Selasa, 13 Oktober 2015

Siluet cahaya masuk ke dalam kamar yang remang-remang. Aku terbangun di pagi hari yang anehnya bahkan semangat pun tak menyambutku. Mimpi semalam masih sama seperti malam-malam yang lalu. Apakah mungkin malam ini bunga tidur tetap melantunkan nyanyian yang sama?
Kupalangkan kepalaku ke samping. di sebelah tempat tidurku terdapat sebuah foto seorang gadis yang terbingkai manis. senyum lebarnya tertampang jelas disana. Wajah yang terdapoat di bingkai itu, selalu menjadi tokoh sentral di bunga tiduirku akhir-akhir ini. bukan, tetapi seminggu setelah kehadirannya sudah tak disekitarku. aku segera beranjak duduk di samping tempat tidurku dan memandangnya.
"Kenapa?"
Jujur saja. aku tak tahu dia ada dimana sekarang. semenjak kejadian itu ia sudah tidak memunculkan batang hidungnya di hadapanku. ia... seolah-olah menghilang dimakan bumi. namun anehnya, semenjak kepergiannya itu, hal-hal mistis itu selalu menghiasi kamarku. Awalnya. Aku, sebagai seorang pria yang berfikir logis tidak percaya sedikitpun akan dunia mistis atau spuranatural atau apapun itu. namun, semakin kutangkis semua hal yang tak masuk akal itu, hal-hal itu semakin nyata terlihat di mataku sehingga kepercayaanku itu semakin memudar.
***
Si gadis. aku tak tahu nama aslinya maupun nama panggilannya. Dia mengumpat-umpat mencari kesempatan untuk memandangku. aku yang sellau dikelilingi oleh orang-orang yang menyukaiku. Anehnya, justru gadis yang seperti itu yang aku sukai. Ia tidak agresif, penyayang, dan kalem. 
Namun sayangnya, sepandai-pandainya tupai melopmpat, pasti ia terjatuh pula. Orang-orang mulai curiga padanya hingga menganggap gadis itu adalah seorang penguntit membuatnya semakin jauh daripadaku. namun, bukan hanya itu. ternyata kecurigaan, kebencian dan mungkin rasa mereka yang terlalu melindungi idola mereka yang terlalu tinggi hingga pada saat itu membuat si gadis menghilang.
Aku tak tahu apa yang telah mereka perbuat. Yang kulihat terakhir kali saat itu hanyalah senyum akhirnya yang terus terbayang sampai sekarang. seolah-olah gadis itu mengatakan "selamat tinggal".
***
Foto yang sedari tadi kupegang kini kuletakkan kembali ke tempatnya yang semula. ketika kulayangkan pandanganku dari foto tersebut, terdengar suara sesuatu yang jatuh dan terpecah. ternyata yang jautuh itu adalah bingkai foto Si Gadis. Cukup sudah semua bukti yang kulihat. 
"Siapapun kamu, tunjukkan wujudmu!" Lalu sebuah hantu menunjukkan wujudnya. wujudnya sama seperti yang di foto -- Si Gadis.
Aku tak mau kehilangan dia. Dengan cepat aku menutup semua celah ke luar sehingga ia tidak dapat keluar dari ruanganku. Ia marah dan mulai memasuki tubuhku. Dan ia berusaha menghancurkan tubuhku.
Setelah puas, ia kini keluar dari tubuhku. Tubuhku penuh darah namun aku tidak marah. 
"Apa yang telah mereka perbuat?" Ia tidak berkata, namun ia menulis sesuatu di tembok.
Aku ingin bebas
"Tak akan kubebaskan. tidakkah kamu menyadari betapa aku merindukanmu? kamu telah membuatku seperti ini"
Mengapa?
"Aku ingin selamanya bersamamu"
Kita ini berbeda. aku ada selamanya sedangkan kamu adalah manusia yang tua dan akhirnya berkeluarga. Tua. banyak yang akan menangisimu ketika pergi.
"Aku tak mau bersamanya. aku sungguh-sungguh ingin bersamamu. beritahukan aku bagaimana caranya untuk bisa selamanya bersamamu"
Gadis itu berpaling dari tembok dan dengan cepat ia merasukiku lagi. Aku keluar dari tubuhku dan menyaksikan sendiri bagaimana gadis itu membuka jendela, membawa tubuhku melompat dari jendela di lantai 12. Tubuhku hancur dan tak mungkin diselamatkan. 

Kamis, 16 Oktober 2014

Nenek di sebuah gubuk

"Dasar Kerbau! ayo cepat diangkut barang itu sebelum mereka berhasil menangkap kita!" Maki bapak-bapak yang terus mengomandoi kumpulan orang-orang yang sedang mengangkut beberapa barang curiannya sambil menendang-nendang pundak salah seorang anak buahnya. Masa itu semakin mendekat. Dengan beberapa obor yang beberapa dari mereka pegang, mereka menjadi begitu bercahaya dan lebih menyeramkan. Mungkin karena beberapa senjata tajam yang terlihat berkarat. Seorang komando yang daritadi terus berteriak itu kelihatan semakin panik dan akhirnya dirinya pun juga membantu anak-anak buahnya.
"Akhirnya terangkut semua. ayo kita segera pergi!" Perintah bapak-bapak itu dan mereka pun akhirnya dengan sekuat tenaga mendorong gerobak itu. selagi beberapa langkah kemudian mereka berhasil menghilang dari pandangan orang-orang yang mengejar mereka.
"Sial! aku tidak kuat lagi!" ucap salah seorang anak buah yang badannya lebih kecil dibanding yang lainnya.
"Dasar pemalas! untuk yang beratnya segini ringan saja kamu tak sanggup? percuma aku membayar mahal untukmu!" Maki bapak-bapak itu lagi.
"Hah! dasar orang tua! kamu hanya mau membayar 10% dari semua barang-barang jarahan ini kepada kami saja gayamu sok berkuasa! asal bapak tahu saja. Kami bisa mencari seorang bos yang mau berbagi lebih kepada kami. Mulai saat ini kami tak mau bekerja sama dengan bapak lagi!" ucap anak buah yang lainnya. Lalu mereka mengambil barang-barang hasil curian itu sesuka hati mereka dan menginggalkan bapak-bapak tua itu sendirian dengan beberapa bagian yang masih tersisa dengan gerobaknya. Bapak-bapak itu masih bersikeras dapat mengangkut barang-barang itu sendirian. Namun ternyata benar apa kata mereka; gerobak bawaan ini terlalu berat karena isinya. karena keserakahannya sendiri. "Sial! aku tidak mau sendirian menjadi korban amukan mereka. Aku harus mencari cara!" untung bagi bapak itu ketika ia melihatku yang sedang berjalan sendirian di jalan itu karena sepulang bekerja dari toserba yang letaknya tak jauh dari sana.
"Hei kamu yang disana!" seru bapak itu kepadaku "Ya! aku mau berbagi sesuatu kepadamu. Kujamin kamu tak akan meyesal" lalu, aku yang saat itu belum mengerti apa yang terjadi segera menurut dan datang kepadanya. Aku sama sekali tidak curiga dengan apa yang ada di dalam gerobak yang berada di dekatnya itu. Lagipula tawarannya cukup menarik.
"Memangnya apa yang ingin bapak bagikan kepadaku?" setibaku disana
"Kamu lihat apa yang ada di dalam geobak itu? kulihat hidupmu cukup sulit, jadi aku ingin berbagi apa yang ada di dalam gerobak ini, tentu setelah aku mengambil beberapa bagianku. Sisanya terserah padamu"
" Tapi, pak? aku tidak mengerti. apakah ini barang curian?" tanyaku curiga setelah kulihat berbagai macam barang mewah yang tergeletak begitu saja di dalam gerobak itu. Bapak-bapak itu segera mengambil beberapa barang dari gerobak itu.
"Tenang saja, ini bukan barang curian" lalu bapak-bapak itu pun berlari dan pergi menjauhiku dan sosoknya yang semakin lama semakin mengecil akhirnya hilang ditelan gelapnya malam. Aku yang masih kebingunan dan sama sekali tak tahu apa yang saat itu tengah terjadi akhirnya hanya dapat melihat isi di dalam gerobak itu.
Selang beberapa saat kemudian terdapat sebuah sinar api yang semakin lama semakin besar menghampiriku. Ketika cahaya itu mendekat dan menyinari siapakah pemilik api itu, ternyata mereka adalah segerombol orang yang penuh emosi dan memburu  berlari mendatangiku. wajah mereka begitu bringas dengan berbagai senjata tajam dan obor yang menemani mereka.
"Itu dia malingnya!" seru salah seorang yang berdiri paling depan sambil memegangi obor. mungkin dialah pemimpin gerombolan itu.
"Dasar tidak tahu diuntung! sudah bagus diberi pekerjan oleh Pak Haji pemilik toserba itu, tak tahunya ia masih mau memalingi tetangganya!?" Seru yang lainnya. Baru kusadari bahwa benar perasaanku bahwa bapak-bapak itu tadi adalah seorang pencuri. Wajahku semakin lama semakin pucat dengan seiring mendekatnya mereka kepadaku.
"Iya benar! dia pencurinya. lihat barang-barang yang berada di gerobak ini. ini semua barang-barang curiannya!" seru salah seorang yang lainnya setelah ia melihat isi gerobak yang berada disebelahku. Beberapa dari mereka kemudian melihat gerobak itu untuk membuktikannya. Dan dengan raut wajah mereka membuktikan bahwa benar bahwa barang-barang itu adalah hasil curian.
"Tunggu dulu. aku benar-benar tidak tahu apa-apa!" ucapku membela diri. namun mereka semua tidak mau tahu dan akhirnya mengeroyokiku dengan membabi buta "Ayo kita bawa dia ke kantor polisi! biar dia tahu apa akibatnya kalau mencoba mencuri di desa kami" ahirnya mereka pun berbondong-bondong mengiringiku yang sudah babak belur ini ke kantor polisi. Sumpah serapah tak berhenti mereka ucapkan selagi di dalam perjalanan.
"Pak! dia telah mencuri barang-barang berharga di kampung kami! mohon dihukum seberat-beratnya dan setimpal-timpalnya" ucap salah seorang gerombolan itu sesampainya kami di kantor polisi terdekat. Lalu mereka pun pergi meninggalkanku yang diintrogasi oleh polisi dengan cara yang sangat kasar.

***

Beberapa bulan setelah kejadian penangkapan itu. Polisi sudah membuktikan bahwa memang sesungguhnya aku tidak bersalah. dan betapa mengejutkan bahwa bapak-bapak di malam itu menyerehkan gerobak itu sehingga mengantarkanku ke tahanan ini adalah seorang saudagar kaya di kampung kami yang kata orang adalah seorang pengusaha sukses. Beberapa anak buah yang membantunya di malam itu pun juga sudah tertangkap semua dan aku dibebaskan dari tuduhan ini dan dibiarkan bebas meninggalkan penjara.
Walaupun memang aku tidak berasalah, namun bukan berarati aku terbebas dari tatapan sinis mereka, orang-orang kampung itu. Namun aku tidak peduli. aku tetap berjalan menuju rumahku yang berada di sudut kampung itu.
Rumah reyot yang sepertinya sudah lama tidak diurus. Bukan salah mereka yang tidak tahu apa-apa yang telah terjadi. bukan salah nenekku pula yang sudah sangat renta bahkan untuk membantuku membereskan rumah saja dia takkan sanggup. Pintu rumah itu berdenyit ketika kubuka. Dan ketika kumasuki rumah itu sebuah suara seorang nenek-nenek memanggilku.
"Cah bagus, kamu sudah pulang?"
"Ya, nek. aku sudah pulang. nenek ada dimana? aku membawa sedikit makanan untuk kita"
"Nenek ada di kamar. Segeralah kemari. Nenek rindu sama kamu"
"Ya, nek. Aku segera kesana" setibanya disana, kulihat dia sedang terbaring lemah di atas sebuah tempat tidur berbahan kapuk. Tubuhnya semakin mengurus sehingga denyut jantungnya pun terlihat jelas olehku. wajahnya pucat dan kerputnya semakin menjadi.
"Nenek sakit? nenek sudah minum obat?" tanyaku setelah aku menghampiri tempat tidur nenek. Nenek hanya menggeleng lemah "Kenapa nenek belum minum obat? nenek kan lagi sakit" tanyaku prihatin.
"Cah bagus, nenek hanya keletihan, mungkin setelah nenek tertidur nenek akan sembuh. cah bagus tak usah kuatir"
"Tapi benar, ya. Nenek harus sembuh. Semenjak ayah ibuku meninggal dan kakak-kakak sudah pergi meninggalkan kampung ini dan merantau ke jakarta, hanya nenek yang kupunya"
"Iya, cah bagus. nenek pasti sembuh"
"Nah, sekarang nek, nenek harus makan yang banyak biar cepat sembuh" setelah itu aku bergegas ke dapur untuk mengambil peralatan makan dan segelas air. Setelah menghidangkan makanan, aku menyuapinya makan dan dia segera tidur.
***
Nenek bohong padaku! katanya dia akan cepat sembuh、 tapi mengapa penyakitnya menjadi semakin parah? bahkan untuk berdiri dan pergi ke ruang makan hanya untuk sekedar makan saja tak sanggup. Aku tidak boleh begini terus. Aku harus segera mencari pekerjaan untuk biaya berobat nenekku. tak bisa ditunda lagi.
Tanpa membuang waktu lagi aku segera meninggalkan nenek di rumah ini sendirian. Aku kembali melamar kerja di toserba milik pak haji itu namun beliau tak mau menerimaku karna predikatku sebagai bekas tahanan. Namun tak mungkin beliau langsung menolak permohonanku begitu saja. Pasti warga itu yang telah menghasutnya. Mereka memang keji! padahal mereka tidak tahu apa yang telah mereka perbuat.
Aku tak boleh menyerah dengan keadaan. Pasti masih banyak lapangan pekerjaan yang lainnya yang masih membutuhkan tenagaku. Walaupun kutahu dari begitu banyaknya lapangan kerja itu, pasti sedikit yang mau menerimaku. aku tak boleh menyerah! aku pasti bisa.
sayangnya memang tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Jangankan pekerjaan. Bahkan warga di kampungku ini tak ada yang mau meminjamkan uangnya kepadaku. Padahal kalau mereka memang tahu mengapa aku melakukan semua ini, mungkin hati mereka akan sedikit tergerak untuk membantuku. Keadaan nenek semakin parah. Dan aku semakin keras untuk mencari sebuah pekerjaan yang halal. Nenek pernah berpesan kepadaku; walaupun dunia ini memang kejam kepada kita, sebisa mungkin jangan melakukan kejahatan kepada sesama kita. karna kita tidak tahu apa masalah mereka.
akhirnya selama seminggu ini berjuang keras, akhirnya kudapatkan pekerjaan itu. Aku langsung bekerja di saat itu juga dan meminta sedikit gaji dari mandor pertambangan itu untuk makan dan berobat nenek. Aku beruntung mempunyai mandor yang baik hati seperti itu dan segera setelah membeli makanan yang layak makan dan membeli sedikit obat untuk nenek aku pulang kerumah.
***
sesampainya di rumah yang reot itu, entah mengapa tak kudengar suara nenek yang biasanya langsung tahu kalau aku telah sampai di rumah melalui derat pintu ini. Dan biasanya beliau langsung menyambutku dengan panggilan cah bagus. Namun mengapa suara itu tak ada? apakah warga sekitar yang memang sudah mengetahui keadaan nenek langsung membawa nenek untuk berobat ke puskesmas?
aku langsung mencari setiap sudut rumah kalau-kalau ternayata nenek masih ada di rumah ini. Dan ternyata dugaanku benar. Nenek masih tertidur di kamarnya dengan nyenyak. Nafasnya tidak ada dan jantungnya tidak berdetak. Namun aku masih berpikir positif kalau mungkin nenek memang sedang tertidur pulas. Langsung kusiapkan makan untuknya lalu membangunkan beliau untuk makan sebentar lalu minum obat setelah itu tidur kembali. 
setelah selesai menyiapkan makan. Aku langsung menggoyang-goyangkan tubuh nenek.
"Nek, ayo bangun. makan dulu”panggilku ambil menggoyang-goyangkan tubuh nenek yang sangat lemas dan ringan namun entah mengapa nenek sama sekali tidak bergeming. "Nek! ayo bangun, Nek. Nenek jangan bercanda!" aku semakin keras menggoyang-goyangkan tubuhnya. firasatku semakin memburuk karena nenek sama sekali tidak bergeming. Sekeras apapun usahaku untuk membangunkan nenek tetap saja tak ada hasil. Aku putus asa. mungkin nenek sudah tak ada. 
***
Hari ini, setelah seminggu aku bersikeras untuk tidak menguburkan jasad nenek, aku masih ingin tetap bersamanya. Hari ini sudah kuputuskan untuk menguburkan jasadnya supaya arwahnya bisa tenang.
Hari ini, sore ini di belakang pekarangan ruamhku, aku menguburkannya secara layak. hanya diriku dan beberapa tumbuhan liar serta matahari temaram, yang menyaksikan acara pelepasan ini. Sekarang aku tak punya apa-apa. mungkin sudah saatnya aku berjalan tanpa tujuan dan hanya menanti ajal

Kamis, 03 Juli 2014

Kancing seragam

     Suasana lorong itu masih sepi setelah beberapa menit ditinggal pergi oleh para siswanya. Cahaya matahari sore yang tersinar itu terpampang jelas di balik sebuah jendela besar dan akhirnya sinarnya menyinari kumpulan loker itu. suasana lorong itu sepi sampai-sampai yang terdengar hanya suara kumpulan burung yang kebetulan terbang melintasi bagian luar lorong itu.
     Perlahan-lahan sorang siswa datang menghampiri kumpulan loker itu. Matanya terus mengendap-endap kalau-kalau ia terpergok oleh seseorang yang tidak sengaja melihatnya. Ketika ia sampai di sebuah loker yang ditujunya, matanya masih terus mengendap-endap. Masih sama, tak ada seorangpun yang ada kecuali dirinya dan tak ada suara manusia sedikitpun kecuali suara dirinya. Dengan cepat ia mengeluarkan sebuah kunci kecil untuk membuka loker itu setelah itu ia memasukkan sebuah kotak kecil yang sedari tadi ia simpan di sakunya.
     "Tenang saja, kamu tidak akan menyadari bahwa kuncimu sempat kupinjam" gumamnya. Setelah ia menyelesaikan pekerjaannya dan mengantungi kunci kecil itu. Segera ia meninggalkan tempat itu dengan senyum yang sangat lebar.

 ***
     "Hei, kamu tahu Nino? si siwa populer itu. Aku mau kamu mencari tahu siapa saja siswi-siswi beruntung itu yang mendapatkan kancing seragamnya" perintah Nina kepada Nani.
     "Tapi buat apa? Memangnya kamu juga sama seperti mereka yang mengharapkan kancing itu? Itu, kan hanya benda mati..." ucap Nani
     "Itu lebih dari sekedar benda mati! haduh! kamu ini bagaimana, sih? Memangnya kamu gak tau apa mitos tentang si kancing itu? Makanya jangan kebanyakan baca buku-buku fiksi yang gak mutu gitu. Lihat, kan jadinya gimana? Sekarang cepat ikuti dia!"
     "Tapi nanti kalau ketahuan, gimana?"
     "Aku gak mau tahu! pokoknya ikutin dia dan kalau sampai kepergok jangan bawa-bawa nama aku"
     "Tapi kan..."
    "Cepat sebelum kotak pensil ini melayang!" lalu Nani pun segera menuruti perintah Nina.

***
Keadaan luar kelas begitu ramai. Mereka semua begitu antusias merayakan hari terakhirnya di dalam sekolah ini. Sebagian besar siswi berusaha mendapatkan kancing seragam dari siswa-siswa yang telah lama ditaksirnya. Nani yang  seumur hidupnya belum pernah merasakan jatuh cinta sampai kini masih belum mengerti untuk apa mereka semua melakukan hal seperti itu. Lagipula, kalaupun ia sedang merasakan jatuh cinta, memangnya ada yang peduli?
     Nani berjalan-jalan menyisiri setiap sudut sekolah. Kepalanya tidak mau berhenti melihat-lihat sekelilingnya untuk mencari sosok yang ditugaskan Nina. Sampai pada akhirnya ia melihat kerumunan siswi yang sangat banyak. Nani yang penasaran dengan apa yang menjadi objek kerumunan itu segera berbaur dengan mereka. Dan akhirnya ia menemukan objek pengawasannya.
     Sosok pria itu tinggi dan berisi dan juga berbentuk. Rambut pendeknya yang hitam berkilau, wajahnya yang sangat maskulin dengan rahangnya yang tegas dan warna kulitnya yang sawo matang itu membuat hampir semua siswi di sekolah ini tergila-gila padanya.
     "Berikan aku kancing seragammu, Nino" pinta seorang siswi yang berdiri di samping Nani dan disambut dengan suara siswi yang lainnya yang ada di dalam kerumunan itu. Nani tetap fokus untuk tidak kehilangan pandangannya terhadap Nino di dalam keadaan sesak seperti itu, dan ia melihat pria itu memutuskan salah satu kancing seragamnya dan memberikannya kepada salah seorang siswi yang berada tepat didepannya. Keadaan kerumunan itu makin menyesakkan karena mereka semakin agresif.
     "Fuah! akhirnya aku keluar juga dari kerumunan itu! dasar para gadis.... mengerikan sekali!" omel Nani sambil mengumpulkan nafasnya sebentar. Ketika ia sadar, ia kehilangan Nino dari pandangannya "Aduh! kemana dia?" dengan langkah cepat ia mencari sosok itu dan beberapa langkah kemudian ia menemukannya. Sambil terus mengawasi Nino, Nani mulai berfikir kali ini ia sedang memberikan kancing ketiga miliknya kepada gadis beruntung yang lainnya. Dua kancing yang diberikannya sejauh ini hanya kepada gadis-gadis idola. Mungkinkah ia juga sama seperti para siswa lainnya? Kira-kira Nina juga termasuk siswi popluler, tidak, ya? dan juga, kemanakah hilangnya kancing keduanya?
     Ternyata dugaan Nani mengenai gadis yang beruntung itu salah. Tidak semua gadis idola yang mendapatkan kancing itu. Buktinya siswi-siswi yang kurang populer juga beruntung mendapatkan kancing itu. Tapi dari keempat kancing itu tidak ada yang diberikan kepada Nina. Kepalanya tertunduk dan langkahnya pelan menuju tempat pertemuannya dengan Nina. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
      "Nino!" kejut Nani. Nino segera berdiri di depan Nani.
     "Kaget, ya? hahaha. Memangnya tidak capek, apa ngikutin aku terus? seperti tidak ada kerjaan lain saja"
     "Aku disuruh Nina. Oh iya, kamu kenapa tidak memberikan kancing seragammu kepadanya? Dan juga, kancing seragammu yang kedua itu kamu berikan ke siapa?"
     "Memanganya untuk apa aku memberikan kancingku kepadanya? Aku tidak suka padanya.  Dan kancing kedua itu, nanti kamu juga akan tahu siapa siswi itu. Bukan siswi itu yang beruntung mendapatkan kancing kedua milikku. Tapi, aku yang beruntung" lalu Nino pergi meninggalkan Nani yang keadaannya masih bingung. Nani yang tersadar dari lamunannya segera melanjutkan perjalanannya ke tempat pertemuan.

***
     "Kancingnya sudah habis" lapor Nani sesampainya di tempat pertemuan
     "Dan aku tidak mendapatkan kancing itu? Menyebalkan!" dan Nina pun terus menggerutu. Setelah berjalan mondar-mandir beberapa putaran, ia melihat Nani yang terus duduk memperhatikannya "kamu mendapatkan kancingnya?"
     "Tidak" jawab Nani polos
     "Siapa saja siswi yang beruntung itu" tanya Nina
     "Rani, Rina, Ina dan Ani" jawab Nani.
     "Huh! ya sudah. Sekarang pergi tinggalkan aku sendiri!" usir Nina dan Nani pergi meninggalkan tempat itu.

***
     Sekolah sudah jadi sepi. Semua siswa dan siswi sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Nani mengeluarkan sebuah kunci dari dalam tasnya dan membuka lokernya dengan kunci itu untuk mengosongkan tempat itu karena mulai besok sudah bukan lagi miliknya. Ketika pintunya terbuka, ia melihat sebuah kotak kecil misterius. Kotak dari kertas itu berwarna hijau muda, warna favoritnya dan dihiasi oleh pita berwarna merah muda. Dengan takut-takut penasaran  ia membuka kotak itu dan isinya adalah sebuah kancing seragam siswa dan sebuah surat kecil yang wangi. Bau itu adalah bau bunga favoritnya. Ketika ia  membaca surat itu, terkejutlah ia.

Aku sudah tahu kalau kamu pasti akan mengikutiku karena Nina
Dan kamu pasti penasaran kemanakah kancing kedua milikku telah kuberikan
kancing yang berada di genggamanmu itu adalah kancing kedua milikku.
Dijaga, ya...
(Dari Nino)

ps: aku cinta kamu



Rabu, 06 Februari 2013

Lilin

     "Dasar menyebalkan! mengapa malam ini listrik harus mati? ditambah lagi udara malam diluar sana luar biasa dinginnya. Sampai-sampai selimut setebal apapun yang membalut diriku ini tak sanggup menghangatkanku. Ah, untuk apa aku terus bersungut-sungut? lebih baik aku segera membeli sekotak lilin di warung terdekat." Lalu seorang pengembala kuda yang sedari tadi duduk dikursi malasnya dengan berbalut pakaian yang kelihatannya sangat tebal itu pun segera pergi meninggalkan kursi malasnya dan hendak keluar dari pondoknya yang tak begitu besar untuk ke sebuah warung terdekat demi mencari sekotak lilin untuk menerangi malamnya dipondok itu dan disebuah kandang kuda yang letaknya tidak jauh dari sana.


...
     "Uh, ada apa ini? mengapa ada seseorang yang menggoncang-goncang kotak ini?" ucap serbatang lilin yang terpaksa terbangun dari tidurnya didalam kotak itu. Yah memang ia tidak sendirian didalam kotak itu melainkan ia bersama dengan beberapa kawannya yang juga adalah beberapa batang lilin. Mereka semua berasal dari bahan baku yang sama, dan mereka semua juga mempunyai manfaat yang sama yaitu menjadi penerang didalam kegelapan. Menjadi penerang bagi orang yang tersesat, dan menjadi penerang bagi orang yang takut akan kegelapan. 
     walaupun kami sama sekali tidak dapat menyala lebih lama lagi karena tubuh kami yang kecil ini, namun kami selalu merasa bersyukur karena setidaknya kami telah berguna bagi banyak orang. Mungkin disaat terang kami sama sekali tidak berguna dan dihempaskan beitu saja, dan bahkan harga kami tidak begitu mahal mungkin karena bukan kalangan atas saja yang membutuhkan kami melainkan kalangan bawah pun juga mau tidak mau harus rela membuang uangnya hanya untuk membeli kami. Namun justru pada saat gelap seperti inilah mereka semua berlomba-lomba untuk mendapatkan kami. Yah, walaupun mungkin malam ini terlalu panjang untuk dapat kami lalui karena mungkin kami sudah habis meleleh sebelum kami semua dapat melihat lampu menyala ataupun matahari telah hadir menggantikan posisis bulan yang sinarnya tidak terlalu terang meskipun bintang-bintang telah rela bersusah payah untuk membantunya menerangkan malam itu.

     Jadi disinikah tempatku akan melelehkan diriku? di sebuah kandang kuda yang tidak terlalu luas dan disini hanya terdapat seekor kuda yang terbaring lemah sedangkan salah satu kaki depannya telah terbalut sebuah perban? dan hey! mengapa hanya aku saja yang harus bersinar disini? dimana kawan-kawanku? dimanakah mereka semua akan bersinar?
     "Huh! dasar kuda yang tidak berguna. Sudah tahu akan dijemput ajal masih saja menyusahkan orang! mengapa kamu tidak segera mati saja!?" Dengan bersungut-sungut ia meletakkanku di atas sebuah tempat lilin dan membakar sumbuku yang mungil lalu diletakkannya begitu saja diatas sebuah laci kecil disamping kuda yang terus saja memandangku dengan tatapan rapuhnya. Penggembala itu memang kejam! namun sesungguhnya ia telah mengatakan hal apa adanya. Bagi kuda, kaki yang kuat adalah hal yang sangat penting. Dan apabila kakinya telah terluka seperti itu dan ia sudah lanjut usia seperti itu, untuk apa ia harus tetap berjuang untuk hidup? namun apalah dayaku? disinilah tempatku harus bekerja. untuk memenuhi kewajibanku sebagai sebuah lilin.
     Malam ini anginnya bertiup dengan semakin kencang. Ah sial! mengapa ia harus datang? tak tahukah ia bahwa tingkahnya itu akan membuatku cepat meleleh? setidaknya aku masih ingin bergabung dengan teman-temanku yang juga adalah lilin. Huh! kuda ini juga sedang mendengkur. Tidak tahukah ia bahwa dengkurannya itu sangat mengganggu? wajar saja jika ia tidak mempunyai teman dan terpaksa harus hidup bersama penggembala yang sombong itu.
     Malam ini berjalan dengan semakin dingin. Hembusan angin yang memuakkan itu pun juga semakin lama semakin kencang sehingga aku pun menjadi semakin cepat meleleh. Mungkinkah kini akan mendekati pagi? ataukah kini sudah pagi buta? kudengar suara yang sangat keras berkumandang di luar sana. Dan kudengar juga derap langkah yang semakin mendekat yang arahnya berasal dari dekat pintu kandang sana. Namun semuanya berhenti dan suara langkah itu berubah menjadi suara orang bercakap-cakap. Didengar dari suaranya, sepertinya mereka hanya berdua saja. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi ini sepertinya sebuah perbincangan bisnis dimana sepertinya si penggembala itu merasakan suatu keuntungan. Entahlah, kurasakan dari pembicaraan itu kalau nantinya pasti akan terjadi sesuatu. Sesuatu yang akan menyangkut nasib kuda tua yang cacat ini. Sesuatu yang menyedihkan namun memang harus begini adanya.
     "Jadi disinikah kuda itu sekarang berada? aku ingin lihat sebesar apakah kuda itu" ucap seorang yang tengah berjalan bersama seorang penggembala itu sambil terus saja memandangi seisi kandang kuda yang bau anyir ini. Terbukti kalau penggembala kuda ini tidak peduli dengan keadaan kandang ini dan kuda ini.
     "Kudanya cukup besar tuan, saya yakin dagingnya pun juga sangat lezat. Mungkin dagingnya akan membuat bisnis anda semakin lancar" ucap penggembala itu yang terus saja berjalan bersebelahan dengan tuan yang akan membeli kuda yang masih saja tertidur disebelahku.
     Aku tidak tahu apakah kuda ini sesungguhnya mengerti akan bahasa manusia atau tidak, kuda ini hanya tertidur pulas. Kulihat didalam tidurnya yang lelap ia tersenyum. mungkin ia sudah pasrah akan apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi akan dirinya. yah, mungkin ia akan terus berguna bagi siapa pun nantinya walaupun nantinya ia tidak akan hidup lagi untuk menyaksikan semuanya.
      Akhirnya kedua orang itu sampailah pada si kuda tua ini. Ternyata si tuan itu cukup berbaik hati untuk membiarkan kuda itu untuk tidur selama-lamanya tanpa mengenal rasa sakit lagi. Ia memberikan suntikan yang bersisi racun kematian dan membiarkannya meninggal untuk dibawanya pergi meninggalkan kandang ini dengan mudahnya. Dan akhirnya terlihat segumpalan busa kecil keluar dari mulutnya. Tanpa perlawanan sekecil apapun. Penggembala itu terlihat cukup puas akan yang terjadi karena akhirnya tugasnya sebagai seorang penggembala yang harus mengurusi kuda tua ini sudah selesai. Kejadian itu cukup singkat sesingkat hidupku  ini. Tubuhku semakin pendek dan cahaya yang kuberikan semakin redup.
     Akhirnya kuda yang mati itu telah diangkut oleh penggembala sedangkan tuan pembeli itu hanya berjalan dengan anggunnya meninggalkan kandang ini. Aku tidak tahu kapan penggembala itu akan kembali lagi. Sumbuku ini semakin mengecil dan tubuhku semakin lama semakin pendek. Mungkin aku tidak akan lagi melihat teman-temanku yang tidak tahu dimanakah mereka berada. Dimanakah mereka semua disimpan dan aku bahkan tidak tahu apakah mereka masih ada ataukah telah mati karena telah dipakai semalaman penuh. Namun, aku merasa sangat puas karena telah tahu apakah tujuanku dibuat. Menemani hari akhir kuda itu dan menghangatkan malam dinginnya untuk hari terakhirnya.
     

Rabu, 23 Januari 2013

     Hari ini hujan. Hari ini mendung dan hari ini tidak panas. Apakah ini mewakili keadaanku atau tidak aku tidak tahu. kemarin mendung, kemarin hujan dan kemarin tidak panas. Apakah kemarin juga mewakili perasaanku? aku tidak tahu.
     Hahaha. Apakah benar bahkan cuaca pun mengerti perasaanku? mungkin itu hanya bohong. Mungkin Tuhan tengah mengejekku dengan cuaca-cuaca yang diberikan kepadaku. Saat itu, saat itulah ini semua dimulai.
     Saat itu aku sangat bahagia, karena akhirnya ia mau berbagi kebahagiaannya bersamaku. Yah,  sebenarnya sudah lama aku ingin ia merasa seperti itu dan di saat itu aku ada bersamanya. Saat itu aku sama sekali tidak tahu apa yang tengah terjadi namun kulihat ia sangat indah ketika ia sedang tertawa, ia sangat cantik ketika ia sedang bahagia. Dan mungkin karena itulah banyak orang yang ingin mendekatinya dan banyak orang yang ingin bersamanya. Namun tidak kusangka akan begini jadinya. searusnya aku sadar bahwa jangan pernah melihat orang dari wajahnya karena itu akan menjadi kenyataan yang sangat menyakitkan.
     Namun aku sungguh tidak peduli dengan pepatah tua seperti itu dan aku tetap memilih untuk berasamanya. Sungguh, sesungguhnya aku bukanlah seorang abnormal, namun perasaan sayangku sebagai seorang sahabat inilah yang membutakanku sampai-sampai pepatah itupun akhirnya membuka mataku.
     Saat itu,  hari berjalan seperti biasanya. matahari yang begitu panas. Aula yang begitu pengap dan suara gemuruh dari orang-orang yang berada disekitarku dan disekitarnya. Aku secara terang-terangan membuka aibku kepadanya sebagai seorang yang bodoh yang berusaha untuk menjadi orang terbaik. Namun apa?, ternyata hal itu membuatnya jijik kepadaku dan memtuskan untuk pergi menjauh dariku.
     Ditambah lagi, setelah kutelusuri ia lebih dalam lagi, ada kemungkinan yang membuatnya iri padaku (dan sampai kini akupun bingung apa yang membuatnya iri padaku). Aku mempunyai seorang kawan yang sangat rupawan sehingga wantia yang melihatnya mungkin ingin segera memilikinya. Dan apakah kedekatannya kepadakukah yang membuatnya menjauh dariku? ditambah lagi ia memang sedang dekat dengan seseorang yang sangat senang merebut semua teman-temanku.
     Kini, mungkin mereka semua tidak akan menyadari akan sakitnya perasaanku. Namun, pasti suatu saat nanti di suatu tempat mereka akan menyadari akan hilangnya diriku. Hilang dimakan waktu tanpa akan pernah melihat diriku. Aku akan hilang seperti debu yang ditiup angin. Hilang melebur dan tidak tahu dimanakah lagi ia akan singgah. Atau mungkin, mereka selamanya akan menganggapku sebagai angin lalu saja. Aku datang hanya untuk menimbulkan masalah karena yang mereka lihat adalah aku si pembuat masalah.
     Kawanku yang rupawan itu pasti juga akan termakan oleh rayuan busuknya dan menjadi membenciku. tapi... ah, untuk apa aku mengharapkan sesuatu dari dunia yang hina ini? toh, mereka semua tidak akan pernah kubawa mati karena mereka semua hanyalah fatamorgana. Sesuatu yang indah itu sangat menyakitkan. Namun sesuatu yang sangat pahit itu akan selamanya membekas.
     Langitnya masih mendung, udaranya semakin lama semakin menghilang, langitnya akan hilang digantikan oleh si putri bulan dan dayang-dayang bintang. Waktu cepat sekali berlalu, mungkin apabila aku terbangun kembali, aku akan melihat si pangeran matahari bersama prajurit-prajurit awan, dan seterusnya. Aku berharap suapaya waktu itu akan segera datang dan aku akan pergi meninggalkan mereka semua dan mendapatkan kehidupanku yang baru yang lebih indah namun yang pasti akan lebih berbahaya dan lebih menyakitkan karena keindahan itu adalah fatamorgana. Ataukah, apakah mungkin yang saat akan datang itu adalah sesuatu yang sangat indah dan benar-benar indah karena bukan fatamorgana dan aku akan menetap disana. Karena mungkin segala sesuatunya yang berada disana akan mengubah cara pandangku yang penuh dengan rasa pesimis ini.

Jumat, 14 September 2012

     Pada jaman dahulu, pada zaman kerajaan, yang namanya pendidikan itu bukanlah sesuatu yang mahal. Pendidikan itu gratis adanya. Para pemerintah itu sangat baik. Mereka tidak peduli akan betapa mahalnya biaya yang harus mereka keluarkan. Mereka hanya memikirkan bagaimana supaya rakyatmya bisa maju dan damai sentosa.
     Namun apa yang ada pada jaman dahulu dengan apa yang ada dijaman sekarang ini bedalah adanya. Pendidikan semakin mahal dan orang kaya-lah yang berkuasa. Namun apalah peduli masyarakat? tidak, mereka tidak ada pedulinya. Hanya orang-orang yang mempunya sifat dermawan-lah yang bisa mengabulkan permintaan si masyarakat kurang mampu.
     Dia, gadis itu, kulihat ia memang rajin. Sangat rajin. Aku tahu ia luar dalam. Bahkan lebih daripada apa yang ada diotak mereka yang hidup disekitarnya. Namun, apa yang mereka lihat bedalah dengan apa yang aku lihat. Mereka hanya melihat hasilnya yang sangat kurang memuaskan. Bahkan tidak memuaskan sama sekali. Yah, sesungguhnya keberuntungan ia dalam hal pendidikan itu sangatlah buruk. Toh, semua orang mempunyai keberuntungan yang buruk, kan? bukan hanya dalam pendidikan?
     Namun apapun yang ada dipikiran kehidupan sosial, orang pintar-lah yang berkuasa. Mereka tidak peduli betapa baiknya orang itu (hei, gadis ini sangat baik lho). Hanya orang-orang berhati sangat lembutlah yang dapat merasakan (berarti aku orang yang lembut). Pendidikannya sangat pas-pasan namun ia mempunyai sesuatu kepandaian yang lain yang tidak mungkin ada didalam akademi. Namun apa yang dilihat pada akademi itulah yang dilihat oleh dunia.
     Akademi hanya akan melihat dari hasil akhir. Tak usah jauh-jauh. Akademi adalah kacamata dunia dalam melihat prestasi setiap individu. Padahal, sesungguhnya akademi  belum trentu otaknya lebih encer daripada otak si individu. Namun bagaimana lagi? toh mereka hanyalah MELAKUKAN TUGAS-nya.
     Kulihat gadis itu masuk kedalam suatu ruangan kelas. Gadis itu dengan gontainya masuk kedalam. Seakan-akan ia berfikir kembali ia tidak akan lulus. Ternyata ia masuk keruangan yang sama dengan ruanganku dan kufikir ia akan kembali menjadi teman sekelasku. Dan ternya benar. Ia sekarang kembali menjadi teman sekelasku.
     Kulihat ada sedikit harapan muncul dari wajahnya. harapan kalau kali ini ia akan lulus. Aku juga berharap kali ini ia akan lulus. Namun kembali seperti awal tadi, apa yang diharapkan oleh si gadis belum tentu menjadi keinginan si pemberi nilai. Ingat, apa yang mereka inginkan itulah yang harus menjadi kenyataan. Ia dengan tekun berusaha mengerti apa yang dikatakan oleh si dosen, ia menulis beberapa hal yang penting yang ia dapat dari kuliah itu dan ia membacanya ulang.
     Hal rutin itu menjadi pemandanganku setiap berada dikelas itu. Sudah 4 bulan ia melakukan itu. Di kelasku, di depanku, di jam yang sama. Kini tibalah ujian penentuan itu. Ujian yang sesungguhnya agak kurang penting karena itu hanyalah satu ujian. Yah, namun ujian itu adalah ujian penentu apakah kita pantas lulus, atau hanya beberapa dari kami sajalah yang diperbolehkan lulus? ujian itu, hanya diberi waktu selama 2 jam. Beberapa dari kami kelihatan sudah menyerah. Beberapa dari kami sudah mengumpulkan hasilnya. Bagiku, sesungguhnya 2 jam itu adalah waktu yang cukup lama untuk mengerjakan sekumpulan dari soal-soal ini sehingga bahkan dalam setengah dari waktu yang diberikan aku sudah menyelesaikannya terlebih dahulu.  Namun aku malas untuk keluar dan aku memilih untuk melihat gadis itu terlebih dahulu.
     Gadis itu, gadis yang sedikit memberi kekuatan pada kami yang lemah, tengah berduka. Pucat, dan hampir menangis melihat sekumpulan soalnya. Kuyakin, ia pasti kembali tidak dapat menjawab soal-soal itu. Pendidikan itu memanglah tidak adil. Namun ia adil. Walaupun ia tidak bisa, namun ia tidak seperti sebagian dari kami yang melakukan kecurangan. ia tidak mencontek maupun bekerja sama. Pengawasan di kampus ini sangat payah. Sehingga semua orang diberikan kebebasan untuk mencontek tanpa sepengetahuan dari si pengawas.
     Tibalah saat yang memuakan itu. Hasil akhir telah diberitahukan. Yah, aku bilang inilah saat yang memuakkan karena tidak semua orang kelihatan berbahagia. Terutama gadis itu. Ia menangis dalam diam. Ia kembali tidak lulus.

   

Sabtu, 08 September 2012

Penantian panjang untuk tak yang pasti

     Penantian panjang untuk suatu yang pasti. Aku terus memandangi layar komputer ini. Aku terus memandanginya dengan wajah harap-harap cemas "kapan ya akan datang" lamunku. Namun sayangnya waktu tak mau menunggu dan sebentar lagi waktu itu akan habis.
     Kupandangi lagi keesokan harinya. Masih di depan layar komputer. Dengan komputer yang berbeda, waktu yang berbeda, dan tempat yang berbeda. Namun masih dengan website yang sama. Sungguh, sesungguhnya bagi sebagian orang (atau mungkin sebagian besar orang) Penantianku ini cukuplah konyol dan terlalu berlebihan untuk dikhawatirkan mengingat banyak hal yang menurut mereka lebih penting daripada ini. Namun, hei! semua orang itu mempunyai masalahnya masing-masing dan mereka tidak pantas untuk menyamakan masalah mereka kepada diriku.
     Namun semalam aku telah memikirkan apa yang membuat mereka seperti itu. Egokah? ingin sekali berkata bahwa bukan karena ego. Namun pada kenyataannya, memang egolah yang mewakili semua ini. Egolah yang membuat kita kurang puas akan apa yang telah kita peroleh. Egolah yang membuat sebagian orang menjadi serakah dan egolah yang membuat manusia menjadi bukan manusia. dan kalau dipikirkan kembali,  sepertinya mereka juga harus mempelajari arti seni yang sebenaranya.
     Kembali lagi dengan diriku yang masih menatap layar komputer ini. Yah, aku melihat sendiri kenyataan yang mengatakan bahwa orang kaya adalah orang yang berkuasa. Hal itu memang terjadi karena mereka dapat mengubah segala sesuatu, menyelenggarakan segala sesuatu dan melakukan sesuatu sesuai kehendaknya. Mereka takkan segan-segan untuk menginjak dibawahnya namun yang berada dibawahnya takkan sanggup untuk membantingnya.
     Kini sudah kelima harinya aku memandangi layar komputer ini. Tidak ada yang berbeda. Semuanya masih sama saja. Mata hatiku semakin nanar dibuatnya. Namun mereka tidaklah peduli. waktu terus berjalan dan saat itu hampir tiba. Tinggal saja menunggu hari yang semakin mendekat ini dan semuanya tentulah akan membuat penyesalan yang tak ada akhir. Hidup kembali dengan tekanan dan mereka tidak peduli. Kalaupun ada, mereka hanya ingin mendengar. Mereka hanya ingin melihat. Sebentar saja menatap miris namun sangat lama meninggalkan beban. Dan yah, mereka beberapa saat lagi akan tertawa puas