Kamis, 03 Juli 2014

Kancing seragam

     Suasana lorong itu masih sepi setelah beberapa menit ditinggal pergi oleh para siswanya. Cahaya matahari sore yang tersinar itu terpampang jelas di balik sebuah jendela besar dan akhirnya sinarnya menyinari kumpulan loker itu. suasana lorong itu sepi sampai-sampai yang terdengar hanya suara kumpulan burung yang kebetulan terbang melintasi bagian luar lorong itu.
     Perlahan-lahan sorang siswa datang menghampiri kumpulan loker itu. Matanya terus mengendap-endap kalau-kalau ia terpergok oleh seseorang yang tidak sengaja melihatnya. Ketika ia sampai di sebuah loker yang ditujunya, matanya masih terus mengendap-endap. Masih sama, tak ada seorangpun yang ada kecuali dirinya dan tak ada suara manusia sedikitpun kecuali suara dirinya. Dengan cepat ia mengeluarkan sebuah kunci kecil untuk membuka loker itu setelah itu ia memasukkan sebuah kotak kecil yang sedari tadi ia simpan di sakunya.
     "Tenang saja, kamu tidak akan menyadari bahwa kuncimu sempat kupinjam" gumamnya. Setelah ia menyelesaikan pekerjaannya dan mengantungi kunci kecil itu. Segera ia meninggalkan tempat itu dengan senyum yang sangat lebar.

 ***
     "Hei, kamu tahu Nino? si siwa populer itu. Aku mau kamu mencari tahu siapa saja siswi-siswi beruntung itu yang mendapatkan kancing seragamnya" perintah Nina kepada Nani.
     "Tapi buat apa? Memangnya kamu juga sama seperti mereka yang mengharapkan kancing itu? Itu, kan hanya benda mati..." ucap Nani
     "Itu lebih dari sekedar benda mati! haduh! kamu ini bagaimana, sih? Memangnya kamu gak tau apa mitos tentang si kancing itu? Makanya jangan kebanyakan baca buku-buku fiksi yang gak mutu gitu. Lihat, kan jadinya gimana? Sekarang cepat ikuti dia!"
     "Tapi nanti kalau ketahuan, gimana?"
     "Aku gak mau tahu! pokoknya ikutin dia dan kalau sampai kepergok jangan bawa-bawa nama aku"
     "Tapi kan..."
    "Cepat sebelum kotak pensil ini melayang!" lalu Nani pun segera menuruti perintah Nina.

***
Keadaan luar kelas begitu ramai. Mereka semua begitu antusias merayakan hari terakhirnya di dalam sekolah ini. Sebagian besar siswi berusaha mendapatkan kancing seragam dari siswa-siswa yang telah lama ditaksirnya. Nani yang  seumur hidupnya belum pernah merasakan jatuh cinta sampai kini masih belum mengerti untuk apa mereka semua melakukan hal seperti itu. Lagipula, kalaupun ia sedang merasakan jatuh cinta, memangnya ada yang peduli?
     Nani berjalan-jalan menyisiri setiap sudut sekolah. Kepalanya tidak mau berhenti melihat-lihat sekelilingnya untuk mencari sosok yang ditugaskan Nina. Sampai pada akhirnya ia melihat kerumunan siswi yang sangat banyak. Nani yang penasaran dengan apa yang menjadi objek kerumunan itu segera berbaur dengan mereka. Dan akhirnya ia menemukan objek pengawasannya.
     Sosok pria itu tinggi dan berisi dan juga berbentuk. Rambut pendeknya yang hitam berkilau, wajahnya yang sangat maskulin dengan rahangnya yang tegas dan warna kulitnya yang sawo matang itu membuat hampir semua siswi di sekolah ini tergila-gila padanya.
     "Berikan aku kancing seragammu, Nino" pinta seorang siswi yang berdiri di samping Nani dan disambut dengan suara siswi yang lainnya yang ada di dalam kerumunan itu. Nani tetap fokus untuk tidak kehilangan pandangannya terhadap Nino di dalam keadaan sesak seperti itu, dan ia melihat pria itu memutuskan salah satu kancing seragamnya dan memberikannya kepada salah seorang siswi yang berada tepat didepannya. Keadaan kerumunan itu makin menyesakkan karena mereka semakin agresif.
     "Fuah! akhirnya aku keluar juga dari kerumunan itu! dasar para gadis.... mengerikan sekali!" omel Nani sambil mengumpulkan nafasnya sebentar. Ketika ia sadar, ia kehilangan Nino dari pandangannya "Aduh! kemana dia?" dengan langkah cepat ia mencari sosok itu dan beberapa langkah kemudian ia menemukannya. Sambil terus mengawasi Nino, Nani mulai berfikir kali ini ia sedang memberikan kancing ketiga miliknya kepada gadis beruntung yang lainnya. Dua kancing yang diberikannya sejauh ini hanya kepada gadis-gadis idola. Mungkinkah ia juga sama seperti para siswa lainnya? Kira-kira Nina juga termasuk siswi popluler, tidak, ya? dan juga, kemanakah hilangnya kancing keduanya?
     Ternyata dugaan Nani mengenai gadis yang beruntung itu salah. Tidak semua gadis idola yang mendapatkan kancing itu. Buktinya siswi-siswi yang kurang populer juga beruntung mendapatkan kancing itu. Tapi dari keempat kancing itu tidak ada yang diberikan kepada Nina. Kepalanya tertunduk dan langkahnya pelan menuju tempat pertemuannya dengan Nina. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
      "Nino!" kejut Nani. Nino segera berdiri di depan Nani.
     "Kaget, ya? hahaha. Memangnya tidak capek, apa ngikutin aku terus? seperti tidak ada kerjaan lain saja"
     "Aku disuruh Nina. Oh iya, kamu kenapa tidak memberikan kancing seragammu kepadanya? Dan juga, kancing seragammu yang kedua itu kamu berikan ke siapa?"
     "Memanganya untuk apa aku memberikan kancingku kepadanya? Aku tidak suka padanya.  Dan kancing kedua itu, nanti kamu juga akan tahu siapa siswi itu. Bukan siswi itu yang beruntung mendapatkan kancing kedua milikku. Tapi, aku yang beruntung" lalu Nino pergi meninggalkan Nani yang keadaannya masih bingung. Nani yang tersadar dari lamunannya segera melanjutkan perjalanannya ke tempat pertemuan.

***
     "Kancingnya sudah habis" lapor Nani sesampainya di tempat pertemuan
     "Dan aku tidak mendapatkan kancing itu? Menyebalkan!" dan Nina pun terus menggerutu. Setelah berjalan mondar-mandir beberapa putaran, ia melihat Nani yang terus duduk memperhatikannya "kamu mendapatkan kancingnya?"
     "Tidak" jawab Nani polos
     "Siapa saja siswi yang beruntung itu" tanya Nina
     "Rani, Rina, Ina dan Ani" jawab Nani.
     "Huh! ya sudah. Sekarang pergi tinggalkan aku sendiri!" usir Nina dan Nani pergi meninggalkan tempat itu.

***
     Sekolah sudah jadi sepi. Semua siswa dan siswi sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Nani mengeluarkan sebuah kunci dari dalam tasnya dan membuka lokernya dengan kunci itu untuk mengosongkan tempat itu karena mulai besok sudah bukan lagi miliknya. Ketika pintunya terbuka, ia melihat sebuah kotak kecil misterius. Kotak dari kertas itu berwarna hijau muda, warna favoritnya dan dihiasi oleh pita berwarna merah muda. Dengan takut-takut penasaran  ia membuka kotak itu dan isinya adalah sebuah kancing seragam siswa dan sebuah surat kecil yang wangi. Bau itu adalah bau bunga favoritnya. Ketika ia  membaca surat itu, terkejutlah ia.

Aku sudah tahu kalau kamu pasti akan mengikutiku karena Nina
Dan kamu pasti penasaran kemanakah kancing kedua milikku telah kuberikan
kancing yang berada di genggamanmu itu adalah kancing kedua milikku.
Dijaga, ya...
(Dari Nino)

ps: aku cinta kamu



Rabu, 06 Februari 2013

Lilin

     "Dasar menyebalkan! mengapa malam ini listrik harus mati? ditambah lagi udara malam diluar sana luar biasa dinginnya. Sampai-sampai selimut setebal apapun yang membalut diriku ini tak sanggup menghangatkanku. Ah, untuk apa aku terus bersungut-sungut? lebih baik aku segera membeli sekotak lilin di warung terdekat." Lalu seorang pengembala kuda yang sedari tadi duduk dikursi malasnya dengan berbalut pakaian yang kelihatannya sangat tebal itu pun segera pergi meninggalkan kursi malasnya dan hendak keluar dari pondoknya yang tak begitu besar untuk ke sebuah warung terdekat demi mencari sekotak lilin untuk menerangi malamnya dipondok itu dan disebuah kandang kuda yang letaknya tidak jauh dari sana.


...
     "Uh, ada apa ini? mengapa ada seseorang yang menggoncang-goncang kotak ini?" ucap serbatang lilin yang terpaksa terbangun dari tidurnya didalam kotak itu. Yah memang ia tidak sendirian didalam kotak itu melainkan ia bersama dengan beberapa kawannya yang juga adalah beberapa batang lilin. Mereka semua berasal dari bahan baku yang sama, dan mereka semua juga mempunyai manfaat yang sama yaitu menjadi penerang didalam kegelapan. Menjadi penerang bagi orang yang tersesat, dan menjadi penerang bagi orang yang takut akan kegelapan. 
     walaupun kami sama sekali tidak dapat menyala lebih lama lagi karena tubuh kami yang kecil ini, namun kami selalu merasa bersyukur karena setidaknya kami telah berguna bagi banyak orang. Mungkin disaat terang kami sama sekali tidak berguna dan dihempaskan beitu saja, dan bahkan harga kami tidak begitu mahal mungkin karena bukan kalangan atas saja yang membutuhkan kami melainkan kalangan bawah pun juga mau tidak mau harus rela membuang uangnya hanya untuk membeli kami. Namun justru pada saat gelap seperti inilah mereka semua berlomba-lomba untuk mendapatkan kami. Yah, walaupun mungkin malam ini terlalu panjang untuk dapat kami lalui karena mungkin kami sudah habis meleleh sebelum kami semua dapat melihat lampu menyala ataupun matahari telah hadir menggantikan posisis bulan yang sinarnya tidak terlalu terang meskipun bintang-bintang telah rela bersusah payah untuk membantunya menerangkan malam itu.

     Jadi disinikah tempatku akan melelehkan diriku? di sebuah kandang kuda yang tidak terlalu luas dan disini hanya terdapat seekor kuda yang terbaring lemah sedangkan salah satu kaki depannya telah terbalut sebuah perban? dan hey! mengapa hanya aku saja yang harus bersinar disini? dimana kawan-kawanku? dimanakah mereka semua akan bersinar?
     "Huh! dasar kuda yang tidak berguna. Sudah tahu akan dijemput ajal masih saja menyusahkan orang! mengapa kamu tidak segera mati saja!?" Dengan bersungut-sungut ia meletakkanku di atas sebuah tempat lilin dan membakar sumbuku yang mungil lalu diletakkannya begitu saja diatas sebuah laci kecil disamping kuda yang terus saja memandangku dengan tatapan rapuhnya. Penggembala itu memang kejam! namun sesungguhnya ia telah mengatakan hal apa adanya. Bagi kuda, kaki yang kuat adalah hal yang sangat penting. Dan apabila kakinya telah terluka seperti itu dan ia sudah lanjut usia seperti itu, untuk apa ia harus tetap berjuang untuk hidup? namun apalah dayaku? disinilah tempatku harus bekerja. untuk memenuhi kewajibanku sebagai sebuah lilin.
     Malam ini anginnya bertiup dengan semakin kencang. Ah sial! mengapa ia harus datang? tak tahukah ia bahwa tingkahnya itu akan membuatku cepat meleleh? setidaknya aku masih ingin bergabung dengan teman-temanku yang juga adalah lilin. Huh! kuda ini juga sedang mendengkur. Tidak tahukah ia bahwa dengkurannya itu sangat mengganggu? wajar saja jika ia tidak mempunyai teman dan terpaksa harus hidup bersama penggembala yang sombong itu.
     Malam ini berjalan dengan semakin dingin. Hembusan angin yang memuakkan itu pun juga semakin lama semakin kencang sehingga aku pun menjadi semakin cepat meleleh. Mungkinkah kini akan mendekati pagi? ataukah kini sudah pagi buta? kudengar suara yang sangat keras berkumandang di luar sana. Dan kudengar juga derap langkah yang semakin mendekat yang arahnya berasal dari dekat pintu kandang sana. Namun semuanya berhenti dan suara langkah itu berubah menjadi suara orang bercakap-cakap. Didengar dari suaranya, sepertinya mereka hanya berdua saja. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi ini sepertinya sebuah perbincangan bisnis dimana sepertinya si penggembala itu merasakan suatu keuntungan. Entahlah, kurasakan dari pembicaraan itu kalau nantinya pasti akan terjadi sesuatu. Sesuatu yang akan menyangkut nasib kuda tua yang cacat ini. Sesuatu yang menyedihkan namun memang harus begini adanya.
     "Jadi disinikah kuda itu sekarang berada? aku ingin lihat sebesar apakah kuda itu" ucap seorang yang tengah berjalan bersama seorang penggembala itu sambil terus saja memandangi seisi kandang kuda yang bau anyir ini. Terbukti kalau penggembala kuda ini tidak peduli dengan keadaan kandang ini dan kuda ini.
     "Kudanya cukup besar tuan, saya yakin dagingnya pun juga sangat lezat. Mungkin dagingnya akan membuat bisnis anda semakin lancar" ucap penggembala itu yang terus saja berjalan bersebelahan dengan tuan yang akan membeli kuda yang masih saja tertidur disebelahku.
     Aku tidak tahu apakah kuda ini sesungguhnya mengerti akan bahasa manusia atau tidak, kuda ini hanya tertidur pulas. Kulihat didalam tidurnya yang lelap ia tersenyum. mungkin ia sudah pasrah akan apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi akan dirinya. yah, mungkin ia akan terus berguna bagi siapa pun nantinya walaupun nantinya ia tidak akan hidup lagi untuk menyaksikan semuanya.
      Akhirnya kedua orang itu sampailah pada si kuda tua ini. Ternyata si tuan itu cukup berbaik hati untuk membiarkan kuda itu untuk tidur selama-lamanya tanpa mengenal rasa sakit lagi. Ia memberikan suntikan yang bersisi racun kematian dan membiarkannya meninggal untuk dibawanya pergi meninggalkan kandang ini dengan mudahnya. Dan akhirnya terlihat segumpalan busa kecil keluar dari mulutnya. Tanpa perlawanan sekecil apapun. Penggembala itu terlihat cukup puas akan yang terjadi karena akhirnya tugasnya sebagai seorang penggembala yang harus mengurusi kuda tua ini sudah selesai. Kejadian itu cukup singkat sesingkat hidupku  ini. Tubuhku semakin pendek dan cahaya yang kuberikan semakin redup.
     Akhirnya kuda yang mati itu telah diangkut oleh penggembala sedangkan tuan pembeli itu hanya berjalan dengan anggunnya meninggalkan kandang ini. Aku tidak tahu kapan penggembala itu akan kembali lagi. Sumbuku ini semakin mengecil dan tubuhku semakin lama semakin pendek. Mungkin aku tidak akan lagi melihat teman-temanku yang tidak tahu dimanakah mereka berada. Dimanakah mereka semua disimpan dan aku bahkan tidak tahu apakah mereka masih ada ataukah telah mati karena telah dipakai semalaman penuh. Namun, aku merasa sangat puas karena telah tahu apakah tujuanku dibuat. Menemani hari akhir kuda itu dan menghangatkan malam dinginnya untuk hari terakhirnya.
     

Rabu, 23 Januari 2013

     Hari ini hujan. Hari ini mendung dan hari ini tidak panas. Apakah ini mewakili keadaanku atau tidak aku tidak tahu. kemarin mendung, kemarin hujan dan kemarin tidak panas. Apakah kemarin juga mewakili perasaanku? aku tidak tahu.
     Hahaha. Apakah benar bahkan cuaca pun mengerti perasaanku? mungkin itu hanya bohong. Mungkin Tuhan tengah mengejekku dengan cuaca-cuaca yang diberikan kepadaku. Saat itu, saat itulah ini semua dimulai.
     Saat itu aku sangat bahagia, karena akhirnya ia mau berbagi kebahagiaannya bersamaku. Yah,  sebenarnya sudah lama aku ingin ia merasa seperti itu dan di saat itu aku ada bersamanya. Saat itu aku sama sekali tidak tahu apa yang tengah terjadi namun kulihat ia sangat indah ketika ia sedang tertawa, ia sangat cantik ketika ia sedang bahagia. Dan mungkin karena itulah banyak orang yang ingin mendekatinya dan banyak orang yang ingin bersamanya. Namun tidak kusangka akan begini jadinya. searusnya aku sadar bahwa jangan pernah melihat orang dari wajahnya karena itu akan menjadi kenyataan yang sangat menyakitkan.
     Namun aku sungguh tidak peduli dengan pepatah tua seperti itu dan aku tetap memilih untuk berasamanya. Sungguh, sesungguhnya aku bukanlah seorang abnormal, namun perasaan sayangku sebagai seorang sahabat inilah yang membutakanku sampai-sampai pepatah itupun akhirnya membuka mataku.
     Saat itu,  hari berjalan seperti biasanya. matahari yang begitu panas. Aula yang begitu pengap dan suara gemuruh dari orang-orang yang berada disekitarku dan disekitarnya. Aku secara terang-terangan membuka aibku kepadanya sebagai seorang yang bodoh yang berusaha untuk menjadi orang terbaik. Namun apa?, ternyata hal itu membuatnya jijik kepadaku dan memtuskan untuk pergi menjauh dariku.
     Ditambah lagi, setelah kutelusuri ia lebih dalam lagi, ada kemungkinan yang membuatnya iri padaku (dan sampai kini akupun bingung apa yang membuatnya iri padaku). Aku mempunyai seorang kawan yang sangat rupawan sehingga wantia yang melihatnya mungkin ingin segera memilikinya. Dan apakah kedekatannya kepadakukah yang membuatnya menjauh dariku? ditambah lagi ia memang sedang dekat dengan seseorang yang sangat senang merebut semua teman-temanku.
     Kini, mungkin mereka semua tidak akan menyadari akan sakitnya perasaanku. Namun, pasti suatu saat nanti di suatu tempat mereka akan menyadari akan hilangnya diriku. Hilang dimakan waktu tanpa akan pernah melihat diriku. Aku akan hilang seperti debu yang ditiup angin. Hilang melebur dan tidak tahu dimanakah lagi ia akan singgah. Atau mungkin, mereka selamanya akan menganggapku sebagai angin lalu saja. Aku datang hanya untuk menimbulkan masalah karena yang mereka lihat adalah aku si pembuat masalah.
     Kawanku yang rupawan itu pasti juga akan termakan oleh rayuan busuknya dan menjadi membenciku. tapi... ah, untuk apa aku mengharapkan sesuatu dari dunia yang hina ini? toh, mereka semua tidak akan pernah kubawa mati karena mereka semua hanyalah fatamorgana. Sesuatu yang indah itu sangat menyakitkan. Namun sesuatu yang sangat pahit itu akan selamanya membekas.
     Langitnya masih mendung, udaranya semakin lama semakin menghilang, langitnya akan hilang digantikan oleh si putri bulan dan dayang-dayang bintang. Waktu cepat sekali berlalu, mungkin apabila aku terbangun kembali, aku akan melihat si pangeran matahari bersama prajurit-prajurit awan, dan seterusnya. Aku berharap suapaya waktu itu akan segera datang dan aku akan pergi meninggalkan mereka semua dan mendapatkan kehidupanku yang baru yang lebih indah namun yang pasti akan lebih berbahaya dan lebih menyakitkan karena keindahan itu adalah fatamorgana. Ataukah, apakah mungkin yang saat akan datang itu adalah sesuatu yang sangat indah dan benar-benar indah karena bukan fatamorgana dan aku akan menetap disana. Karena mungkin segala sesuatunya yang berada disana akan mengubah cara pandangku yang penuh dengan rasa pesimis ini.

Jumat, 14 September 2012

     Pada jaman dahulu, pada zaman kerajaan, yang namanya pendidikan itu bukanlah sesuatu yang mahal. Pendidikan itu gratis adanya. Para pemerintah itu sangat baik. Mereka tidak peduli akan betapa mahalnya biaya yang harus mereka keluarkan. Mereka hanya memikirkan bagaimana supaya rakyatmya bisa maju dan damai sentosa.
     Namun apa yang ada pada jaman dahulu dengan apa yang ada dijaman sekarang ini bedalah adanya. Pendidikan semakin mahal dan orang kaya-lah yang berkuasa. Namun apalah peduli masyarakat? tidak, mereka tidak ada pedulinya. Hanya orang-orang yang mempunya sifat dermawan-lah yang bisa mengabulkan permintaan si masyarakat kurang mampu.
     Dia, gadis itu, kulihat ia memang rajin. Sangat rajin. Aku tahu ia luar dalam. Bahkan lebih daripada apa yang ada diotak mereka yang hidup disekitarnya. Namun, apa yang mereka lihat bedalah dengan apa yang aku lihat. Mereka hanya melihat hasilnya yang sangat kurang memuaskan. Bahkan tidak memuaskan sama sekali. Yah, sesungguhnya keberuntungan ia dalam hal pendidikan itu sangatlah buruk. Toh, semua orang mempunyai keberuntungan yang buruk, kan? bukan hanya dalam pendidikan?
     Namun apapun yang ada dipikiran kehidupan sosial, orang pintar-lah yang berkuasa. Mereka tidak peduli betapa baiknya orang itu (hei, gadis ini sangat baik lho). Hanya orang-orang berhati sangat lembutlah yang dapat merasakan (berarti aku orang yang lembut). Pendidikannya sangat pas-pasan namun ia mempunyai sesuatu kepandaian yang lain yang tidak mungkin ada didalam akademi. Namun apa yang dilihat pada akademi itulah yang dilihat oleh dunia.
     Akademi hanya akan melihat dari hasil akhir. Tak usah jauh-jauh. Akademi adalah kacamata dunia dalam melihat prestasi setiap individu. Padahal, sesungguhnya akademi  belum trentu otaknya lebih encer daripada otak si individu. Namun bagaimana lagi? toh mereka hanyalah MELAKUKAN TUGAS-nya.
     Kulihat gadis itu masuk kedalam suatu ruangan kelas. Gadis itu dengan gontainya masuk kedalam. Seakan-akan ia berfikir kembali ia tidak akan lulus. Ternyata ia masuk keruangan yang sama dengan ruanganku dan kufikir ia akan kembali menjadi teman sekelasku. Dan ternya benar. Ia sekarang kembali menjadi teman sekelasku.
     Kulihat ada sedikit harapan muncul dari wajahnya. harapan kalau kali ini ia akan lulus. Aku juga berharap kali ini ia akan lulus. Namun kembali seperti awal tadi, apa yang diharapkan oleh si gadis belum tentu menjadi keinginan si pemberi nilai. Ingat, apa yang mereka inginkan itulah yang harus menjadi kenyataan. Ia dengan tekun berusaha mengerti apa yang dikatakan oleh si dosen, ia menulis beberapa hal yang penting yang ia dapat dari kuliah itu dan ia membacanya ulang.
     Hal rutin itu menjadi pemandanganku setiap berada dikelas itu. Sudah 4 bulan ia melakukan itu. Di kelasku, di depanku, di jam yang sama. Kini tibalah ujian penentuan itu. Ujian yang sesungguhnya agak kurang penting karena itu hanyalah satu ujian. Yah, namun ujian itu adalah ujian penentu apakah kita pantas lulus, atau hanya beberapa dari kami sajalah yang diperbolehkan lulus? ujian itu, hanya diberi waktu selama 2 jam. Beberapa dari kami kelihatan sudah menyerah. Beberapa dari kami sudah mengumpulkan hasilnya. Bagiku, sesungguhnya 2 jam itu adalah waktu yang cukup lama untuk mengerjakan sekumpulan dari soal-soal ini sehingga bahkan dalam setengah dari waktu yang diberikan aku sudah menyelesaikannya terlebih dahulu.  Namun aku malas untuk keluar dan aku memilih untuk melihat gadis itu terlebih dahulu.
     Gadis itu, gadis yang sedikit memberi kekuatan pada kami yang lemah, tengah berduka. Pucat, dan hampir menangis melihat sekumpulan soalnya. Kuyakin, ia pasti kembali tidak dapat menjawab soal-soal itu. Pendidikan itu memanglah tidak adil. Namun ia adil. Walaupun ia tidak bisa, namun ia tidak seperti sebagian dari kami yang melakukan kecurangan. ia tidak mencontek maupun bekerja sama. Pengawasan di kampus ini sangat payah. Sehingga semua orang diberikan kebebasan untuk mencontek tanpa sepengetahuan dari si pengawas.
     Tibalah saat yang memuakan itu. Hasil akhir telah diberitahukan. Yah, aku bilang inilah saat yang memuakkan karena tidak semua orang kelihatan berbahagia. Terutama gadis itu. Ia menangis dalam diam. Ia kembali tidak lulus.

   

Sabtu, 08 September 2012

Penantian panjang untuk tak yang pasti

     Penantian panjang untuk suatu yang pasti. Aku terus memandangi layar komputer ini. Aku terus memandanginya dengan wajah harap-harap cemas "kapan ya akan datang" lamunku. Namun sayangnya waktu tak mau menunggu dan sebentar lagi waktu itu akan habis.
     Kupandangi lagi keesokan harinya. Masih di depan layar komputer. Dengan komputer yang berbeda, waktu yang berbeda, dan tempat yang berbeda. Namun masih dengan website yang sama. Sungguh, sesungguhnya bagi sebagian orang (atau mungkin sebagian besar orang) Penantianku ini cukuplah konyol dan terlalu berlebihan untuk dikhawatirkan mengingat banyak hal yang menurut mereka lebih penting daripada ini. Namun, hei! semua orang itu mempunyai masalahnya masing-masing dan mereka tidak pantas untuk menyamakan masalah mereka kepada diriku.
     Namun semalam aku telah memikirkan apa yang membuat mereka seperti itu. Egokah? ingin sekali berkata bahwa bukan karena ego. Namun pada kenyataannya, memang egolah yang mewakili semua ini. Egolah yang membuat kita kurang puas akan apa yang telah kita peroleh. Egolah yang membuat sebagian orang menjadi serakah dan egolah yang membuat manusia menjadi bukan manusia. dan kalau dipikirkan kembali,  sepertinya mereka juga harus mempelajari arti seni yang sebenaranya.
     Kembali lagi dengan diriku yang masih menatap layar komputer ini. Yah, aku melihat sendiri kenyataan yang mengatakan bahwa orang kaya adalah orang yang berkuasa. Hal itu memang terjadi karena mereka dapat mengubah segala sesuatu, menyelenggarakan segala sesuatu dan melakukan sesuatu sesuai kehendaknya. Mereka takkan segan-segan untuk menginjak dibawahnya namun yang berada dibawahnya takkan sanggup untuk membantingnya.
     Kini sudah kelima harinya aku memandangi layar komputer ini. Tidak ada yang berbeda. Semuanya masih sama saja. Mata hatiku semakin nanar dibuatnya. Namun mereka tidaklah peduli. waktu terus berjalan dan saat itu hampir tiba. Tinggal saja menunggu hari yang semakin mendekat ini dan semuanya tentulah akan membuat penyesalan yang tak ada akhir. Hidup kembali dengan tekanan dan mereka tidak peduli. Kalaupun ada, mereka hanya ingin mendengar. Mereka hanya ingin melihat. Sebentar saja menatap miris namun sangat lama meninggalkan beban. Dan yah, mereka beberapa saat lagi akan tertawa puas

Rabu, 05 September 2012

Jeritan Yang tak terdengar

     Kembalikan kehidupan kami. Kembalikan keluarga kami. Namun mungkin memang sudah tak dapat kembali. Namun biarlah, mungkin sudah saatnya kami akan punah.
     Hidup kami. Hidup sebagai warga flora dan fauna. Semula sangat bahagia sebelum modernisasi itu datang. Manusia hidup sejahtera bersama kami dan mereka tidaklah serakah. Mereka menjaga kami dan terus mengembangbiakkan kami. Kami bahagia, mereka pun juga bahagia. Manusia mengagumi akan keindahan kami, mengagumi akan keasrian kami. Kami juga bersyukur kepada mereka yang terus merawat kami tanpa ada niatan untuk merusaknya. Saat itu, mereka belum tahu apa itu modernisasi. Mereka tidak tahu apa itu teknologi maupun alat-aat elektronik. Mereka menggunakan alat-alat tradisional yang sederhana dan tidak merusak.
     Namun, semua itu berubah. Yah, mereka berubah ketika watak asli para manusia itu datang. yah, sifat egois yang merupakan sifat dasar manusia itu mulai ditujukan pada kami. Kami semua sakit hati, sedikit sakit hati karena mereka masih menghargai kami yang merupakan penduduk asli di tempat ini. Mereka masih melakukan tanggung jawab mereka.
     Namun itu hanya sesaat. Manusia itu makin lama makin bertambah. Bangunan-bangunan itu makin lama makin banyak. Namun bagaimanakah dengan kami? bagaimanakah dengan kami yang makin lama makin berkurang. Bukan, bukan karna kami tidak mau berkembang biak. Kami tidak ingin punah. Kami masih ingin menyertai manusia-manusia itu. Kami masih ingin menjadi makanan untuk mereka, menjadi pelindung mreka dikala mereka kepanasan, dan kami juga masih ingin menjadi pencegah banjir. Kami juga ingin mereka tahu akan siapa kami dan mreka dapat melihat langsung akan keberadaan kami. Tidak seperti pendahulu kami yang harus punah pada zaman purba itu. Kami masih ingin hidup.
    Namun apa yang telah mereka perbuat pada kami? mereka ketakutan melihat kami yang senang berkeliaran di tempat mereka. Padahal, hei! mereka itu mengungsi di tempat kami. Namun apakah mereka tidak sadar dengan apa yang telah mereka perbuat? mereka coba untuk menghancurkan kami. Mereka membuat barang-barang bermerek dari kulit kami. Kami sakit kalau harus dikuliti, namun mengapa demi kekayaan kalian harus menguliti kami? dan kalau pun mereka membiarkan kami untuk berkembang-biak terlebih dahulu, biarlah asalkan anak-anak kami dapat hidup bahagia. Namun apa? apakah mereka mau menuruti permohonan terakhir kami?
     Tidak, jangan harap mereka mau menuruti. Kami kecewa akan mereka. Biarlah pada akhirnya kami akan habis dimakan zaman.

Minggu, 03 Juni 2012

India...India (Untukmu kawanku yang sangat kurindukan)

     Pada tanggal 31Mei lalu. Setelah aku menyelesaikan salah satu kegiatanku, sejenak aku datang ke workshop itu. Yah, workshop untuk memperkenalkan sebagian budaya di dunia itu. Walaupun acara itu akan selesai aku tetap berjalan-jalan kedalamnya.
     Didalam workshop itu kutemukan suatu stand yang sedikit menceritakan tentang India. India... seketika aku teringat akan kawanku saat SMP dahulu. Yah, lebih tepatnya dialah kawan karibku atas ketidakadilan yang kualami saat itu. Ah sudahlah lupakan! aku ingin mencoba salah satu alat musik India yang ditawarkan disana.
     Setelah aku puas bermain-main dengan alat musik itu dan setelah aku puas bermain-main dengan kawan-kawan karibku akhirnya aku berlatih kembali sampai malam. Saat malam itu aku berhasil terbuai oleh gerakan-gerakan Wushu yang indah yang secara tidak sadar telah mereka suguhkan padaku. Dan saat itu pula aku sejenak melupakan akan kawanku yang dahulu kalau tidak aku tak tahu kerinduan apalagi yang akan kubuat.
     Ah akhirnya latihan itu selesai. Sudah malam, aku harus bergegas pulang. yah, bergegas aku mencari kendaraan umum untuk menghantarkan aku pulang. Dan sialnya lagi suasana malam di kota metropolitan ini telah sukses membuatku teringat kembali akan dia.
     Aku teringat saat dia tengah bermain-main bersamaku setelah sekolah. Walaupun dia itu sangat besar dan aku begitu kecil bila berhadapan dengan dia. Namun aku terus berusaha untuk menangkap wajahnya dan itu telah sukses membuatnya tertawa. Pria India yang berimigrasi di Indonesia dan sekolah disini memang sangat berbeda dengan orang-orang Indonesia yang hidup disekitarku saat itu. Wajahnya dan tubuhnya yang menunjukkan kalau dia itu pria India asli dan sifatnya pun sangat berbeda dengan orang-orang Indonesia yang saat itu sedang sangat labil dan menomorsatukan diskriminasi kepada orang-orang culun dan berbeda dengan mereka. Mungkinkah karena aku sepintas sering dibilang orang India apalagi saat aku sedang tersenyum. Pantaskah aku dikira orang India? padahal sesungguhnya wanita-wanita India itu sangat indah dengan kulit sawo matangnya dan mata besarnya itu. Dan lagi orang-orang India itu sangat cerdas dalam dunia teknologi.
     Dan akhirnya setelah lulus SMP aku sudah tak bertemu lagi dengan dia. SMA kulanjutkan dengan hampa namun aku belum menyadari kehampaan itu sampai akhirnya aku kuliah dan kesepian itu datang kembali. Dan bodohnya aku itu disaat yang tak terduga aku bertemu kembali dengannya dan aku sama sekali tak membawa ponselku. Aku menyia-nyiakan kesempatan itu dan aku kembali rindu padanya.
    Untukmu kawanku yang kini aku tak tahu kau ada dimana, kau sedang apa,,, aku hanya ingin berkata kalau aku sangat merindukanmu dan ingin bermain-main seperti dahulu :')