama-sama denganmu. Disini dingin dan aku tak mau sendiri karena aku takut kesepian. Aku tahu aku sangat mengganggumu dan berharap aku tak ada disini dan tak memikirkanmu. Namun, setiap malam aku berdoa supaya Tuhan mau membuatku melupakanmu, Ia malah semakin menumbuhkan perasaanku kepadamu" jawabnya hampir menangis.
"Lebih baik kita berbicara di tempat sepi" Lalu aku membawanya keluar kelas dan langsung menuju ketempat sepi.
"Makanannya?" tanyanya
"Aku tak nafsu" jawabku "Kamu tak tahu siapa diriku. Dan kuharap kamu tak tahu siapa diriku. Maka itu aku terus mengasarimu. Namun dari semua gadis itu, hanya kamu yang selalu aku pikirkan."
"Aku tak akan pernah lupa akan semua yang telah kamu perbuat kepadaku, karena itu akan menjadi kenangan berharga buatku. Aku memang tak tahu siapa dirimu karena kamu sangat sulit untuk kuraih" Lalu ia menghapus air matanya "Maaf " katanya malu.
"Kau adalah gadis yang paling taat beragama yang pernah kulihat. Dan kau adalah gadis terbaik dan tersabar yang pernah singgah dikehidupanku. Senyummu yang selalu datang di setiap pagi saat kita terus mengejar waktu supaya tidak telat terus mendamaikanku dan melupakan kejadian yang menimpaku semalam. Kuyakin kau tak akan mau tahu apa yang telah kuperbuat semalam."
"Seburuk apapun aku mau tahu!" jawabnya tegas
"Baiklah, aku hanyalah seorang yang harus menyelamatkan dunia ini dari kegelapan. Namun, karena nafsu yang telah bersarang dari dalam diri teman-temanku dan musuh-musuhku, aku telah beberapa kali dipakai di dalam misi. Kau yakin kau masih mau didekatku?" tanyaku. Kulihat air mukanya berubah
"Aku tetap ingin didekatmu" jawabnya mantap.
"Lupakan mimpimu" kataku
" Tak mau" tegasnya
"Aku tak mau kamu kenapa-kenapa. kamu itu gadis" kataku "Aku mohon lupakan"pintaku."Sudah cukup akan perhatianmu, aku sangat berterima kasih akan kasihmu, namun aku tak bisa bersamamu. Duniaku terlalu bahaya untukmu, lebih baik kau terus saja berjalan di dalam imanmu karena itulah yang selalu menyelamatkanmu dan membuatku terlalu sayang kepadamu" Lalu aku meninggalkannya yang tengah menangis terisak-isak.
Aku terus saja memandangi kotak makan yang berada di atas mejaku. Sesaat kemudian gadis itu masuk kekelas dangan wajahnya yang basah, namun aku dapat melihat matanya yang sembab. Aku melihatnya yang berusaha supaya tidak melihatku. Lalu aku memakan bekal itu sedikit demi sedikit tidak seperti biasanya. Itu karena aku sangat menyayangi makanan itu dan pembuat makanan itu.
Akhirnya mereka setuju untuk langsung menusukku secara sekaligus. Ketika alat-alat mereka sudah berhasil bersarang didalam lubangku rasanya sangat menyakitkan sampai-sampai aku hampir mati rasanya. Aku terus berteriak-teriak kesakitan, namun mungkin teriakanku yag sepertinya terlihat agak menikmati membuat mereka makin nafsu dan liar untuk memompanya dan menusuk lebih dalam. Aku semakin kesakitan.
Mungkin karena teriakanku yang semakin membesar atau tugas mereka yang selesai akhirnya mereka datang untuk menyelamatkanku dari kedua homo ini. mereka membawaku yang tengah telanjang bulat tanpa sehelai benangpun ini ke dalam markas. Ketika didalam mobil, beberapa dari mereka iseng bermain-main dengan penisku. Namun kubiarkan saja karena aku sangat lemas untuk meladeni mereka.
Ketika kami sudah berada di dalam markas, mereka langsung membuatku mengangkang lalu mengikat kaki dan tanganku ke ujung-ujung tempat tidur lalu mereka membuka lubangku sebesar mungkin dan secara bergilir memasukkan tangannya kedalam lubangku. Aku berteriak keras-keras karena sakit sekali namun percuma karena markas ini kedap suara dan teman-temanku terus memperhatikan proses pemasukan tangan itu dan menunggu secara tidak sabar.
Setelah mereka berhasil memastikan bahwa di dalam lubangku tidak terdapat apa-apa, mereka tidak langsung melepaskan ikatanku dan pergi meninggalkanku di dalam markas. Namun mereka melakukan sex party dan aku adalah objeknya. Akhirnya pesta yang berlangsung selama hampir dua jam itu selesai dan ikatanku pun dilepaskan. Mereka meninggalkanku yang sangat lemas ini dan markas ini dengan meninggalkan satu stel pakaian dan sepertinya mereka memang tahu cara berpakaianku dan beberapa lembar uang. Sepertinya sebagai tanda minta maaf atas keterlambatan mereka. Ah aku hampir lupa kalau besok aku ada kelas dan kembali bertemu dengan gadis itu...Yah gadis itu.
Setelah aku meninggalkan markas itu, aku tak langsung kembali ke kostanku tetapi aku malah ke toko dan membeli sebotol bir. Untuk melupakan kejadian itu sejenak dan gadis itu. Aku terus menengguk minuman itu hingga akhirnya aku mabuk dan tertidur disebuah bangku taman. Dan entah mengapa aku tetap memimpikan gadis itu.
Ketika terbangun, hari sudah siang dan aku sepertinya terlambat ke kampus. Aku kembali ke kostanku dan menyiapkan semuanya namun aku tak sempat mandi. Ketika tengah berlari mengejar waktu aku berpapasan dengan gadis itu. Ditengah itu entah mengapa dia tetap dapat tersenyum denganku? dan ah senyumnya... seketika membuatku damai? namun aku harus tetap tidak menyukai gadis itu dan membuat dia membenciku karena aku tak pantas untuk dia!dia itu adalah gadis yang sangat taat beragama dan anti kekerasan. Beda denganku yang sudah ternoda ini.
Namun semakin aku masa bodoh dengannya semakin ia mendekatiku. Aku suka caranya mendekatiku karena caranya sangat lembut dan penuh kasih. Aku merasa damai. Yah memang dia mempunyai banyak saingan karena dikampus ini aku sangat populer karena prestasiku, ketampananku, keseksianku dan kekereanku. Hanya gadis iu gadis terjelek yang terus mengejarku sehingga aku takkan segan-segan untuk mengasarinya namun ia sepertinya terus berusaha hanya untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan kecil dariku.
Pernah satu kali aku membuat penghinaan terbesar kepadanya yang mungkin saja apabila aku melakukannya pada orang lain, dia akan membenciku selamanya. Aku tahu selama ini diam-diam dia selalu memfotoku . aku tahu ia melakukannya itu selama bertahun-tahun. Dan ketika ia telah berhasil membuatkanku album tentang diriku aku langsung membakarnya didepan mata dia. Dia menangis pelan-pelan namun aku tertawa keras-kersa tepat dikupingnya dia. Lalu aku mengerjai dia dan membaiarkan dia kedinginan dengan pakaiannya yang robek2. Aku tak peduli dengan apa yang akan dia hadapi di kota keras ini nantinya sedangkan ia terus memanggilku dengan tangisannya itu.
Hari ini pun, di kelas, ia telah membuatkanku sarapan kalau-kalau aku kelaparan karena tak sempat sarapan. Aku tak langsung memakan sarapannya seperti yang biasanya kulakukan didepannya dan membuatnya tersenyum. Namun, aku menatap matanya dalam-dalam dan iapun sedikit ketakutan.
"Apa maumu?" tanyaku tajam.
Gadis itu diam membisu.
"Jangan memaksaku" gertaku pelan.
"Aku mengidolakanmu. Aku hanya ingin berada didekatmu dan selalu bersama-sama denganmu. Disini dingin dan aku tak mau sendiri karena aku takut kesepian. Aku tahu aku sangat mengganggumu dan berharap aku tak ada disini dan tak memikirkanmu. Namun, setiap malam aku berdoa supaya Tuhan mau membuatku melupakanmu, Ia malah semakin menumbuhkan perasaanku kepadamu" jawabnya hampir menangis.
"Lebih baik kita berbicara di tempat sepi" Lalu aku membawanya keluar kelas dan langsung menuju ketempat sepi.
"Makanannya?" tanyanya
"Aku tak nafsu" jawabku "Kamu tak tahu siapa diriku. Dan kuharap kamu tak tahu siapa diriku. Maka itu aku terus mengasarimu. Namun dari semua gadis itu, hanya kamu yang selalu aku pikirkan."
"Aku tak akan pernah lupa akan semua yang telah kamu perbuat kepadaku, karena itu akan menjadi kenangan berharga buatku. Aku memang tak tahu siapa dirimu karena kamu sangat sulit untuk kuraih" Lalu ia menghapus air matanya "Maaf " katanya malu.
"Kau adalah gadis yang paling taat beragama yang pernah kulihat. Dan kau adalah gadis terbaik dan tersabar yang pernah singgah dikehidupanku. Senyummu yang selalu datang di setiap pagi saat kita terus mengejar waktu supaya tidak telat terus mendamaikanku dan melupakan kejadian yang menimpaku semalam. Kuyakin kau tak akan mau tahu apa yang telah kuperbuat semalam."
"Seburuk apapun aku mau tahu!" jawabnya tegas
"Baiklah, aku hanyalah seorang yang harus menyelamatkan dunia ini dari kegelapan. Namun, karena nafsu yang telah bersarang dari dalam diri teman-temanku dan musuh-musuhku, aku telah beberapa kali dipakai di dalam misi. Kau yakin kau masih mau didekatku?" tanyaku. Kulihat air mukanya berubah
"Aku tetap ingin didekatmu" jawabnya mantap.
"Lupakan mimpimu" kataku
" Tak mau" tegasnya
"Aku tak mau kamu kenapa-kenapa. kamu itu gadis" kataku "Aku mohon lupakan"pintaku."Sudah cukup akan perhatianmu, aku sangat berterima kasih akan kasihmu, namun aku tak bisa bersamamu. Duniaku terlalu bahaya untukmu, lebih baik kau terus saja berjalan di dalam imanmu karena itulah yang selalu menyelamatkanmu dan membuatku terlalu sayang kepadamu" Lalu aku meninggalkannya yang tengah menangis terisak-isak.
Aku terus saja memandangi kotak makan yang berada di atas mejaku. Sesaat kemudian gadis itu masuk kekelas dangan wajahnya yang basah, namun aku dapat melihat matanya yang sembab. Aku melihatnya yang berusaha supaya tidak melihatku. Lalu aku memakan bekal itu sedikit demi sedikit tidak seperti biasanya. Itu karena aku sangat menyayangi makanan itu dan pembuat makanan itu.
Senin, 07 Mei 2012
Aku hidup? bodohnya aku ini
Perkenalkan, namaku adalah A. Di dalam dunia Hukum aku memang terkenal sangat menakutkan sehingga aku dikenal dengan malaikat maut karena aku takkan segan-segan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada hampir setiap pelaku setiap perkara yang kutangani. Hal itulah yang membuat masyarakat di negara ini sangat takut padaku dan berharap semoga aku tak ikut mengadili tentang kasus mereka. Padahal aku hanya mengikuti semua undang-undang yang ada. Aku tak peduli seberapa banyaknya sesuatu yang mereka curi, seberapa banyaknya atau seberapa sadiskah mereka membunuh orang. Toh, buatku itu semua sama saja.
Aku seperti ini bukan karena aku memang psikopat yang kebetulan bekerja dalam dunia hukum. Aku hanya ingin tahu apakah mereka mengerti seperti apakah keadaanku dan perasaanku ketika memang sampai kini pun aku tak tahu aku ini hidup untuk siapa, hidup untuk apa. Toh, aku akhirnya hanya menghabiskan waktuku di dunia hukum yang sangat mewah tanpa sertifikat sama sekali. Setiap gajiku pun selalu kuhabiskan untuk hal-hal yang sama sekali tiada guna.
Didalam laptop ini, secara tak sengaja telah kutumpahkan kejadian naas itu. Saat aku masih belia, keluargaku entah menghilang kemana, rumahku dibakar oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Entah mengapa mereka tega melakukan itu namun mereka telah berhasil membuatku seperti ini. Yah aku awalnya memang sangat takut sendirian dan untunglah anjingku masih hidup.
Kubawa temanku itu satu-satunya ketempat yang setidaknya aku masih dapat bernaung. Yah, disebuah gang kecil yang kotor dan sepertinya tak layak huni, namun aku bersikeras untuk tetap tinggal disana.
Sudah beberapa minggu bahkan beberapa bulan kami tidak makan sama sekali karena memang pada saat itu kebutuhan pokok terutama bahan makanan sedang melambung sangat tinggi sehingga tak seorang pun kasihan pada kami dan mereka bahkan takkan rela memberikan sesuap nasi pada kami. Walaupun temanku ini sama sekali tak bergerak namun aku tetap optimis bahwa temanku ini masih hidup sebab akupun masih hidup. Namun aku sangat kelaparan dan sepotong roti yang dijual didepan jalan raya itu kelihatannya sangat lezat. Aku ingin sekali memakannya, hanya segigit saja supaya aku masih tetap hidup. Saat itu aku masih ingin hidup.
Bahkan pada saat salah seorang teman sekelasku secara tidak sengaja bertemu denganku di gang itu, ia melihatku dengan sejenak lalu menembaki kepala temanku berkali-kali. Aku berusaha melindungi temanku namun ia mendorongku sehingga aku tak dapat melindunginya. Aku terus memohon-mohon kepadanya untuk berhenti menembakinya. Setelah puas ia menembaki temanku itu ia dengan marah berkata kepadaku kalau sebenarnya temanku itu sudah tak ada. Namun aku tetap optimis kalau temanku itu masih hidup dan ia dengan gusar pergi meninggalkanku.
Hal terbodoh pun akhirnya telah kulakukan. Aku menjual temanku sendiri demi sepotong roti itu. Pemilik toko Roti itu marah dan tak mau menerima temanku itu. Ia juga tak rela aku mengambil roti itu. Namun dengan nekat aku mengambil roti itu dan kabur dari toko roti itu. Pemilik toko roti itu meneriakiku maling dan hampir semua orang mengejarku sehingga ketika aku terpojok aku dihakimi oleh mereka semua namun aku tetap berusaha untuk melindungi roti itu.
Setelah puas menghakimiku mereka meningalkanku begitu saja dalam keadaan sekarat. Namun aku bersyukur kalau rotiku tidak apa-apa. Aku sudah tak dapat menahan rasa lapar ini. Kalau aku tidak makan saat itu juga mungkin aku tak dapat melihat matahari terbit lagi. Akhirnya dengan air mata yang terus berlinang, dengan lahap aku menghabiskan rotiku.
Sudah berapa lama semenjak kejadian itu aku sudah tak mau menghitungnya lagi. Dengan pistol yang telah kutodongkan dikepalaku aku ingin mengakhiri hidupku. Namun, entah berapa kali aku juga tak ingin menghitungnya aku selalu kembali gagal bunuh diri karena teman sekelasku yang dulu menembaki anjingku itu selalu datang disaat aku ingin bunuh diri dan terus berusaha menggagalkannya.
Aku seperti ini bukan karena aku memang psikopat yang kebetulan bekerja dalam dunia hukum. Aku hanya ingin tahu apakah mereka mengerti seperti apakah keadaanku dan perasaanku ketika memang sampai kini pun aku tak tahu aku ini hidup untuk siapa, hidup untuk apa. Toh, aku akhirnya hanya menghabiskan waktuku di dunia hukum yang sangat mewah tanpa sertifikat sama sekali. Setiap gajiku pun selalu kuhabiskan untuk hal-hal yang sama sekali tiada guna.
Didalam laptop ini, secara tak sengaja telah kutumpahkan kejadian naas itu. Saat aku masih belia, keluargaku entah menghilang kemana, rumahku dibakar oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Entah mengapa mereka tega melakukan itu namun mereka telah berhasil membuatku seperti ini. Yah aku awalnya memang sangat takut sendirian dan untunglah anjingku masih hidup.
Kubawa temanku itu satu-satunya ketempat yang setidaknya aku masih dapat bernaung. Yah, disebuah gang kecil yang kotor dan sepertinya tak layak huni, namun aku bersikeras untuk tetap tinggal disana.
Sudah beberapa minggu bahkan beberapa bulan kami tidak makan sama sekali karena memang pada saat itu kebutuhan pokok terutama bahan makanan sedang melambung sangat tinggi sehingga tak seorang pun kasihan pada kami dan mereka bahkan takkan rela memberikan sesuap nasi pada kami. Walaupun temanku ini sama sekali tak bergerak namun aku tetap optimis bahwa temanku ini masih hidup sebab akupun masih hidup. Namun aku sangat kelaparan dan sepotong roti yang dijual didepan jalan raya itu kelihatannya sangat lezat. Aku ingin sekali memakannya, hanya segigit saja supaya aku masih tetap hidup. Saat itu aku masih ingin hidup.
Bahkan pada saat salah seorang teman sekelasku secara tidak sengaja bertemu denganku di gang itu, ia melihatku dengan sejenak lalu menembaki kepala temanku berkali-kali. Aku berusaha melindungi temanku namun ia mendorongku sehingga aku tak dapat melindunginya. Aku terus memohon-mohon kepadanya untuk berhenti menembakinya. Setelah puas ia menembaki temanku itu ia dengan marah berkata kepadaku kalau sebenarnya temanku itu sudah tak ada. Namun aku tetap optimis kalau temanku itu masih hidup dan ia dengan gusar pergi meninggalkanku.
Hal terbodoh pun akhirnya telah kulakukan. Aku menjual temanku sendiri demi sepotong roti itu. Pemilik toko Roti itu marah dan tak mau menerima temanku itu. Ia juga tak rela aku mengambil roti itu. Namun dengan nekat aku mengambil roti itu dan kabur dari toko roti itu. Pemilik toko roti itu meneriakiku maling dan hampir semua orang mengejarku sehingga ketika aku terpojok aku dihakimi oleh mereka semua namun aku tetap berusaha untuk melindungi roti itu.
Setelah puas menghakimiku mereka meningalkanku begitu saja dalam keadaan sekarat. Namun aku bersyukur kalau rotiku tidak apa-apa. Aku sudah tak dapat menahan rasa lapar ini. Kalau aku tidak makan saat itu juga mungkin aku tak dapat melihat matahari terbit lagi. Akhirnya dengan air mata yang terus berlinang, dengan lahap aku menghabiskan rotiku.
Sudah berapa lama semenjak kejadian itu aku sudah tak mau menghitungnya lagi. Dengan pistol yang telah kutodongkan dikepalaku aku ingin mengakhiri hidupku. Namun, entah berapa kali aku juga tak ingin menghitungnya aku selalu kembali gagal bunuh diri karena teman sekelasku yang dulu menembaki anjingku itu selalu datang disaat aku ingin bunuh diri dan terus berusaha menggagalkannya.
Langganan:
Postingan (Atom)